China-Taiwan Makin Tegang karena Pelosi, Bagaimana Reaksi Berbagai Negara?

China merespons kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan dengan menggelar latihan militer besar-besaran di enam titik perairan yang mengelilingi Taiwan.

Latihan dilakukan sejak Jum'at (5/8/2022) pagi dengan mengerahkan sekitar 10 kapal dan 20 pesawat tempur di selat yang membatasi antara Taiwan dan China.

Dalam latihan sehari sebelumnya, Kamis (4/8/2022) China juga mengerahkan dan menembakan 11 rudal balistiknya ke selat yang membatasi China dan Taiwan.

Bagi Beijing ini respons yang sesuai menanggapi kunjungan Pelosi. Lantas bagaimana sikap sejumlah negara dan komunitas internasional terkait kunjungan Pelosi?

Korea Utara: AS Terlalu Ikut Campur

Korea Utara yang merupakan sekutu dekat China mengecam kunjungan Pelosi ke Taiwwan. Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyatakan kunjungan Pelosi sebagai campur tangan yang tidak bijaksana atas konflik China dan Taiwan.

Korea Utara yang bekerja sama dengan China melalui jalur ekonominya, menyatakan dukungan penuh terhadap China. Korea Utara bahkan mencela dengan keras tindakan nekat Pelosi.

“Adalah hak negara berdaulat untuk mengambil tindakan balasan terhadap gerakan kekuatan luar yang secara terbuka mencampuri urusan dalam negerinya dan menghancurkan integritas teritorialnya” ungkap salah satu pejabat di Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang dikutip melalui KCNA.

Rusia: AS Provokator

Rusia yang dalam beberapa tahun terakhir menjalin kerjasama erat dengan China meyatakan akan mendukung penuh China. Rusia menganggap tindakan Pelosi ke Taiwan sangat provokatif.

“Amerika Serikat adalah provokator negara bagian. Rusia menegaskan prinsip ‘satu China’ dan menentang kemerdekaan pulau itu (Taiwan) dalam bentuk apapun,” terang Maria Zakharova, juru bicara kementerian luar negeri Rusia dikutip Reuters.

Jepang Ikut Protes China

Awalnya Jepang merespons datar kunjungan Pelosi ke Taiwan. Jepang berharap polemik ini dapat diselesaikan secara damai.

“Kami berharap, masalah mengenai Taiwan akan diselesaikan secara damai melalui dialog,” ujar Sekretaris Kabinet Jepang Hirozaku Matsuno dikutip melalui Kyodo News.

Namun belakangan Jepang ikut sewot juga dengan latihan militer besar-besaran yang dilakukan China. Pasalnya, rudal-rudal balistik yang ditembakan China beberapa ada yang jatuh di wilayah zona ekonomi ekslusif mereka.

Jepang telah mengirimkan nota protes langsung ke China atas tindakan militer dan menilai bahwa hal ini dapat mengganggu stabilitas keamanan kawasan.

Uni Eropa di Belakang Taiwan

Uni Eropa khawatir konfrontasi militer China dan Amerika Serikat akan membuat fokus penyelesaian perang Rusia-Ukraina teralihkan.

Saat ini, sedikitnya terdapat 100.000 pasukan AS berada di daratan Eropa yang siaga untuk menghadapi invasi Rusia ke Ukraina. Namun, jika terjadi konflik di Asia, tidak menutup kemungkinan AS akan mengubah prioritas perhatiannya.

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock baru-baru ini mengatakan tekanan China terhadap Taiwan adalah "tantangan serius" bagi tatanan global.

Sementara itu Jorge Toledo, pejabat di Uni Eropa memastikan mereka akan berada di pihak AS dan Taiwan jika peran terjadi.

"Jika terjadi invasi militer, kami telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa Uni Eropa (UE), dengan Amerika Serikat dan sekutunya, akan menerapkan tindakan serupa," kata Jorge Toledo, Duta Besar Uni Eropa untuk China, dikutip Straittimes.

Para Menlu ASEAN Ingin Ketegangan Diturunkan

Para Menteri Luar Negeri ASEAN yang sedang menggelar pertemuan ke-55 di Phnom Penh, Kamboja ikut membas ketegangan China-AS.

Pertemuan ini awalnya diselenggarakan untuk membahas krisis berdarah di Myanmar. Namun, pembahasan juga akan mengarah ke upaya mengurangi ketegangan China-AS yang muncul akibat kunjungan Pelosi.

Kung Phoak, Menteri Luar Negeri Kamboja bilang pada pertemuan kali ini akan berusaha menekan ketegangan yang terjadi antar dua negara. 

“Sehingga situasi di Taiwan akan stabil, yang tidak akan mengarah pada konflik dan tidak akan meningkatkan panas politik di antara semua pihak terkait,” harap Kung yang dilansir dari AFP.

KOMENTAR

SELANJUTNYA

TERPOPULER