Advertisement

Punk Padang Melawan Dunia

22 July 2025 13:25 WIB

thumbnail-article

Syaitonerojeem memainkan gitar saat latihan di studio, pada Rabu (25/6/2025). Gitar ini, sering dipakai olehnya saat manggung untuk menyuarakan keresahan Wafaq melalui lirik-lirik, terhadap penindasan yang terjadi kepada kaum lemah. Sumber: LPM DKTV/Irvan Mufadhdhal Zulis..

Penulis: Tim LPM DKTV

Editor: Akbar Wijaya

Dari lorong sempit ke solidaritas global: Wafaq dan denyut perlawanan yang tak mau diam.

Distorsi menggema dari ruang sempit berukuran 4x4 meter di sudut kota Padang. Udara pengap, dinding berdebu, dan lampu temaram menjadi saksi bisu semangat yang menyala—bukan sekadar untuk bermain musik, tetapi untuk menyuarakan perlawanan. Di ruangan itulah, Wafaq memainkan gitarnya dengan cara yang tak lagi bisa dianggap sekadar kebisingan. Musik mereka adalah jerit kolektif dari generasi yang menolak tunduk.

Wafaq, band hardcore punk asal Padang, memilih jalan yang tak lumrah: menyuarakan kegelisahan umat dan ketidakadilan global lewat musik yang kerap distigma kasar, destruktif, bahkan sesat. Namun di balik stigma itu, mereka berdiri sebagai pengejawantahan suara umat, dengan pesan yang tajam dan intens. Mereka memetik inspirasi dari Intifada Palestina—bukan hanya sebagai kisah perlawanan bersenjata, melainkan simbol solidaritas universal terhadap penindasan dan kolonialisme.

“Hardcore punk terbentuk dari kesadaran anak muda, dari semangat kolektif, bukan sekadar gaya,” ujar Syaitonirojeem, sang gitaris, di tengah sesi latihan mereka. Baginya, panggung bukanlah tempat untuk sekadar headbang. Ia adalah mimbar, tempat menyuarakan yang terbungkam.

Kegelisahan mereka merentang dari penggusuran dan perampasan ruang hidup, hingga kebebalan sistem yang membatu. Bagi Wafaq, perjuangan lokal dan global tidak dapat dipisahkan—“satu tarikan napas,” begitu ungkap mereka.

Dalam semangat itu, Wafaq berdiri sebagai simbol bahwa punk Padang melawan dunia. Mereka tidak sekadar bermain musik keras dari pinggiran Sumatra Barat, melainkan mengangkat suara rakyat tertindas dari Palestina hingga Papua, dari lorong sempit Padang hingga panggung-panggung komunitas yang tak pernah diliput media nasional.

Punk: Dari London ke Lorong

Gerakan punk, sejak kelahirannya di Inggris dan Amerika pada pertengahan 1970-an, memang tak pernah sekadar soal musik. Ia lahir dari amarah kelas pekerja, frustrasi kaum muda, dan perasaan kehilangan masa depan dalam sistem yang tidak berpihak. The Clash, Dead Kennedys, dan Crass bukan hanya menulis lagu, tetapi membangun kesadaran—tentang perang, fasisme, kapitalisme, dan penjajahan.

Di Indonesia, gelombang punk mulai masuk pada akhir 1980-an, tapi menemukan nafas perlawanan sejatinya pada era Reformasi. Di Padang, seperti juga di banyak kota lain, punk tak hanya menjadi jalan alternatif untuk berpakaian dan bermusik, tapi jalan sunyi menuju pembebasan batin, ruang belajar bersama, dan media kritik sosial yang sulit ditemukan di tempat lain.

Wafaq mewarisi semangat itu—tapi dengan warna lokal yang tajam dan politis. Mereka melihat Palestina bukan sebagai isu jauh di luar negeri, tapi sebagai cermin dari luka-luka yang juga mereka alami: penggusuran warga miskin kota, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, penguasaan tambang, perampasan lahan, dan kekerasan negara.

Palestina: Genosida dalam Sunyi

Sejak 1948, ketika lebih dari 700 ribu rakyat Palestina diusir paksa dalam peristiwa Nakba, luka itu terus melebar. Penjajahan Israel terhadap tanah Palestina berlangsung bukan hanya lewat senjata, tapi juga lewat perampasan tanah, pembatasan gerak, dan pembungkaman budaya. Genosida bukan hanya ketika peluru ditembakkan, tetapi ketika hidup dikekang dan masa depan dicabut.

Wafaq membaca sejarah itu dengan serius. Mereka menyerapnya ke dalam lirik, riff gitar, hingga desain sampul album. Baginya, Intifada adalah simbol: bahwa batu bisa menghadapi tank, dan suara kecil bisa melawan kekuasaan global. Di mata mereka, musik adalah ladang dakwah kesadaran, tempat untuk menanam semangat anti-kolonialisme yang tidak berhenti pada batas negara.

Proses kreatif Wafaq dibangun dari pembacaan yang teliti dan refleksi mendalam. Literatur sejarah, buku-buku kontemporer, hingga kisah-kisah kemanusiaan menjadi rujukan utama. Peristiwa Nakba, Intifada pertama, dan buku-buku kajian kolonialisme menjadi bahan bakar ideologis dalam karya mereka. Mereka membaca dalam senyap, mengolah dalam bunyi, dan menyampaikan dalam dentuman keras.

Referensi musikal mereka pun melampaui batas geografis. Nada-nada punk dari Maroko, Pakistan, Jerman, hingga Amerika mereka cangkokkan ke dalam irama yang cepat dan tidak kompromistis. Di mata mereka, Timur Tengah bukan sekadar medan konflik, tapi arena pertempuran antara hegemoni global dan perjuangan akar rumput.

Namun jalan ini tidak pernah mulus. Tantangan pertama adalah literasi. Banyak sumber sejarah hanya tersedia dalam bahasa asing. Wafaq harus membongkar sendiri—membaca, menerjemahkan, dan menafsirkan. Tapi, bagi mereka, ini adalah harga dari kesadaran.

Bagi Wafaq, punk bukan sekadar genre, melainkan pilihan hidup yang sadar dan bertanggung jawab. “Tidak semua punk identik dengan alkohol, obat-obatan, atau gaya hidup destruktif,” terang Syaitonirojeem. Punk justru mereka maknai sebagai ruang paling jujur untuk menyampaikan keresahan sosial.

Semangat DIY (do it yourself) menjadi nadi gerakan mereka. Wafaq menolak ketergantungan pada sponsor, terutama dari industri yang mereka nilai eksploitatif. Untuk mendanai kegiatan, mereka menjual merchandise buatan sendiri. Kemandirian menjadi bentuk protes mereka terhadap komersialisasi musik yang sering kali mereduksi pesan menjadi sekadar kemasan.

Estetika visual pun tak luput dari perhatian mereka. Poster dan sampul album Wafaq dipenuhi aksara Arab, ornamen klasik Timur Tengah, dan simbol-simbol dari sejarah perlawanan. Semua itu dirangkai bukan sekadar untuk mempercantik, melainkan sebagai medium naratif yang memperluas pesan mereka ke ranah visual.

Zine, Lorong, dan Jalan Keluar

Di tengah geliat Wafaq, seorang pengamat punk lokal bernama Yanes menjadi saksi perjalanan panjang skena ini. “Wafaq membawa semangat perlawanan itu ke level yang lebih tinggi. Kesadaran tentang isu sosial, menginspirasi mereka untuk menulis lirik-lirik yang menyuarakan penderitaan rakyat tertindas, terutama bagi warga Palestina. Selain itu, lewat hardcore punk dapat menguatkan sistem kolonialisme,” pungkasnya.

Yanes adalah bagian dari generasi yang menyaksikan titik emas skena punk Padang pada 2010. Kala itu, banyak kolektif bermunculan. Band-band merilis karya secara independen dan menolak tawaran sponsor dari industri rokok. “DIY bukan sekadar metode produksi, tapi adalah etos hidup,” tegasnya.

Bagi Yanes, punk telah menyelamatkannya dari kemungkinan tenggelam dalam gaya hidup destruktif. Dari punk, ia belajar solidaritas, jaringan, dan spiritualitas yang membumi. Ia menemukan bahwa kesadaran politis tak selalu hadir dari ruang kuliah, tetapi justru dari panggung-panggung kecil dan interaksi komunitas.

Yanes juga turut membangun zine independen bernama Realizine pada awal 2000-an. Bersama rekan-rekannya, ia menyusun halaman demi halaman dengan teknik cut and paste dari majalah bekas. Tanpa Photoshop. Tanpa dana besar. Tapi penuh gairah.

Meski kini ruang-ruang alternatif makin menyempit dan punk kadang hanya jadi tren, Yanes dan para pelaku skena percaya bahwa nilai harus dijaga. Punk, bagi mereka, bukan mode sesaat, melainkan gerakan yang menuntut keberpihakan.

“Punk tidak cukup hanya berteriak di atas panggung,” katanya, “punk harus hadir dalam perjuangan melawan perampasan ruang hidup, eksploitasi tambang, penggusuran, dan penindasan lainnya.”

Yanes pun percaya bahwa spiritualitas dan punk tidak harus saling menegasikan. Ia mencontohkan komunitas Krishna Core di Amerika dan skena punk Muslim di Indonesia. “Punk tidak membatasi. Asal semangatnya jelas, kamu bebas menafsirkan jalanmu sendiri,” ujarnya.

Harapan itu belum padam. Selama nilai-nilai kemandirian, kolektivitas, dan kesadaran dijaga, skena punk Padang akan tetap hidup. Punk adalah ruang untuk membebaskan diri—dari sistem, dari ketakutan, dan dari penyeragaman budaya yang membius.

Dan selama masih ada gitar punk yang meraung, selama masih ada lirik yang menampar, suara perlawanan akan terus hidup—di lorong-lorong sempit, di gig kecil, di zine hitam-putih, dan di dada-dada yang tak mau tunduk.

“Selama masih ada yang berani bersuara, selama gitar punk masih berdentum, perlawanan tidak akan pernah padam.”
—Yanes

Laporan ini didukung Kedutaan Besar Australia lewat kolaborasi bersama Narasi Academy.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement