Tan Shot Yen, seorang ahli gizi, memberikan kritik terhadap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tak memanfaatkan bahan pangan lokal. Alih-alih, menu MBG banyak diisi dengan makanan ultra proses, seperti daging olahan di menu burger.
"Maaf ya, itu isi burgernya kastanisasi juga. Kalau di pusat biar keliatan bagus pakai chicken katsu, tapi coba yang di daerah yang SPPG-nya juga agak sedikit main, dikasih itu loh, benda tipis berwarna pink," kata Tan saat rapat bersama komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin (22/9/2025). "Daging pink" yang ia maksud adalah lembaran daging olahan berwarna merah muda yang biasa digunakan sebagai isian burger
Tan menyoroti pentingnya mempertimbangkan kandungan gizi serta dampak kesehatan dari jenis makanan tersebut.
"Saya aja enggak pernah mengatakan ini adalah daging olahan, saya aja nista bilang itu daging olahan, saya enggak tahu itu produk apaan. Itu rasanya kayak karton warnanya pink," lanjutnya.
Lalu, apa yang sebenarnya dimaksud dengan daging olahan? Apa saja jenis-jenisnya, dan apa risikonya bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan?
Apa itu daging olahan?
Daging olahan adalah daging yang telah melalui proses pengolahan seperti pengawetan, pengasapan, penggaraman, atau penambahan bahan kimia lainnya. Tujuan dari proses ini adalah untuk memperpanjang umur simpan daging serta meningkatkan rasa.
Berbeda dengan daging segar yang merupakan daging yang tidak melalui proses pengolahan, sehingga lebih sehat jika dibandingkan dengan daging olahan. Daging segar cenderung memiliki kadar nutrisi yang lebih baik dan tidak mengandung bahan pengawet yang berpotensi berbahaya untuk kesehatan.
Beberapa contoh jenis daging olahan yang umum ditemui di pasaran adalah sosis, kornet, daging kalengan, dan patty burger. Makanan ini seringkali menjadi pilihan praktis karena kemudahan dalam penyajiannya. Namun, penting untuk memahami konsumsi daging olahan secara berlebihan dapat menimbulkan sejumlah risiko kesehatan.
Baca Juga:Profil Dr. Tan Shot Yen yang Kritik MBG: Menyoroti Kualitas Makanan dan SDM Pengelola Program
Risiko mengonsumsi daging olahan
Risiko kanker dan penyakit jantung
Konsumsi daging olahan telah dikaitkan dengan risiko peningkatan beberapa penyakit serius, termasuk kanker usus dan penyakit jantung. Hal ini disebabkan oleh adanya bahan kimia berbahaya yang terdapat dalam daging olahan dan juga hubungan dengan pola makan yang tidak sehat.
Kandungan zat berbahaya
Kelebihan daging olahan adalah kemudahan dalam penyajiannya, tetapi di balik ini terdapat banyak kandungan berbahaya seperti nitrit, natrium, dan lemak jenuh. Sebagian dari senyawa ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko berbagai penyakit, termasuk tekanan darah tinggi dan obesitas.
Dampak kesehatan jangka panjang
Dalam jangka panjang, mengonsumsi daging olahan dapat memberikan dampak buruk yang signifikan terhadap kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mengonsumsi daging olahan memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kesehatan serius, seperti diabetes tipe 2 dan gangguan kardiovaskular.
Pedoman konsumsi daging olahan
Belum ada kesepakatan terkait batasan aman dalam mengonsumsi daging olahan. Namun, umumnya disarankan untuk membatasi asupan daging olahan dan tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Pola makan yang sehat seharusnya tidak memasukkan daging olahan sebagai makanan sehari-hari.
Sebagai alternatif, konsumen dapat memilih daging segar atau protein nabati seperti kacang-kacangan dan tahu. Pilihan ini tidak hanya lebih sehat tetapi juga berkontribusi pada pola makan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Ketika memilih produk daging, penting untuk membaca label dan memilih produk dengan kandungan sodium yang lebih rendah. Memilih daging segar atau organik dapat menjadi langkah yang lebih baik untuk kesehatan dibandingkan dengan daging olahan yang mengandung banyak bahan tambahan.
