Takdir dalam Islam merujuk pada ketetapan Allah SWT mengenai segala sesuatu yang akan terjadi dalam kehidupan makhluk-Nya. Pengertian ini termasuk dalam rukun iman, di mana seseorang harus meyakini bahwa segala yang terjadi adalah keputusan dan kehendak Allah.
Takdir kadang dijelaskan sebagai qada (ketentuan) dan qadar (ukuran). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa ketentuan-Nya.
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (QS. Al-Hadid: 22).
لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (lauh mahfuzh),” (QS. Saba’: 3).
Dengan merujuk pada ayat di atas apakah takdir bisa di rubah dalam Islam?
Apakah Takdir Dapat Dirubah dalam Islam?
Dalam Islam, takdir dikategorikan menjadi dua jenis utama: takdir mubram dan takdir mu'allaq. Takdir mubram adalah ketetapan yang tidak dapat diubah, sementara takdir mu'allaq adalah yang dapat berubah tergantung pada usaha dan doa dari individu.
Pemahaman mengenai takdir yang dapat diubah dapat ditelusuri melalui konsep ikhtiar. Seorang muslim diajarkan untuk berusaha dan berdoa, karena Allah SWT memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk berikhtiar meraih kebaikan.
Meskipun hasil akhirnya adalah ketentuan-Nya, proses usaha dan doa sangat penting dalam meraih takdir yang lebih baik.
Takdir mubram mencakup hal-hal yang telah ditentukan tanpa kemungkinan untuk diubah. Contoh nyata dari takdir mubram adalah kematian dan kelahiran. Misalnya, tidak ada seseorang yang dapat memilih tanggal lahir atau kapan ia akan meninggal. Semua itu sudah ditetapkan oleh Allah SWT.
Berbeda dengan takdir mubram, takdir mu'allaq adalah ketetapan yang masih bisa diubah melalui usaha dan ikhtiar manusia. Misalnya, seseorang yang sedang sakit masih memiliki kemungkinan untuk sembuh jika ia berusaha untuk berobat dan mematuhi nasihat medis. Di sini, ikhtiar menjadi penting untuk mencapai takdir yang lebih baik.
Contoh takdir dalam kehidupan sehari-hari meliputi berbagai peristiwa yang mungkin dapat diubah. Seseorang mungkin ditakdirkan untuk mengalami kegagalan dalam bisnis, tetapi melalui kerja keras dan usaha yang maksimal, ia bisa mengubah nasibnya menjadi sukses.
Sebab itulah dalam suatu hadis diceritakan jawaban Rasulullah ﷺ pada orang yang bertanya apakah berobat bisa menolak takdir? Selengkapnya sebagai berikut:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ رُقَى نَسْتَرْقِي بِهَا، هَلْ تَرُدُّ مَنْ قَدَر اللَّهِ شَيْئًا؟ فَقَالَ: "هِيَ مِنْ قَدَرِ الله"
"Wahai Rasulullah ﷺ, apa pendapatmu tentang ruqyah (doa penyembuhan) yang kami lakukan, apakah ia bisa menolak takdir Allah? Rasulullah ﷺ menjawab: Ruqyah itulah bagian dari takdir”. (HR Turmudzi).
Dalam kesimpulannya, pemahaman tentang takdir dalam Islam mengajarkan umatnya untuk menerima ketentuan Allah dengan sabar, sambil terus berusaha dan berdoa untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Keyakinan akan adanya takdir mubram dan mu'allaq memberikan dorongan bagi individu untuk tidak berhenti dalam berupaya menciptakan perubahan positif dalam hidupnya. Semua ini merupakan bagian dari ujian dan perjalanan seorang hamba dalam mengejar keridhaan dan kebahagiaan yang hakiki.
