Takbiran Idul Adha merupakan seruan pujian yang mengagungkan kebesaran Allah SWT, yang dilakukan umat Islam sebagai bagian dari perayaan Hari Raya Idul Adha. Fungsi utama takbiran ini adalah sebagai bentuk pengagungan dan pengingat akan kebesaran Sang Pencipta.
Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk mengagungkan-Nya dan bersyukur atas petunjuk yang diberikan melalui bacaan takbir. Takbiran menjadi ungkapan syukur yang kuat, sekaligus sarana meningkatkan kesadaran dan ketakwaan kepada Allah.
Selain itu, takbiran juga menjadi media memperkuat ikatan spiritual dan menyambungkan hati setiap Muslim dalam kebersamaan menyambut momen penuh berkah ini. Dengan mengumandangkan takbir secara berjamaah, umat Islam meneguhkan rasa persaudaraan serta memperdalam kekhusyukan dalam menyambut hari raya.
Keutamaan takbiran tidak hanya dalam peningkatan pahala, tapi juga dalam mempererat ukhuwah Islamiyah serta menumbuhkan rasa syukur yang tulus atas nikmat dan rahmat Allah SWT.
Bacaan Takbiran Idul Adha
Salah satu bentuk takbir yang dianjurkan terutama dalam malam dan hari raya Idul Adha adalah bacaan takbir yang dilafalkan tiga kali secara berurutan. Imam An-Nawawi dalam kitabnya "Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab" menjelaskan bentuk takbir yang populer di kalangan ulama Syafi’i ini:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar
Artinya: "Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar."
Bacaan Takbir Versi Panjang
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa di dalam masyarakat terdapat lafal takbir yang lazim dan bahkan sering dibaca atau dikumandangkan masyarakat. Lafal ini tidak masalah dan cukup baik untuk dibaca. Berikut lafalnya:
.اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.
Artinya: Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.
Bacaan Takbir Versi Panjang dengan Zikir Tambahan
Selain conth bacaan takbiran sebelumnya, terdapat takbir versi panjang yang meliputi tambahan zikir dengan lafadz-lafadz pujian dan syukur yang mendalam. Bacaan ini juga berasal dari riwayat zikir Rasulullah SAW di Bukit Shafa dan populer dipraktikkan oleh banyak umat Islam dalam menyambut Idul Adha:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ
Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, lā ilāha illallāhu wa lā na‘budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīna wa law karihal kāfirūn, lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa‘dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzāba wahdah, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya: Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore. Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya. Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar.
Bacaan ini mengandung isi tauhid yang sangat penting sebagai penegasan keesaan Allah, wujud syukur, serta pengagungan pada kebesaran-Nya. Semua lafadz tersebut mengandung makna mendalam sekaligus menjadi sarana menyucikan hati dan niat dalam mengabdi kepada Allah SWT.
Waktu dan Tata Cara Pelaksanaan Takbiran
Dalam pelaksanaan takbiran Idul Adha, terdapat dua jenis waktu pembacaan yang dikenal, yaitu takbir mursal dan takbir muqayyad.
-
Takbir Mursal adalah takbir yang tidak terikat dengan waktu salat atau ibadah tertentu. Takbir ini dapat dilantunkan kapan saja selama periode tertentu, seperti mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga malam sebelum hari raya Idul Adha. Takbir mursal biasa dikumandangkan di masjid, mushola, atau di rumah untuk menambah kehangatan suasana menyambut Idul Kurban.
-
Takbir Muqayyad adalah takbir yang dianjurkan dilakukan tepat setelah menunaikan salat wajib, baik fardu maupun sunnah. Untuk Idul Adha, takbir muqayyad dimulai pada pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) sampai sore hari tanggal 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik terakhir). Ini merupakan bentuk takbir yang disyariatkan dan dilakukan dalam rangka memperingati peristiwa penting dalam ibadah haji dan Idul Adha.
Takbiran Idul Adha dianjurkan dimulai sejak terbenam matahari malam 9 Dzulhijjah (malam Hari Arafah) atau malam 10 Dzulhijjah (malam Idul Adha itu sendiri), kemudian dilanjutkan sampai tanggal 13 Dzulhijjah setelah salat ashar. Hal ini sesuai dengan ketentuan bahwa masa Hari Tasyrik adalah tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Pada malam takbiran, biasanya umat Islam melaksanakan pawai keliling sambil membaca dan mengumandangkan takbir untuk menambah rasa suka cita serta mempererat tali silaturahmi antar sesama.
Adab dan Cara Bertakbir yang Dianjurkan
Beberapa adab yang dianjurkan ketika bertakbir antara lain:
-
Niat yang Ikhlas
Melaksanakan takbir dengan niat mengagungkan Allah dan merayakan kebesaran-Nya. -
Membaca dengan Suara Jelas dan Teratur
Takbir perlu dilantunkan dengan suara yang jelas, baik secara individu maupun berjamaah agar terasa khusyuk dan hikmat. -
Menghindari Berlebihan Atau Bercanda
Takbir tidak untuk dijadikan ajang berisik atau main-main, melainkan bentuk ibadah yang serius dan penuh penghormatan. -
Mengikuti Ketentuan Waktu
Membaca takbir sesuai waktu yang ditentukan agar ibadah takbiran berjalan dengan sempurna dan sesuai sunnah. -
Menghindari Perdebatan atau Perselisihan
Takbiran hendaknya menjadi sarana persatuan, bukan justru menimbulkan perpecahan dalam komunitas umat Islam.
