Advertisement

Bolehkah Mengganti Puasa Ramadhan Setelah Nisfu Syaban? Ini Penjelasannya

18 February 2025 12:05 WIB

thumbnail-article

Freepik .

Penulis: Elok Nuri

Editor: Elok Nuri

Masih banyak pertanyaan yang sering ditanyakan oleh umat Muslim salah satunya hukum mengganti puasa Ramadhan seteleh Nisfu Syaban? pertanyaan ini kerap muncul karena ada hadits yang menyebut larangan berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a tersebut berbunyi, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا اِنْتَصَفَ شَعْبَانَ فَلَا تَصُومُوا. (رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ) 

Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, sungguh Rasullah saw bersabda: ‘Ketika Sya’ban sudah melewati separuh bulan, maka janganlah kalian berpuasa’.” (HR Imam Lima: Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Lantas, bolehkah berpuasa, khususnya puasa qadha Ramadhan, di separuh terakhir bulan Syaban? berikut adalah ulasan lengkapnya yang Nrasi himpun dari berbagai sumber

Hukum Mengganti Puasa Ramadhan Setelah Nisfu Syaban

Mengutip dari NU Online menerangkan jika terdapat perbedaan ulama perihal berpuasa setelah melewati malam pertengahan bulan Syaban (tanggal 16 Syaban).

Pendapat pertama, Syekh Wahbab al-Zuhaili dalam Fiqhul Islami wa Adillatuhu menjelaskan, ulama mazhab Syafi'i mengharamkan puasa setelah Nisfu Syaban karena dianggap sebagai hari syak (hari yang meragukan).

قال الشافعية: يحرم صوم النصف الأخير من شعبان الذي منه يوم الشك، إلا لورد بأن اعتاد صوم الدهر أو صوم يوم وفطر يوم أو صوم يوم معين كالا ثنين فصادف ما بعد النصف أو نذر مستقر في ذمته أو قضاء لنفل أو فرض، أو كفارة، أو وصل صوم ما بعد النصف بما قبله ولو بيوم النص. ودليلهم حديث: إذا انتصف شعبان فلا تصوموا، ولم يأخذبه الحنابلة وغيرهم لضعف الحديث في رأي أحمد

Artinya: Ulama mazhab Syafi'i mengatakan, puasa setelah Nisfu Syaban diharamkan karena termasuk hari syak, kecuali ada sebab tertentu, seperti orang yang sudah terbiasa melakukan puasa dahar, puasa Daud, puasa Senin-Kamis, puasa nadzar, puasa qadla, baik wajib ataupun sunah, puasa kafarah, dan melakukan puasa setelah Nisfu Syaban dengan syarat sudah puasa sebelumnya, meskipun satu hari Nisfu Syaban.

Sementara itu ulama lain, khususnya selain madzhab Syafi’i, hadits di atas dianggap lemah dan termasuk hadits munkar, karena ada perawi haditsnya yang bermasalah. Dengan demikian, sebagian ulama tidak melarang puasa setelah nisfu Sya’ban selama dia mengetahui kapan masuknya awal Ramadhan. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan: 

وقال جمهور العلماء يجوز الصوم تطوعا بعد النصف من شعبان وضعفوا الحديث الوارد فيه وقال أحمد وبن معين إنه منكر

Artinya, “Mayoritas ulama membolehkan puasa sunnah setelah nisfu Sya’ban dan mereka melemahkan hadits larangan puasa setelah nisfu Syaban. Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan hadits tersebut munkar”. 

Sehingga, sebagian ulama menyarankan bagi yang masih mempunyai utang puasa sebaiknya diqadha sesegera mungkin meskipun setelah pertengahan bulan Sya’ban.

Bacaan niat puasa qadha Ramadan

Bacaan niat untuk puasa qadha Ramadan adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin 'an qadaa'i fardhi syahri Ramadhaana lillaahi ta’aalaa.

Artinya: "Saya berniat mengganti (mengqadha) puasa bulan Ramadhan karena Allah Ta'ala."

Niat puasa qadha harus dilakukan malam sebelumnya, sedangkan untuk puasa sunnah, niat dapat dilakukan di pagi hari.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement