Advertisement

Bom Israel di Sekolah Musa Bin Nusayr Gaza Bunuh 28 Orang, Termasuk Anak-anak

23 December 2024 20:35 WIB

thumbnail-article

Seorang anak Palestina mendapat perawatan usai terluka akibat serangan Israel di Nuseirat, Jalur Gaza pada 20 Desember 2024. (Foto: REUTERS/Khamis Said) .

Penulis: Rizal Amril

Editor: Rizal Amril

Bom Israel yang diledakkan di Sekolah Musa Bin Nusayr di Jalur Gaza membunuh anak-anak dan beberapa korban jiwa lain. Menurut data lembaga pertahanan sipil Gaza, setidaknya 28 orang tewas dalam serangan tersebut, yang di dalamnya terdapat empat anak.

Serangan ini dinyatakan terjadi pada Minggu (22/12/2024), saat sekolah itu berfungsi sebagai tempat penampungan bagi keluarga yang telah kehilangan tempat tinggal akibat konflik yang berkepanjangan.

Israel mengklaim bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk membunuh anggota Hamas yang beroperasi di area sekolah.

Abu, seorang pengungsi yang jadi korban selamat pengeboman sekolah, menyatakan jika serangan dilakukan ketika pengungsi tengah tertidur nyenyak.

"Kami tengah tertidur nyenyak, lalu tiba-tiba kami terbangun karena suara ledakan yang sangat kuat," katanya, dikutip dari BBC.

Pengungsi lain, Mahmoud, turut menjelaskan situasi horor yang terjadi ketika pengemoban sekolah tersebut.

"Batu dan pecahan peluru berterbangan, dinding sekolah menimpa kepala kami," tuturnya.

Organisasi-organisasi kemanusiaan mengecam serangan ini, menyoroti fakta bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk anak-anak dan pengungsi.

Mereka meminta agar semua pihak menghormati hukum internasional yang melindungi fasilitas pendidikan.

Pengeboman Sekolah Musa Bin Nusayr tersebut dilakukan Israel selang beberapa hari pasca Paus Fransiskus mengutuk serangan negara Zionis tersebut di Gaza.

Pada Sabtu (21/12), ketika membuka pidato Natal tahunan di Vatikan, Paus Fransiskus mengekspresikan duka atas korban yang terus berjatuhan di Gaza.

"Kemarin, anak-anak dibom," tutur Paus. "Ini kekejaman. Ini bukan perang."

Menurut Paus Fransiskus, ia harus membuka pidato untuk hari suci Natal karena keprihatinan mendalam atas serangan yang menargetkan sekolah dan rumah sakit di Gaza.

Di sisi lain, Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyerukan agar pasukan Israel menghentikan serangan di sekitar rumah sakit, menyatakan kekhawatiran mengenai keselamatan pasien dan staff medis.

Ia mengungkapkan bahwa serangan di sekitar rumah sakit dapat mengancam nyawa banyak orang yang membutuhkan perawatan.

Militer Israel (IDF) sendiri tetap mengklaim bahwa tindakan yang mereka ambil adalah bentuk tanggapan terhadap pelanggaran hukum internasional oleh Hamas.

Situasi kesehatan di Gaza

Serangan yang terjadi tidak hanya memengaruhi populasi sipil tetapi juga menyebabkan dampak serius terhadap infrastruktur kesehatan di Gaza.

Beberapa rumah sakit, termasuk Kamal Adwan, mengalami kerusakan yang signifikan akibat serangan, dengan generator rumah sakit mendapat serangan langsung.

Ancaman terhadap petugas kesehatan semakin nyata, di mana banyak dari mereka dibuat tidak berdaya saat bertugas.

Direktur rumah sakit Kamal Adwan, dr Hussam Abu Safiya, meminta agar staf medis diizinkan untuk menjalankan tugas mereka tanpa ancaman evakuasi.

"Kami menyerukan gencatan senjatan secara segera di sekitar rumah sakit demi melindungi pasien dan petugas kesehatan," tuturnya.

Menurut dr Hussam Abu Safiya, operasi militer Israel di Gaza selama ini menganggap rumah sakit "seolah kami adalah instalasi militer".

"Setiap orang yang menginjakkan kaki keluar rumah sakit," jelasnya, "Langsung berisiko ditarget militer."

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement