Walaupun film fiksi sering menawarkan cerita menarik, ada sesuatu yang spesial dari film berdasarkan kisah nyata. Penonton tidak hanya menikmati film, tetapi juga seperti diajak menyaksikan sejarah atau perjalanan hidup seseorang. Bahkan penonton bisa ikut merasakan berbagai peristiwa yang terjadi.
Industri film Jepang ternyata sering menghadirkan karya yang terinspirasi dari peristiwa nyata, baik dari kisah tokoh terkenalm tragedi sejarah, hingga pengalaman hidup seseorang yang menginsitasi. Berikut beberapa film Jepang yang diangakat dari kisah nyata.
Hachi-ko
Film Hachi-ko merupakan kisah nyata yang mengisahkan perjalanan hidup Profesor Hidesaburo Ueno, seorang pengajar di Universitas Tokyo, dan seekor anjing Akita bernama Hachi. Setiap hari, Hachi mengantar dan menjemput Profesor Ueno di Stasiun Shibuya.
Cerita dimulai ketika Profesor Ueno menerima Hachi sebagai hadiah. Meskipun istrinya tidak setuju untuk memelihara anjing, hubungan antara mereka berkembang dengan indah. Hachi tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menunggu kedatangan tuannya, bahkan di tengah cuaca buruk sekalipun. Kepatuhan dan kesetiaan Hachi menjadi legendaris ketika Profesor Ueno meninggal secara mendadak akibat stroke saat bekerja.
Meskipun ditinggal, Hachi terus datang ke stasiun setiap hari selama hampir sepuluh tahun, menunggu tuannya yang tidak akan kembali. Kesetiaan Hachi menjadi simbol di Jepang, dan patungnya didirikan di depan Stasiun Shibuya sebagai pengingat akan kasih dan loyalitas yang bisa diberikan oleh seekor hewan kepada manusia.
Oshin
Film Oshin mengambil inspirasi dari kehidupan nyata seorang gadis bernama Shin Tanokura. Cerita ini berlatar belakang era Meiji di Jepang, di mana Oshin harus menghadapi kondisi hidup yang penuh tantangan. Dalam film ini, penonton diperkenalkan dengan Oshin kecil yang terpaksa "dijual" oleh keluarganya untuk dipekerjakan sebagai pembantu demi membantu perekonomian keluarga.
Oshin menghadapi berbagai rintangan dan kesulitan sejak kecil. Namun, semangat juangnya dan ketidakputusasaannya membuatnya berhasil bangkit dari kehidupan yang serba sulit. Perjalanan transformasi Oshin dari seorang gadis yang tertekan menjadi wanita sukses yang menghargai kehidupan dan impian merupakan inti pesan dari film ini. Cerita tersebut menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah meskipun terjebak dalam situasi yang tampaknya mustahil.
When I Get Home, My Wife Always Pretends to be Dead
Film ini menawarkan perspektif humoris dari sebuah kejadian nyata yang menjadi viral di media sosial Jepang. Inspirasi cerita ini berawal dari unggahan seorang pria yang bingung menghadapi tingkah laku istrinya, yang selalu berpura-pura mati setiap kali suaminya pulang kerja. Dalam film ini, kisah Jun dan Chie menggambarkan dinamika pernikahan yang penuh dengan humor.
Setiap pulang kerja, Jun selalu menemukan Chie tergeletak di lantai dengan skenario berbeda, mulai dari pura-pura terkena panah hingga berbagai tragedi dramatis lainnya. Awalnya, Jun menganggap tingkah laku istrinya hanya lelucon aneh. Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai mencari tahu alasan di balik perilaku unik tersebut. Film ini memadukan unsur komedi dan drama yang menunjukkan bahwa pernikahan tidak selalu berjalan mulus, tetapi tetap menyimpan keunikan dan kekuatan dalam kebersamaan.
Kiseki
Kiseki: Sobito of That Day adalah film yang diangkat dari kisah nyata perjalanan grup vokal Jepang GreeeeN. Cerita ini berfokus pada dua bersaudara, Jin dan Hide, yang memiliki mimpi berbeda dalam dunia musik. Jin, yang memilih meninggalkan rumah untuk menjadi produser musik, menghadapi berbagai tantangan dalam karirnya, sementara Hide mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi dokter gigi.
Karakter duyung terlihat jelas dalam konflik antara memilih impian pribadi versus harapan keluarga. Saat karier musik Jin tidak berjalan lancar, dia menemukan bakat terpendam Hide serta teman-temannya yang juga memiliki minat dalam musik. Dari titik tersebut, film ini menggambarkan bagaimana mereka mencoba menjembatani jalur hidup yang berbeda untuk membentuk grup yang sukses.
Nobody Knows
Nobody Knows adalah film yang terinspirasi dari kasus nyata yang dikenal sebagai Sugamo child abandonment case di Tokyo pada 1988. Film karya sutradara Hirokazu Kore-eda ini menggambarkan kehidupan empat anak yang harus bertahan hidup tanpa pengawasan orang dewasa.
Diceritakan bahwa film ini mengikuti kehidupan empat anak yang harus berjuang untuk bertahan hidup setelah ditelantarkan oleh ibu mereka. Ketika ibu mereka sering pergi dan tidak pernah kembali, Akira, anak tertua, harus mengambil tanggung jawab untuk merawat adik-adiknya. Di balik kisah sedih ini, terdapat ukiran ketahanan dan keteguhan hati empat anak yang meskipun dalam keadaan sulit, saling mendukung satu sama lain.
Film ini dikenal karena pendekatannya yang realistis dan emosional. Pemeran utamanya, Yūya Yagira, bahkan memenangkan penghargaan Aktor Terbaik di Festival Film Cannes 2004 saat usianya baru 14 tahun, menjadikannya salah satu pemenang termuda dalam sejarah festival tersebut.
