Ragam rutinitas peserta latihan dasar kemiliteran (latsarmil) yang dilakukan anggota Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) calon pengelola Koperasi Merah Putih dijelaskan oleh Korps Marinir TNI AL.
Letkol (Mar) Agus Mutaqin selaku Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak mengatakan kegiatan para peserta dibuka dengan bangun pagi pukul 04.30 WIB.
"Kemudian melaksanakan ibadah shalat Subuh. Selanjutnya kami lanjutkan kegiatan olahraga, pembinaan fisik, kemudian dilanjutkan makan pagi," ucap Agus di markas Marinir, Cilandak, Jakarta Timur, Kamis (25/6/2026) dikutip dari Antara.
Selepas sarapan, para peserta mengikuti kegiatan apel pagi, baris berbaris, baru kemudian masuk ke kelas untuk mengikuti materi. Usai rangkaian materi kelas sampai sore, para peserta diajak mengikuti kegiatan "pengasuhan" oleh para pelatih.
"Pengasuhan adalah pemberian bekal-bekal, salah satunya mungkin pengenalan lingkungan, kemudian etika selama di sini, sikap PBB, dan sebagainya. Termasuk bekal-bekal keseragaman dan kekompakan," ujar Agus.
Agus mengungkapkan setelah semua kegiatan itu selesai, peserta diizinkan untuk menjalankan istirahat, shalat dan makan sebelum akhirnya beristirahat pukul 21.30 WIB. Menurutnya seluruh rangkaian kegiatan itu dilakukan dengan bimbingan para pelatih dari Korps Marinir.
Diketahui sebanyak 35.476 calon pengelola terdiri dari 30.000 peserta KDMP dan 5.476 peserta KNMP tersebar mengikuti pelatihan ini di 67 satuan pendidikan militer yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Peran TNI AL dalam Pelatihan Calon Manajer Koperasi
Korps Marinir TNI Angkatan Laut diberikan tanggung jawab utama untuk membina para calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) maupun Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) melalui penyelenggaraan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad).
Dalam peran ini, Marinir bertugas untuk membentuk fisik, mental, serta karakter pemimpin masa depan koperasi melalui serangkaian latihan militer yang terstruktur. Hal ini diharapkan dapat memperkuat disiplin, semangat pengabdian, dan kerja sama tim yang sangat dibutuhkan dalam menjalankan organisasi koperasi di tingkat desa dan kelurahan.
Latsarmil Komcad diselenggarakan selama 45 hari, dengan pembagian materi yang jelas. Pelatihan kedisiplinan dan bela negara dilaksanakan selama 30 hari, yang meliputi latihan fisik, baris-berbaris, serta pembentukan mental dan jiwa kepemimpinan.
Sisanya, 15 hari dialokasikan khusus untuk pelatihan manajerial dan kompetensi bidang yang bersifat teknis dengan kolaborasi kementerian terkait.
Rutinitas Harian Selama Latsarmil
Setiap hari, para peserta diawasi dan dibimbing untuk menjalankan berbagai kegiatan rutin yang menekankan pembentukan kedisiplinan. Contohnya adalah apel pagi, latihan fisik seperti lari dan push-up, serta ketepatan waktu dalam berbagai aktivitas.
Pembentukan jiwa bela negara juga menjadi fokus utama, di mana peserta diberikan pemahaman tentang pentingnya nasionalisme sebagai pondasi dalam memajukan koperasi yang mendukung perekonomian lokal dan nasional.
Selain itu, latihan baris-berbaris menjadi salah satu aktivitas utama yang bertujuan membentuk kekompakan serta kemampuan koordinasi antar peserta. Melalui latihan ini, para calon pengelola koperasi diharapkan mampu membangun kerja sama tim yang solid dalam pengelolaan koperasi dan dalam mengatasi berbagai tantangan di masyarakat.
Tak hanya itu, materi kepemimpinan menjadi salah satu kompetensi penting yang terus diasah. Para peserta dibekali berbagai teori dan praktik kepemimpinan, mulai dari pengambilan keputusan, komunikasi efektif, hingga penanganan konflik.
Materi Manajerial dan Kompetensi Khusus Koperasi
Setelah melewati tahapan pelatihan kedisiplinan militer selama 30 hari, peserta kemudian mengikuti pelatihan manajerial selama 15 hari yang khusus didesain guna meningkatkan kemampuan pengelolaan koperasi.
Materi ini mencakup perencanaan bisnis, pengelolaan keuangan, pemasaran produk koperasi, hingga pengembangan sumber daya manusia di dalam koperasi.
Pelatihan manajerial tidak dilakukan secara parsial oleh militer saja, melainkan melibatkan kerja sama dengan berbagai kementerian teknis yang mempunyai kompetensi dalam bidang koperasi dan pemberdayaan masyarakat.
Selain transfer pengetahuan manajerial, pelatihan ini turut menanamkan wawasan kebangsaan serta etos kerja yang kuat.
Kemampuan pengelolaan koperasi yang optimal juga dikembangkan agar pengelola mampu menggerakkan koperasi sebagai instrumen yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan nelayan secara berkelanjutan.
Hukuman bagi Peserta
Lebih lanjut Agus menjelaskan bahwa dalam Latsarmil ini para pelatih menerapkan pemberian hukuman untuk para peserta yang melanggar peraturan dan penghargaan untuk peserta yang berprestasi selama menjalankan pelatihan.
Hukuman yang diberikan, kata dia, bukanlah standar kemiliteran pada umumnya, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan para peserta. Tujuannya adalah untuk meningkatkan jiwa disiplin dan semangat para peserta dalam menjalankan pendidikan.
Pihaknya berharap proses Latsarmil kali ini bisa selesai dengan baik dan seluruh peserta mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk diterapkan ketika mengelola Koperasi Desa Merah Putih.
