Doa i'tidal merupakan doa yang memisahkan rukun salat rukuk dan sujud. Sebagai salah satu rukun salat, doa i’tidal wajib diketahui seorang muslim.
Dalam kitab Kâsyifatus Sajâ karangan Syekh Nawawi Banten, dijelaskan bahwa iktidal adalah kembalinya orang salat pada posisi sebelum ia melakukan rukuk, baik kembali pada posisi berdiri (bagi orang yang salatnya dengan berdiri) ataupun pada posisi duduk (bagi orang yang shalatnya dengan duduk).
Ketika melaksanakan salat, membaca doa iktidal merupaka keharusan, sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Bukhari berikut.
إِذَا قَالَ الإِمَامُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ . فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: "Jika imam mengucapkan sami'allahu liman hamidah, maka hendaklah kalian mengucapkan robbana wa lakal hamdu. Karena siapa saja yang ucapannya tadi berbarengan dengan ucapan malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan dihapus." (HR Bukhari).
Hadis lain menyebutkan bahwa para malaikat akan berlomba mencatat amalan orang yang melafalkan doa iktidal.
رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ
Artinya: "Aku melihat ada 30-an malaikat, berlomba-lomba siapakah di antara mereka yang lebih duluan mencatat amalannya." (HR Bukhari).
Sebagaimana rukun di dalam tata cara melakukan sesuatu, iktidal memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi saat sedang melakukannya, berikut adalah tiga syarat iktidal:
- Bangunnya dari rukuk tidak dimaksudkan untuk tujuan lain selain iktidal itu sendiri,
- Pada saat melakukan iktidal harus dibarengi dengan tumakninah posisi tubuh tegak berdiri dalam keadaan diam dan tenang minimal selama bacaan kalimat tasbih subhânallâh,
- Iktidal tidak dilakukan dengan berdiri dalam waktu yang lama melebihi lamanya berdiri pada saat membaca surat Al-Fatihah, karena iktidal merupakan rukun yang pendek maka tidak boleh memanjangkannya.
Doa i'tidal versi pertama (NU)
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Sami Allahu liman hamidah.
Artinya: "Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya."
Masih dalam keadaan berdiri tegak (iktidal), lanjutkan mengucapkan doa dan bacaan iktidal berikut:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
Rabbana lakal-hamdu mil'us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil'u maa syi'ta min sya'in ba'du.
Artinya: "Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sesudah itu."
Doa i'tidal versi kedua (Muhammadiyah)
رَبَّنَا وَلَكَ اْلحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
Robbanaa walakalhamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarokan fiihi.
Artinya: “Ya Tuhan kami, (hanya) untuk-Mu lah (segala) pujian yang banyak, baik, dan diberkahi padanya.”
Baca Al-Quran Online 30 Juz dengan Terjemahan Bahasa Indonesia, Latin, Tanda Waqaf & Tafsir Ayat dengan lengkap, mudah dan praktis hanya di Narasi Ramadan.
