Mati lampu kerap terjadi di wilayah Indonesia, hal ini membuat sebagian orang kesal karena beberapa aktivitasnya terganggu. Bagi umat muslim, berdoa ketika mati lampu dianjurkan dilakukan sebagaimana diamalkan Rasulullah saw.
Meskipun listrik belum ditemukan pada masa Rasulullah, namun Nabi Muhammad saw. diriwayatkan pernah mengalami situasi di mana penerang rumahnya tiba-tiba padam.
Dalam riwayat tersebut, padamnya lentera penerang rumah tersebut terjadi ketika Rasulullah saw. tengah asyik bercengkrama bersama istrinya, Aisyah ra.
Alhasil, suasana rumah Rasulullah pun jadi gelap gulita dan aktivitas Nabi saw. pun terganggu.
Kira-kira bagaimana bacaan doa mati lampu yang diamalkan oleh Rasulullah saw? Simak jawaban lengkapnya berikut ini.
Doa ketika mati lampu yang diamalkan Rasulullah saw.
Melansir dari laman NU Online, kisah padamnya penerangan rumah Rasulullah tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam beberapa literatur hadis mursal-nya, yang juga termaktub dalam Kitab Tafsir Jalalain karya Syekh Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli.
Ketika penerangan rumahnya tiba-tiba padam, Nabi Muhammad saw kemudian mengucapkan doa berikut dengan tenang:
إِنَّا للهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Artinya: “Sesungguhnya kita semua adalah kepunyaan Allah, dan hanya kepada-Nyalah kita semua kembali.”
Sayyidina Aisyah pun bertanya dan mencoba meminta penjelasan Nabi mengenai doa yang beliau panjatkan.
“Sesungguh (yang mati) ini hanyalah lampu penerangan.”
Mungkin sepemahanan Sayyidah ‘Aisyah, kalimat tarji’ (bacaan innalillahi) hanya diucapkan ketika terjadi musibah yang luar biasa, seperti ketika ada saudara muslim meninggal dunia atau terjadi bencana alam yang merenggut banyak korban jiwa.
Akan tetapi, Nabi saw. kemudian menjelaskannya dengan berkata, “Segala sesuatu yang menyusahkan seorang mukmin maka itu adalah musibah.”
Dari kisah Nabi kita belajar pentingnya mengingat Allah Swt. karena memberikan dampak yang sangat positif bagi kehidupan kita.
Nabi sebagai teladan selalu menyertakan Allah dalam segala sisi kehidupan, dalam setiap perkara, meskipun sesederhana lampu yang padam.
