Pemerintah Kota Denpasar memutuskan untuk tidak menggelar pesta kembang api saat malam pergantian tahun. Keputusan ini disampaikan oleh Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Arta.
Dalam penjelasannya, ia mengungkapkan bahwa esensi perayaan tahun baru kali ini diarahkan pada pembinaan dan pelestarian seni budaya, bukan pada hiruk-pikuk konser dan pesta kembang api. Menurutnya, kebijakan ini diambil untuk menunjukkan rasa empati terhadap masyarakat yang tengah menghadapi bencana.
“Tidak seperti tahun lalu, kali ini tidak ada musik dan kembang api. Esensinya tetap pada pembinaan dan pelestarian seni budaya,” ujar Kepala Bidang Kesenian Disbud Kota Denpasar I Wayan Arta kepada wartawan, Rabu (7/12).
Alasan utama mengapa pemangkasan pesta ini dilaksanakan adalah untuk menjaga kepekaan sosial di tengah kondisi Indonesia yang berduka akibat berbagai bencana alam. Kondisi ini menjadi latar belakang yang kuat untuk meniadakan perayaan yang dianggap kurang relevan dengan saat-saat sulit yang harus dilalui oleh banyak orang.
Hal ini tentu saja berbeda dengan perayaan tahun lalu yang diwarnai oleh pesta kembang api besar-besaran di Pantai Mertasari. arga menikmati pertunjukan seni dan konser musik yang berlangsung meriah.
Perayaan Seni Sebagai Alternatif
Sebagai pengganti pesta kembang api dan konser musik, Pemkot Denpasar akan menggelar acara seni di kawasan Catur Muka dan sisi selatan Lapangan Puputan Badung. Event ini diberi tema “Melepas Matahari” dan akan berlangsung mulai pukul 16.00 WITA hingga 23.00 WITA pada malam tahun baru.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi alternatif positif untuk mengedukasi dan menyuguhkan keindahan seni budaya lokal. Pemkot Denpasar berharap perayaan tahun baru kali ini bisa berjalan tertib dan tetap bermakna.
“Kami ingin menyediakan ruang berkesenian sekaligus titik kumpul masyarakat agar perayaan akhir tahun tetap tertib, tidak liar, dan tetap bermakna sampai pukul 23.00 Wita. Setelah itu, masyarakat melanjutkan secara mandiri,” pungkas Arta.
Dalam kegiatan ini, sebanyak 65 sanggar seni akan menampilkan beragam kesenian tradisional, termasuk tari Saman dari Aceh, Jaranan dari Jawa, serta kesenian dari Borneo dan Tionghoa. Anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan kegiatan ini mencapai sekitar Rp 250 juta, yang akan digunakan untuk mendukung semua aspek dari perayaan tersebut.
Tindakan Pemerintah di Kota Mataram
Di sisi lain, pemerintah Kota Mataram juga mengikuti langkah serupa dengan meniadakan perayaan malam pergantian tahun. Walikota Mataram, Mohan Roliskana, mengungkapkan bahwa acara malam pergantian tahun akan digantikan dengan doa bersama yang ditujukan untuk masyarakat di Sumatera yang sedang mengalami musibah banjir bandang.
"Sebagaimana sudah di jelaskan pak Asisten I Lalu Martawang kita ganti kegiatan dengan doa bersama dan mendorong perayaan bersama keluarga saja di rumah," ujar Walikota Mataram Mohan Roliskana usai menghadiri Hut DWP ke-26, Senin 15 Desember 2025.
Meski perayaan resmi dibatalkan, Walikota Mataram memastikan bahwa masyarakat masih memiliki ruang untuk merayakan di tempat-tempat umum. Petugas keamanan juga disiapkan untuk mengantisipasi potensi kemacetan yang mungkin terjadi di beberapa lokasi.
Selain itu, pemerintah Kota Mataram juga mengambil langkah siaga bencana, mengingat bulan Desember dan Januari merupakan puncak musim hujan. Petugas dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) akan tetap stand by untuk mengawasi dan memberikan respon cepat jika terjadi bencana di wilayah tersebut.
