Advertisement

Es Krim Ben & Jerry's Gugat Unilever karena Merasa Dibungkam Soal Dukungan Perusahaan ke Palestina

15 November 2024 17:45 WIB

thumbnail-article

Seorang perempuan menggendong anak setelah serangan udara Israel menghantam sebuah kawasan di Kota Gaza, Palestina (23/10/2023). ANTARA/Anadolu/Ali Jadallah/pri .

Penulis: Jay Akbar

Editor: Akbar Wijaya

RINGKASAN

Ben & Jerry's dikenal sebagai perusahaan es krim yang vokal membela hak-hak warga Palestina, namun sikap ini tidak disukai Unilever.

Merek es krim terkenal, Ben & Jerry’s menggugat perusahaan induknya, Unilever ke Pengadilan Federal New York pada Rabu, 13 November 2024. Ben & Jerry's menuduh Unilever membungkam upaya mereka untuk menyuarakan dukungan bagi pengungsi Palestina dan melanggar perjanjian penyelesaian sengketa yang sebelumnya telah disepakati pada tahun 2022.

Isi Gugatan Ben & Jerry's ke Unilever

Dalam dokumen gugatan, Ben & Jerry’s menuduh Unilever membungkam empat upaya mereka untuk berbicara mendukung perdamaian dan hak asasi manusia, khususnya terkait konflik di Gaza.

Langkah-langkah yang coba disuarakan Ben & Jerry’s yaitu:

1. Menyerukan gencatan senjata di Gaza.

2. Mendukung pengungsi Palestina agar bisa mendapat perlindungan aman di Inggris.

3. Mendukung mahasiswa di universitas-universitas AS yang memprotes kematian warga sipil di Gaza.

4. Menyerukan penghentian bantuan militer AS kepada Israel.

Namun, menurut Ben & Jerry’s, semua upaya tersebut dihalangi oleh Unilever. Gugatan itu juga menyebutkan ancaman dari pihak Unilever, termasuk ancaman untuk membubarkan dewan independen Ben & Jerry’s dan menggugat para anggotanya secara individu.

“Ben & Jerry’s telah empat kali mencoba berbicara secara publik mendukung perdamaian dan hak asasi manusia,” bunyi gugatan tersebut dikutip The Guardian.

“Unilever telah membungkam semua upaya ini.”

Dalam dokumen hukum, disebutkan bahwa Peter ter Kulve, kepala divisi es krim Unilever, menyatakan kekhawatirannya tentang “persepsi berkelanjutan mengenai anti-Semitisme” jika Ben & Jerry’s berbicara mendukung pengungsi Palestina.

Bukan Kasus Pertama

Ketegangan antara Ben & Jerry’s dan Unilever pertama kali mencuat pada Juli 2021, ketika Ben & Jerry’s mengumumkan penghentian penjualan produknya di Tepi Barat yang diduduki Israel. Langkah ini diambil karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai keadilan sosial yang menjadi ciri khas Ben & Jerry’s sejak didirikan pada 1978. Keputusan ini memicu kritik tajam dari pemerintah Israel dan beberapa investor Unilever.

Sebagai tanggapan, Unilever menjual divisi Ben & Jerry’s di Israel kepada pemegang lisensi lokal. Langkah ini memungkinkan produk tetap dipasarkan di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Israel, yang dianggap melanggar prinsip Ben & Jerry’s. Gugatan hukum diajukan oleh Ben & Jerry’s pada 2022.

Sebagai bagian dari penyelesaian sengketa 2022, Unilever diwajibkan memberikan dana sebesar $5 juta kepada Ben & Jerry’s untuk disalurkan kepada organisasi hak asasi manusia pilihan mereka. Namun, menurut dokumen gugatan yang dilaporkan The Guardian, Unilever memblokir donasi kepada beberapa organisasi, termasuk Jewish Voice for Peace dan Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) Cabang San Francisco. Unilever beralasan bahwa organisasi-organisasi tersebut terlalu kritis terhadap pemerintah Israel.

“Unilever seharusnya menghormati kesepakatan ini, tetapi kenyataannya mereka terus mengintervensi dan mencoba menghalangi kami,” kata Anuradha Mittal, Ketua Dewan Independen Ben & Jerry’s, kepada Financial Times.

Dalam gugatan baru ini, Ben & Jerry’s menuduh Unilever melanggar poin utama perjanjian 2022, yaitu kewajiban Unilever untuk “menghormati dan mengakui tanggung jawab utama dewan independen Ben & Jerry’s atas misi sosialnya.”

Sejarah Ben & Jerry's

Ben & Jerry’s didirikan oleh Ben Cohen dan Jerry Greenfield di sebuah pompa bensin tua di Vermont, AS, pada tahun 1978. Sejak awal, perusahaan ini memiliki misi sosial untuk memajukan hak asasi manusia dan keadilan sosial. Meskipun diakuisisi oleh Unilever pada tahun 2000, perusahaan ini tetap dikelola oleh dewan independen yang memiliki otonomi dalam menjalankan kampanye sosial.

Bantahan Unilever dan Dampak Bisnis

Unilever, dalam pernyataan resminya yang dikutip oleh Reuters membantah tuduhan tersebut.

“Hati kami tertuju pada semua korban tragedi di Timur Tengah,” kata juru bicara Unilever.

“Kami menolak klaim yang dibuat oleh dewan misi sosial Ben & Jerry’s, dan kami akan membela kasus ini dengan sangat kuat. Kami tidak akan memberikan komentar lebih lanjut tentang masalah hukum ini."

Pada Maret 2024, Unilever mengumumkan rencana untuk memisahkan divisi es krimnya, termasuk Ben & Jerry’s, Magnum, dan Wall’s, pada akhir 2025. Langkah ini dimaksudkan untuk menyederhanakan portofolio perusahaan.

Namun, menurut Minor Myers, profesor hukum di Universitas Connecticut, ketegangan antara Ben & Jerry’s dan Unilever dapat memengaruhi nilai divisi es krim tersebut di mata calon pembeli.

“Situasi Ben & Jerry’s akan menjadi perhatian utama pembeli potensial,” katanya dikutip Financial Times.



Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement