Film Para Perasuk membawa angin segar bagi perfilman Indonesia dengan mengusung cerita yang unik, pemeran bertalenta, dan pencapaian tingkat internasional. Tidak hanya menyuguhkan hiburan, film ini juga menggambarkan kekayaan tradisi dan keberagaman budaya Indonesia.
Cerita yang digambarkan di film Para Perasuk terasa berbeda. Cerita berlatar di Desa Latas, sebuah desa fiktif yang memiliki tradisi kerasukan roh sebagai bagian dari hiburan dan ritual masyarakat. Tradisi ini bukan melulu menampilkan sisi horor, melainkan sebuah fenomena sosial kultural di mana kerasukan diyakini sebagai jalan untuk melarikan diri dari tekanan kehidupan sehari-hari.
Selain kisahnya yang unik, film ini juga menampilkan totalitas akting para pemain. Salah satunya adalah Angga Yunanda yang berperan sebagai Bayu, seorang pemuda dengan ambisi besar menjadi perasuk terbaik di desanya. Untuk memerankan karakter yang sarat emosional dan kultural ini, Angga harus mendalami tradisi kerasukan dan memperlihatkan penghayatan mendalam dalam setiap adegannya.
Film ini disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, sosok yang sebelumnya sukses menggarap film Penyalin Cahaya (2021) dan Budi Pekerti (2023). Dilansir dari berbagai sumber, berikut sederet fakta menarik film Para Perasuk.
1. Debut Film Para Perasuk di Sundance Film Festival
Penayangan Perdana sebagai World Premiere pada Sundance 2026
Para Perasuk berhasil ikut serta dalam penayangan perdana dunia (world premiere) di Sundance Film Festival 2026. Sundance dikenal sebagai festival film independen terbesar dan paling bergengsi di dunia. Festival ini berlangsung di dua lokasi utama, yakni Park City dan Salt Lake City di negara bagian Utah, Amerika Serikat.
Penayangan di sini membuka peluang bagi film ini untuk dikenalkan kepada publik internasional dan industri perfilman global. Premiere ini berlangsung dari tanggal 22 Januari hingga 1 Februari 2026.
Kategori Kompetisi World Cinema Dramatic Competition
Levitating, judul internasional Para Perasuk, berhasil masuk ke dalam kategori kompetisi World Cinema Dramatic Competition. Kategori ini menampilkan film-film terbaik pilihan dari berbagai negara yang memiliki nilai artistik dan cerita yang kuat. Para Perasuk berhasil menyingkirkan ribuan film lain dari 164 negara, sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi perfilman Indonesia.
2. Cerita Unik dan Konsep Kerasukan dalam Film
Desa Latas dan Tradisi Kerasukan sebagai Hiburan Masyarakat
Desa Latas digambarkan sebagai desa yang sangat unik dengan tradisi kerasukan sebagai hiburan utama masyarakatnya. Berbeda dari persepsi umum yang sering mengaitkan kerasukan dengan horor atau rasa takut, di desa ini kerasukan dianggap sebagai hiburan, bahkan menjadi cara penyembuhan sosial yang mempererat kebersamaan.
Penduduk desa sengaja membiarkan diri dirasuki dalam pesta ritual untuk melupakan kesulitan hidup dan merasakan kebahagiaan sesaat.
Tokoh Utama Bayu dengan Ambisi Jadi Perasuk Terbaik
Bayu, tokoh utama dalam film, memiliki ambisi untuk menjadi perasuk terbaik di desanya. Dia berkompetisi dalam kontes tradisi kerasukan dengan tujuan mulia. Melalui keahliannya memainkan seruling istimewa, Bayu dapat memanggil berbagai roh binatang fiktif untuk merasuki para penari.
Ambisinya bukan hanya demi prestise personal, tetapi juga untuk mengumpulkan dana guna menyelamatkan Desa Latas dari ancaman penggusuran oleh pihak penguasa yang serakah.
Penggambaran Roh Binatang dan Alam Sambetan yang Penuh Warna
Film ini menceritakan konsep roh binatang sebagai kekuatan supranatural dalam tradisi kerasukan. Ada sekitar 20 roh binatang fiktif, seperti roh bulus, kerbau, kodok, semut, hingga lintah, yang masing-masing memberikan efek kerasukan berbeda kepada para penari.
Setelah dirasuki, mereka dibawa ke alam sambetan—dunia lain yang digambarkan penuh dengan bunga warna-warni yang indah dan magis. Visualisasi ini memperkaya narasi dan memberikan dimensi artistik tersendiri pada cerita.
3. Pemeran dan Peran Penting di Film Para Perasuk
Angga Yunanda sebagai Bayu, Perasuk Muda dengan Misi Mulia
Angga Yunanda memegang peran sentral sebagai Bayu, perasuk muda yang penuh semangat dan memiliki cita-cita besar. Ia berjuang tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk kesejahteraan desa dan seluruh komunitasnya.
Maudy Ayunda Berperan sebagai Laksmi dengan Adegan Kerasukan
Maudy Ayunda berperan sebagai Laksmi, seorang pelamun yang juga mengalami kerasukan roh binatang. Perannya menuntut gerakan fisik yang meniru perilaku hewan ketika kerasukan, seperti merangkak dan gestur tubuh tertentu.
Debut Akting Layar Lebar Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri
Salah satu momen yang menarik perhatian publik adalah debut akting layar lebar Anggun C. Sasmi dalam film ini. Ia memerankan Guru Asri, perasuk senior yang berperan penting dalam tradisi kerasukan desa. Selain berperan, Anggun juga berkontribusi dalam menciptakan 20 mantra khusus yang digunakan sebagai bagian dari ritual dalam film. Potret dirinya yang kuat dan kharismatik menambah aura magis film ini.
4. Peran Sutradara dan Penghargaan Film
Wregas Bhanuteja sebagai Sutradara dengan Pendekatan Artistik
Wregas Bhanuteja, sutradara berkelas yang sebelumnya dikenal lewat karya Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, kembali menghadirkan film dengan sudut pandang artistik dan emosional yang kuat. Dalam Para Perasuk, Wregas mengangkat tema supernatural dengan pendekatan yang lebih dramatis, menghindarkan film ini dari kategori horor konvensional.
Film sebagai Drama Supernatural, Bukan Horor Biasa
Ceritanya tidak semata-mata menakutkan, melainkan lebih kepada drama dengan unsur supernatural. Hal ini membedakan Para Perasuk dari film-film horor yang seringkali hanya mengandalkan jump scare. Film ini mengandung pesan sosial dan budaya yang kuat, memperlihatkan keragaman tradisi Indonesia sekaligus mengangkat tema perjuangan seorang pemuda untuk desanya.
Penghargaan CJ ENM Award sebelum Penayangan Festival
Sebelum penayangan perdananya, Para Perasuk telah memenangkan penghargaan CJ ENM Award di Asian Project Market 2024. Penghargaan ini memberikan dukungan finansial sebesar 10.000 USD serta pengakuan atas potensi besar film ini di pasar internasional. Pencapaian ini menjadi modal awal yang penting untuk memperkenalkan film ke kancah global.
5. Sambutan dan Prospek Film di Kancah Internasional
Standing Ovation Saat Pemutaran di Sundance Film Festival
Saat Para Perasuk diputar untuk pertama kali di Sundance, film ini mendapat sambutan meriah berupa standing ovation dari para penonton. Respons ini menunjukkan bahwa film berhasil menyentuh penonton internasional dan mampu mengangkat cerita lokal Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.
Terpilih dari Ribuan Film dari 164 Negara sebagai Kompetitor
Prestasi lainnya adalah terpilihnya Para Perasuk sebagai salah satu dari 10 film internasional yang berlaga di kategori World Cinema Dramatic Competition. Film tersebut berhasil melewati lebih dari 16 ribu pendaftar dari 164 negara, membuktikan kualitas dan daya tariknya yang mendunia.
