Film Gowok Kamasutra Jawa yang sedang tayang di bioskop, cukup ramai diperbincangkan di media sosial. Bukan cuma karena mengangkat tema yang unik, film ini juga memiliki beberapa fakta menarik. Berikut 5 fakta menarik film Gowok yang wajib diketahui.
Latar belakang film Gowok Kamasutra Jawa
Diangkat dari kehidupan sehari-hari
Film Gowok: Kamasutra Jawa menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa dengan fokus pada profesi gowok, yang merupakan guru seksual sebelum pernikahan. Ini adalah tradisi yang telah ada dalam budaya Jawa dan menjadi bagian penting dari pendidikan seksual, namun seiring waktu semakin terlupakan. Dengan merujuk pada kehidupan sehari-hari masyarakat di era 1960-an, film ini menyajikan kisah yang relevan dengan konteks sosial budaya pada masanya.
Menggambarkan pendidikan seksualitas
Salah satu elemen utama dari film ini adalah pendidikan seksualitas yang disampaikan oleh sosok gowok dalam konteks yang budaya. Profesi ini mengajarkan cara membahagiakan pasangan bagi para pria yang akan menikah, dan mencerminkan nilai-nilai budaya serta norma masyarakat pada saat itu. Dengan memadukan unsur pendidikan dan kesenangan, film ini berupaya untuk menyediakan pandangan mendalam tentang masalah sulit yang sering dihindari dalam diskusi publik.
Dukungan penulis dan sutradara terkenal
Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo, yang dikenal sebagai sutradara andal di Indonesia. Ia tidak hanya menyutradarai tetapi juga ikut terlibat dalam penulisan naskah bersama Aci dan ZZ Mulja Salih. Keberadaan nama-nama besar dalam tim kreatif adalah nilai plus tersendiri, memberikan kredibilitas lebih pada hasil akhir karya tersebut.
Tradisi Gowok dalam budaya Jawa
Peran perempuan sebagai guru seksual
Tradisi gowok menggambarkan peran penting perempuan dalam masyarakat Jawa sebagai pendidik, khususnya dalam hal seksualitas sebelum pernikahan. Seorang gowok bukan sekadar dukun seksual, melainkan juga berfungsi sebagai penasihat dan teman bagi calon pengantin laki-laki. Dalam konteks ini, perempuan diberdayakan dalam posisi yang dianggap krusial untuk mempersiapkan suami, meski tradisi ini semakin jarang ditemukan di era modern.
Perubahan sosial pasca 1965
Setelah peristiwa 1965, pendidikan seksual formal mulai diambil alih oleh lembaga-lembaga seperti Kantor Urusan Agama (KUA). Perubahan ini tidak hanya memengaruhi profesi gowok tetapi juga mengubah dinamika sosial yang ada pada masa itu. Film ini berusaha untuk menangkap perubahan tersebut, menunjukkan bagaimana tradisi yang ada terdesak oleh modernitas dan perubahan sosial.
Unik dan jarang diangkat dalam film
Tema gowok dalam film ini terbilang unik dan jarang diangkat di layar lebar. Dengan mengedepankan kisah yang berkaitan dengan tradisi yang hampir punah, film ini menawarkan perspektif baru mengenai pendidikan seksual yang bisa memperkaya pengetahuan masyarakat tentang budaya Jawa, sekaligus menggugah diskusi tentang nilai-nilai yang ditinggalkan.
Estetika dan kontroversi dalam penyajian
Pendekatan sinematik terhadap seksualitas
Penyajian seksualitas dalam film ini dilakukan dengan pendekatan sinematik yang estetis. Hanung Bramantyo berhasil menyatukan elemen narratif yang kuat dengan visual yang menarik. Ia menampilkan hubungan intim dalam konteks yang sensitif namun tetap berani, menciptakan sebuah karya yang mampu menarik perhatian penonton baik di dalam negeri maupun internasional.
Penggunaan mantra fiktif dalam proses syuting
Salah satu aspek menarik dari produksi film ini adalah penciptaan mantra fiktif yang disebut Atmaprawesa. Mantra ini terinspirasi dari teks Tiongkok Tsu Nu Jing dan digunakan untuk menjaga kenyamanan pemain selama proses syuting. Penggunaan elemen spiritual fiktif ini juga diharapkan dapat menambah kedalaman cerita, sambil menghindari unsur mistis yang sensitif dan tidak perlu.
Respon positif dari penonton internasional
Film ini tidak hanya mendapatkan perhatian di Indonesia, tetapi juga berhasil menembus festival film internasional, termasuk Festival Film Rotterdam. Tanggapan positif dari penonton internasional menunjukkan bahwa film ini berhasil menyentuh isu-isu universial dalam konteks lokal, menjadikannya lebih dari sekadar film lokal tetapi juga relevan di kancah global.
Proses produksi dan pemilihan pemain
Pemain belajar dialek Ngapak
Salah satu tantangan dalam produksi film ini adalah kebutuhan untuk memahami dan menggunakan dialek Ngapak. Devano Danendra, salah satu aktor dalam film ini, harus mempelajari dialek khas serta memahami bagaimana cara bicara yang sopan dalam budaya Jawa. Upaya ini dilakukan untuk menggambarkan karakter secara autentik dan memberi penghormatan pada budaya serta kekayaan lokal yang ada.
Kolaborasi dengan aktor ternama
Film ini juga melibatkan banyak aktor ternama, termasuk Reza Rahadian yang dihadapkan pada karakter yang kompleks secara emosional. Kerja sama antara Hanung dan Reza dalam proyek ini adalah kolaborasi kesepuluh mereka, yang menunjukkan tingkat kepercayaan dan pemahaman yang telah terbangun antar keduanya di industri film Indonesia.
Lokasi syuting di Yogyakarta
Lokasi syuting untuk film ini dipilih di Sleman, Yogyakarta, yang dikenal dengan kekayaan budayanya. Pengambilan gambar di lokasi yang kaya akan tradisi ini bertujuan untuk memberi nuansa yang otentik dan kuat dalam menggambarkan kisah gowok, serta menyajikan latar belakang budaya yang mendalam bagi alur cerita.
Dengan semua aspek ini, Gowok: Kamasutra Jawa tidak hanya menjadi sebuah film hiburan, tetapi juga menjadi portal dalam menggali lebih dalam tentang budaya, norma, dan perubahan sosial yang dialami masyarakat Jawa, serta relevansinya dengan isu-isu modern saat ini. Filmen ini mengajak penonton untuk merefleksikan tradisi yang ada dan bagaimana mereka berinteraksi dengan nilai-nilai kekinian.
