Advertisement

Fakta Medis Influenza Punya Dampak Lebih Serius Dibanding Flu Biasa

07 May 2026 11:05 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi gambar seorang wanita sedang mengalami Super Flu Sumber: alodokter.com.

Penulis: Desinta

Editor: Desinta

Virus influenza dan selesma sering kali dianggap sama oleh masyarakat umum. Kedua penyakit ini memang memiliki gejala yang mirip, seperti bersin, pilek, dan batuk. Akibat dari kesamaan tersebut, influenza kerap diremehkan dan dipandang sebagai penyakit ringan yang serupa dengan selesma biasa (common cold).

Namun, dari segi dampak kesehatan, influenza jauh lebih serius dan berpotensi menimbulkan komplikasi fatal. Pemahaman yang kurang tepat ini dapat menyebabkan pengabaian pencegahan dan pengobatan, sehingga virus influenza mudah menyebar di lingkungan sekitar dan berbahaya terutama bagi kelompok rentan.

"Sekali lagi, influenza bukan flu biasa, dan vaksinasi tahunan adalah cara paling efektif melindungi diri dan keluarga," ungkap Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, dikutip dari Kompas, Senin (4/5/2026) lalu.

Perbedaan Mendasar Antara Influenza dan Selesma

Gejala Khas Influenza Dibandingkan Selesma

Meskipun influenza dan selesma sama-sama menyerang saluran napas, terdapat perbedaan penting dalam gejala yang ditimbulkan. Influenza biasanya datang secara tiba-tiba dengan demam tinggi yang berlangsung selama 3-4 hari.

Pasien juga sering mengalami sakit kepala hebat, nyeri otot, dan kelelahan yang cukup berat sampai membuatnya harus beristirahat lama. Sebaliknya, selesma biasanya tidak disertai demam yang tinggi. Gejala selesma cenderung lebih ringan, seperti bersin, hidung mampet, dan batuk ringan, sehingga pasien masih bisa beraktivitas.

"Selesma atau flu biasa, itu demamnya jarang. Kalau influenza, tiba-tiba sering kali demam tinggi," ujar Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI dalam kesempatan yang sama, dikutip dari Kompas.

Lama dan Intensitas Sakit yang Dialami

Pasien yang terserang influenza umumnya membutuhkan waktu istirahat lebih lama, sekitar 5 hingga 10 hari, dan rasa lemah bisa bertahan hingga satu bulan. Sebaliknya, penderita selesma biasanya tidak merasakan kelelahan serius dan dapat kembali beraktivitas lebih cepat. Hal ini menandakan beban fisik yang dialami oleh pasien influenza jauh lebih berat dibandingkan selesma.

Penularan dan Sifat Virus yang Berbeda

Influenza merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang sangat menular melalui percikan udara dari batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini memiliki kemampuan bermutasi dengan cepat, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam pencegahan. Sementara itu, virus penyebab selesma berbeda dan biasanya menimbulkan infeksi yang tidak seberat influenza.

Komplikasi Serius Akibat Influenza

Komplikasi pada Organ Vital Selain Saluran Napas

Influenza tidak hanya menyerang saluran napas, melainkan dapat menimbulkan komplikasi serius pada organ vital lainnya. Komplikasi tersebut antara lain pneumonia (radang paru-paru), peradangan pada otot jantung (miokarditis), iritasi kantung pelindung jantung (perikarditis), serta peradangan otak (ensefalitis).

"Orang normal saja bisa parah, apalagi yang punya penyakit jantung, diabetes, asma, ginjal. Itu akan lebih parah," ucap dr. Iris.

Kerusakan ini memperlihatkan betapa berbahayanya influenza jika tidak segera ditangani dengan tepat. Komplikasi tersebut dapat menyebabkan kondisi pasien memburuk dengan cepat dan bisa berujung pada kematian.

Pengaruh Influenza pada Penderita Penyakit Kronis

Penderita penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, asma, ginjal, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami komplikasi berat akibat influenza.

Pada pasien PPOK, misalnya, virus influenza menjadi salah satu penyebab utama yang memperburuk kondisi paru secara tiba-tiba hingga mencapai sekitar 31 persen kasus.

Kerentanan Kelompok Lansia terhadap Komplikasi

Kelompok lanjut usia (lansia) sangat rentan terhadap infeksi influenza dan komplikasi yang menyertainya karena sistem imun mereka menurun, sebuah kondisi yang dikenal dengan istilah immunosenescence.

"Lansia itu sistem imunnya menurun, yang kita sebut immunosenescence. Secara garis besar memang otomatis kita semua akan menurun," imbuh dr. Iris.

Penurunan daya tahan imun ini membuat lansia lebih mudah terinfeksi dan lebih sulit melawan virus influenza.

Pentingnya Vaksinasi Influenza dalam Pencegahan

Pemberian vaksin influenza secara rutin setiap tahun merupakan cara paling efektif untuk melindungi individu dari infeksi influenza dan komplikasi seriusnya. Vaksin influenza mampu memberikan perlindungan hingga 90 persen pada individu sehat berusia di bawah 65 tahun dan membantu mengurangi angka kematian serta rawat inap.

WHO merekomendasikan vaksinasi tahunan karena virus influenza mengalami mutasi dan pergantian tipe yang cepat. Vaksin harus disesuaikan dengan virus yang beredar pada musim flu tertentu agar efektivitasnya maksimal.

"Vaksin influenza tidak 100 persen mencegah kita kena flu, tapi mencegah yang ringan jadi berat, mencegah yang berat jadi rawat inap, mencegah yang rawat inap untuk tidak meninggal," ujar Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI.

Walaupun vaksin tidak menjamin seseorang bebas dari infeksi influenza, vaksinasi terbukti dapat mencegah gejala ringan berkembang menjadi berat. Pada pasien yang telah divaksin, kecenderungan untuk dirawat di rumah sakit menurun secara signifikan.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement