Dengan viralnya film bertajuk Salmokji: Whispering Water sejak tayang pada Rabu (8/4/2026) maka waduk latar film ini pun semakin ramai menjadi perbincangan. Semakin ramai di Indonesia saat film ini resmi dikabarkan akan tayang di bioskop tanah air.
Waduk yang awalnya namanya tak banyak dikenal ini, sekarang pun menarik begitu banyak perhatian. Lalu, sebenarnya bagaimana sejarah waduk Salmokji ini dan bagaimana waduk ini bisa menjadi latar sebuah film horo? Yuk, simak fakta-fakta berikut.
Sejarah dan Fungsi Asli Waduk Salmokji
Waduk Salmokji dibangun pada tahun 1982 dengan tujuan utama sebagai sumber air irigasi di kawasan pertanian sekitarnya. Terletak di Gwangsan-myeon, Yesan-gun, Provinsi Chungcheong Selatan, Korea Selatan, waduk ini memainkan peran penting dalam mendukung kebutuhan air bagi aktivitas pertanian lokal.
Geografisnya yang berada di wilayah pedesaan membuat waduk ini awalnya hanya dikenal dan dikunjungi oleh penduduk setempat, terutama oleh para pemancing yang memanfaatkan area sekitar waduk sebagai tempat rekreasi.
Selama bertahun-tahun, waduk ini relatif sepi pengunjung karena tidak memiliki daya tarik khusus dan lebih difokuskan pada kegunaan praktisnya sebagai pemasok air. Fungsi utama waduk ini adalah menunjang sistem irigasi yang sangat penting untuk produktivitas pertanian di kawasan Chungcheong Selatan.
Namun, seiring berjalannya waktu, waduk ini mulai dikenal luas karena cerita-cerita mistis yang berkembang di kalangan masyarakat sekitar.
Cerita Mistis dan Isu Horor di Waduk Salmokji
Waduk Salmokji mulai dikenal memiliki reputasi yang angker dan penuh misteri di kalangan masyarakat lokal. Berbagai kisah horor beredar, di antaranya adalah kecelakaan mobil yang tragis saat seorang wanita mengikuti petunjuk GPS dan berakhir koma setelah mobilnya jatuh ke waduk.
Selain itu, terdapat laporan tentang penampakan hantu dengan ciri khas leher yang berputar 90 derajat serta munculnya ritual perdukunan bernama neokgori, yang dilakukan untuk menenangkan roh orang meninggal yang diduga gentayangan di sekitar waduk.
Cerita-cerita mistis ini semakin meluas setelah Waduk Salmokji ditampilkan di acara televisi Midnight Horror Story yang disiarkan oleh stasiun MBC pada tahun 2022. Dalam acara tersebut, berbagai kisah menyeramkan mengenai waduk ini dibahas dan memperkuat pandangan bahwa lokasi ini memiliki aura supranatural yang kuat.
Imbas dari penayangan ini menyebabkan persepsi masyarakat terhadap waduk semakin dipenuhi ketakutan dan menjadikan waduk kurang diminati oleh pengunjung dari luar daerah.
Baca Juga:Film Horor Korea Salmokji Akan Tayang di Bioskop Indonesia, Ini Sinopsis dan Daftar Pemainnya
Dampak Film Salmokji: Whispering Water terhadap Popularitas Waduk
Pada tahun 2026, film berjudul Salmokji: Whispering Water dirilis dan mempopulerkan kembali nama Waduk Salmokji. Film horor fiksi ini terinspirasi dari cerita rakyat dan rumor yang telah berkembang di masyarakat sekitar waduk. Meskipun cerita dalam film adalah hasil rekaan, lokasi syuting dilakukan di waduk asli yang menambah kesan autentik sekaligus menarik perhatian publik.
Setelah film ini resmi tayang di bioskop Korea Selatan pada bulan April 2026, terjadi lonjakan besar dalam jumlah pengunjung yang datang ke Waduk Salmokji. Banyak warga lokal hingga pengunjung dari luar daerah yang datang untuk melakukan uji nyali, mencoba merasakan aura mistis yang digambarkan dalam film. Bahkan, pada dini hari, area sekitar waduk ramai dipenuhi oleh kendaraan yang ingin melihat lokasi tersebut secara langsung.
Popularitas waduk yang tiba-tiba ini membuat pemerintah setempat merasa perlu turun tangan mengatur aktivitas di waduk guna menjaga keamanan dan ketertiban. Penambahan pengunjung yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan risiko keselamatan karena kondisi sekitar waduk yang gelap dan minim penerangan pada malam hari.
Kebijakan Pemerintah dan Rencana Pengembangan Waduk
Menanggapi lonjakan pengunjung dan potensi bahaya yang muncul, pemerintah daerah Chungcheong Selatan menetapkan sejumlah kebijakan pembatasan akses ke Waduk Salmokji. Salah satu aturan utama adalah menutup akses pengunjung mulai pukul 18.00 hingga 06.00 waktu setempat untuk menghindari risiko kecelakaan yang dapat terjadi pada malam hari.
Larangan ini diterapkan karena area waduk pada malam hari sangat gelap dan batas antara daratan dan air sulit terlihat, selain sinyal komunikasi yang terbatas di lokasi tersebut.
Selain pembatasan waktu akses, pemerintah juga melarang berbagai aktivitas seperti berkemah, memasak, memancing, dan membuang sampah sembarangan di sekitar waduk. Hal ini bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan serta menghindari kerusakan yang mungkin terjadi akibat tingginya jumlah pengunjung, terutama mereka yang datang untuk tujuan uji nyali.
Melihat potensi wisata yang muncul akibat popularitas film Salmokji: Whispering Water, pemerintah setempat berencana mengalihfungsikan waduk menjadi destinasi wisata resmi dengan aturan ketat dan pengelolaan yang baik.
Tujuan utama dari rencana ini adalah mengoptimalkan nilai ekonomi daerah sekaligus menjamin keselamatan dan kenyamanan pengunjung. Tentu saja, pengembangan ini akan dilakukan dengan memperhatikan aspek konservasi lingkungan dan keamanan pengunjung agar Waduk Salmokji tidak hanya dikenal sebagai tempat angker, tetapi juga sebagai destinasi wisata dengan nilai budaya dan sejarah yang menarik.
