Febriansyah, aktor yang berperan sebagai Borek dalam film Laskar Pelangi, meninggal dunia di usia 29 tahun.
Berita duka ini pertama kali disampaikan oleh rumah produksi Miles Films melalui media sosial pada Selasa (17/12/2024).
“Kami turut berduka atas kepergian Febriansyah (Borek, Laskar Pelangi). Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan seluruh kerabat dan keluarga senantiasa diberikan penguatan. Selamat jalan Rek, kami akan selalu mengenangmu,” demikian pernyataan duka cita yang disampaikan Miles Films.
Hingga saat ini, penyebab kematian Febriansyah belum dapat dipastikan, meskipun terdapat kabar bahwa almarhum memiliki riwayat penyakit.
Profil singkat Febriansyah
Febriansyah lahir pada 5 Februari 1995 di Pulau Belitung. Ia menghabiskan masa kecil dan menamatkan pendidikan di Tanjungpandan sebelum melanjutkan studi di Universitas Gunadarma, Depok pada tahun 2012.
Karier akting Febriansyah dimulai sejak remaja. Laskar Pelangi yang merupakan adaptasi dari novel karya Andrea Hirata menjadi film yang melambungkan namanya.
Febriansyah memerankan karakter Borek yang merupakan salah satu murid di SD Muhammadiyah Gantong, Belitung.
Usai membintangi Laskar Pelangi, tak ada informasi lebih lanjut tentang apakah Febriansyah melanjutkan kariernya di bidang perfilman.
Reaksi dan ucapan duka dari publik
Kabar meninggalnya Febriansyah memicu reaksi mendalam dari publik. Banyak yang memberikan ucapan duka di media sosial, termasuk sejumlah figur publik.
Komentar duka cita juga muncul dari para penggemar yang mengenang karyanya. Febriansyah dikenang sebagai Borek yang memiliki tingkah lucu dan berpekbribadian menyenangkan di Laskar Pelangi.
Mengingat karya Laskar Pelangi
Film Laskar Pelangi yang dirilis pada tahun 2008 menjadi salah satu film terlaris sepanjang sejarah Indonesia.
Selain menghibur, film ini juga mengandung pesan tentang persahabatan, tekad, dan harapan di tengah keterbatasan.
Proses pembuatan film ini melibatkan anak-anak asli Belitung yang bertujuan untuk menampilkan realitas sosial yang dialami masyarakat di pulau tersebut.
Karya ini mengingatkan penonton akan pentingnya pendidikan dan mimpi, membuatnya menjadi salah satu film yang paling monumental dalam sejarah perfilman Indonesia.
