Pernahkah kamu mendengar feminine dan masculine energy? Topik ini seringkali muncul dalam sosial media dan ditujukan langsung untuk perempuan. Lantas, apa itu feminine dan masculine energy?
Feminine energy atau energi feminin merujuk pada kelembutan, kebijaksanaan, intuisi, dan bersifat dinamis. Energi ini berasal dari jiwa. Orang yang menggunakan energi ini tahu kapan harus diam dan bersabar, kapan harus bergerak cepat dan penuh semangat.
Lain halnya dengan masculine energy atau energi maskulin. Energi ini merujuk pada pengetahuan dan berorientasi pada tindakan.
Kedua energi ini tidak ada hubungannya dengan anggapan bahwa perempuan memiliki energi feminin lebih besar, sedangkan laki-laki punya energi maskulin yang dominan. Sejatinya, manusia memiliki dua energi ini. Akan lebih baik jika keduanya bisa dikontrol dengan baik.
Perbedaan kepribadian
Setiap orang bisa memiliki kedua energi ini. Jika kamu bisa mengendalikannya, maka energi ini akan berdampak baik bagi hidupmu. Berikut ciri-ciri energi feminin:
- Mampu menenangkan diri.
- Mencintai diri sendiri.
- Mudah menemukan inspirasi kreatif.
- Punya rasa empati yang tinggi.
- Mampu menilai di luar ranah rasionalitas.
- Mengutamakan perasaan.
- Mampu berkomunikasi dengan baik.
Sebaliknya, berikut ciri-ciri energi maskulin:
- Mampu berpikir rasional dan logis.
- Mampu membangun usaha berkelanjutan.
- Menjadi pusat yang kuat.
- Menguasai ilmu pengetahuan.
- Memiliki pemikiran kreatif dalam menyelesaikan masalah.
- Punya kekuatan yang baik untuk membangun persona.
Tuntutan yang toksik
Baik feminine dan masculine energy, keduanya memang tidak bisa dikelompokkan berdasar gender tertentu. Perempuan bisa memiliki masculine energy yang lebih dominan. Pun laki-laki juga bisa memiliki feminine energy lebih dominan.
Pada dasarnya, manusia memiliki spektrum energi yang sangat kompleks. Inilah yang membuat manusia tidak terbatas hanya pada satu energi saja. Semua energi bisa diaktifkan dan diekspresikan tanpa memandang gender.
Energi ini akan menjadi toksik ketika ada yang menganggapnya sebagai sebuah “tuntutan”. Untuk mendapatkan laki-laki yang maskulin, perempuan harus menumbuhkan energi feminin. Hal ini juga berlaku sebaliknya.
Tuntutan tersebut justru menghalangi seseorang untuk berekspresi dengan energi yang dimilikinya. Bahkan, tuntutan ini juga bisa menjadi sesuatu yang menindas perempuan, di mana perempuan harus hidup di bawah kontrol laki-laki. Perempuan seolah hanya boleh memiliki feminine energy saja.
Mengembangkan energi feminin dan maskulin tidak akan mengurangi atau mengganggu identitas seseorang. Justru kita perlu menjaga kedua energi ini agar hidup lebih mudah dan seimbang.
