Advertisement

Film "Believe" Segera Tayang! Intip Fakta Menarik di Balik Proses Produksinya

14 July 2025 10:34 WIB

thumbnail-article

Film BELIEVE Sumber: KOOPSUD I / YouTube.

Penulis: Salsabila Farenza

Editor: Indra Dwi Sugiyanto

Dunia perfilman Indonesia kembali diramaikan oleh film bertema militer berjudul “Believe-Takdir, Mimpi, dan Keberanian. 

Film yang diangkat dari novel berjudul “Believe-Faith, Dream, and Courage” tersebut, tak hanya menyuguhkan aksi yang menegangkan, tetapi juga menyoroti nilai-nilai penting dari perjuangan prajurit dalam konteks sejarah yang nyata. 

Dalam wawancara eksklusif bersama Narasi, produser film “Believe, Celerina Judisari, dan beberapa pemain, yaitu Wafda Saifan, Aditya Lakon, Moh. Iqbal Sulaiman, dan Faqih Alaydrus membagikan pengalaman selama proses produksi film ini.

Para Pemain Jalani Pelatihan Militer

Sang produser, Celerina Judisari, mengungkapkan bahwa terdapat pelatihan militer untuk membekali para pemain dengan kemampuan teknis dan pemahaman dasar tentang kehidupan militer. “Latihannya tembak sama koreo,” ungkapnya.

Meski tidak ada sistem karantina atau menginap di barak, salah satu pemain film “Believe”, Wafda Saifan, mengungkapkan bahwa pelatihan militer dilakukan secara intensif dalam satu hari.

“Kita gak nginep di baraknya, tapi memang satu hari yang dari pagi sampe sore. Jadi misal hari ini materinya PBB, itu sampe sore, tapi kita gak nginep gitu, pulang, besok latihan tembak seharian,” jelasnya.

Memiliki banyak adegan fighting yang tidak mudah, para pemain juga berinisiatif melakukan latihan fisik bersama-sama. “Jadi kita punya kebiasaan setiap satu jam kita push up. Jam ganjil kita push up ganjil. Misal jam 7, kita pushup 20, udah jam 9 nih turun lagi bareng bareng,” ujar Wafda.

Totalitas Produksi: Riset Mendalam, Kolaborasi, dan Otentikasi Visual

Mengangkat latar peristiwa nyata seperti Operasi Seroja dan referendum Timor-Timur, Celerina Judisari mengungkapkan bahwa tim produksi melakukan riset mendalam agar dapat menggambarkan peristiwa tersebut secara akurat.

Pengembangan skenario dilakukan melalui riset yang bersumber dari buku, hingga wawancara bersama veteran dan warga Timor-Timur. 

“Ada wawancara dengan saksi, kemudian baca buku, kemudian kita ngobrol dengan orang timor-timur yang sekarang sudah ada di sini,” ujarnya.

Celerina Judisari juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan TNI. Ia mengungkapkan keterlibatan TNI dalam proses produksi sangat membantu dalam memahami konteks militer. “Aku tidak mau menggarisbawahi bahwa ini TNI melulu, tapi mereka tuh membantu, karena kita kan ga terlalu paham kondisinya.”

Pemilihan lokasi juga dilakukan secara saksama untuk menghadirkan nuansa geografis yang mendekati kenyataan. Bahkan jenis batuan dan elemen visual lain diperhatikan agar penonton bisa merasakan atmosfer yang otentik, meskipun syuting tidak dilakukan langsung di Timor-Timur.

Para Pemain Ungkap Tantangan dan Hal Berkesan Saat Syuting: Harus Berhadapan dengan Ledakan Asli hingga Belajar Bahasa Baru

Beberapa adegan memiliki kesan dan tantangan tersendiri bagi para aktor. Faqih Alaydrus mengaku adegan menangis adalah yang paling sulit baginya. Sementara Moh. Iqbal Sulaiman harus mengulang adegan pertempuran seharian penuh hingga kelelahan.

Tak hanya itu, para pemeran harus menggunakan bahasa yang tidak mereka gunakan sehari-hari—seperti bahasa, Sunda, Jawa, hingga Tetun.

“Wafda harus berbahasa Sunda, Iqbal harus berbahasa Tetun, saya sendiri orang Sunda tapi disuruh jadi orang Jawa ngapak. Jadi beberapa bahasa baru yang harus kami gunakan,” ujar salah satu pemain film “Believe”, Aditya Lakon. 

Para pemain juga harus menghadapi ledakan sungguhan saat syuting—bukan sekadar efek visual yang ditambahkan di tahap pascaproduksi. 

Wafda Saifan mengungkapkan bahwa ledakan sangat kencang. “Aku langsung duduk, gelap, telinga pengang,” ujarnya.

“Believe” Bukan Sekadar Film Aksi

Lebih dari sekadar film aksi, “Believe” membawa pesan tentang loyalitas, keberanian, dan kesetiaan.

Tidak hanya menyuguhkan sinematografi yang memukau, film ini menggambarkan perkembangan karakter utama yang epik, dari seorang pemuda bermasalah menjadi prajurit yang dapat diandalkan. 

Celerina Judisari ingin penonton merenungkan nilai-nilai penting dari kisah Jenderal Agus Subiyanto. Salah satunya bagaimana para prajurit dengan sukarela menerima ‘one way ticket’—berangkat tanpa adanya kepastian untuk pulang, demi melindungi negara.

Film ini juga menyoroti hubungan emosional antara ayah dan anak, memperlihatkan cara didik yang keras namun sarat makna.

Pada akhirnya, pesan terbesar dari film ini adalah “Believe”—percaya pada diri sendiri dan pada tujuan. Meskipun hidup keras dan latar belakang berbeda, selama masih ada keyakinan, maka masih ada harapan untuk jadi sesuatu yang besar.

Film Believe-Takdir, Mimpi, dan Keberanian akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 24 Juli 2025.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement