Advertisement

Film Indonesia Masuk Kompetisi Utama Shanghai International Film Festival 2026

06 June 2026 14:38 WIB

thumbnail-article

Film "Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang" (RBMT) atau judul internasional "My Own Last Supper". Sumber: ANTARA/HO-My Own Last Supper/am..

Penulis: Ely Alwiyah

Editor: Ely Alwiyah

Film Indonesia kembali menorehkan prestasi gemilang dengan terpilihnya film berjudul Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (RBMT) atau berjudul internasional My Own Last Supper ke dalam kompetisi utama pada Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026. Festival bergengsi yang akan digelar pada 12 hingga 21 Juni 2026 ini menjadi momentum penting bagi perfilman Indonesia dalam memperkenalkan karya berkualitas di kancah internasional.

Film RBMT berhasil masuk ke dalam tujuh kategori utama kompetisi, yaitu Best Feature, Best Director, Best Actor, Best Actress, Best Screenplay, Best Cinematographer, dan Best Outstanding Artistic.

"Pencapaian ini merupakan kebanggaan sekaligus kehormatan bagi kami, bisa mewakili Indonesia dalam ajang festival film kelas dunia seperti SIFF," kata Produser film RBMT sekaligus CEO Matta Cinema Production Nugroho Dewanto dalam siaran tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Proses Kreatif dan Produksi Film RBMT

Film RBMT merupakan hasil adaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Wisnu Suryaning Adji yang diterbitkan oleh penerbit Bentang, Yogyakarta. Novel ini telah meraih penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 2017.

Proses kreatif dan produksi film RBMT terbilang cepat dan efisien, hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh bulan dari pengembangan, pra-produksi, produksi, hingga pasca produksi.

"Dari development, terus pre-production, production (syuting), sampai post-production itu hampir 10 bulan. Karena kami mulai, saya ingat itu pas tahun lalu, Mei tahun lalu. Mei tahun lalu kita mulai baca novelnya gitu ya, terus ngobrol-ngobrol, diskusi, memutuskan ini menarik," jelas Nugroho

Sebelum film ini memasuki tahap penyelesaian, proyek RBMT sempat diluncurkan terlebih dahulu di ajang Asian Content and Film Market (ACFM) yang merupakan bagian dari Busan International Film Festival tahun 2025 dengan tujuan memperkenalkan kembali Matta Cinema Production yang sempat vakum. Hingga akhirnya, atas saran dari pengamat film senior Philip Cheah, film ini didaftarkan ke Shanghai setelah selsai diproduksi.

Cerita Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang

Film RBMT menyajikan sebuah drama yang fokus pada isu trauma psikologis dan politik yang dialami oleh seorang pria tua keturunan Tionghoa, bernama Encek. Kisah ini menggambarkan realitas sosial yang kompleks terkait identitas etnis Tionghoa di Indonesia.

"Kami ingin menyentuh dan mengajak penonton agar mampu memahami apa yang terjadi dalam hidup Encek, dalam sebuah cerita tentang trauma generasi yang berhasil diputus oleh seseorang yang berani mengubah nasib diri dan keluarganya," ujar Basbeth.

Sejumlah aktor senior bermain dalam film tersebut, yaitu Ferry Salim, Melissa Karim, dan Verdi Soleiman. Film "Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang" juga menjadi debut bagi Jessy Davita dan Nicholas Anderson dan akademisi Rocky Gerung.

Setelah penayangan di Shanghai Internasional Film Festival, film tersebut dijadwalkan diputar di bioskop-bioskop di Indonesia pada akhir 2026.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement