Advertisement

Hari Paling Mematikan di Gaza, Israel Bantai 80 Nyawa dan Lukai 300 Orang di Tengah Perundingan Gencatan Senjata

07 July 2025 14:02 WIB

thumbnail-article

Pria Palestina memeluk tiga bocah yang menjadi korban serangan biadab Israel Sumber: middleeasteye.net.

Penulis: Jay Akbar

Editor: Akbar Wijaya

RINGKASAN

Pembantaian dan genosida terus terjadi di Gaza dan dunia hanya bisa diam.

Di tengah perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, kabar duka terus mengalir dari Gaza. Dalam waktu sekitar 24 jam, serangan udara Israel yang dimulai sejak Ahad (6/7/2025) pagi telah menewaskan sedikitnya 82 orang Palestina, 39 di antaranya warga Gaza City. Sedangkan rumah sakit menerima sedikitnya 300 korban luka.

Bahkan distribusi bantuan pun tak lagi aman. Dalam 24 jam terakhir, delapan warga sipil dilaporkan tewas dan lebih dari 40 lainnya terluka saat berusaha mengakses makanan dan obat-obatan. Total korban akibat serangan di titik-titik bantuan kini menyentuh 751 jiwa tewas dan 4.931 luka-luka

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut hari itu sebagai salah satu periode paling mematikan sejak perang dimulai Oktober tahun lalu. Data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza mencatat jumlah korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 57.418 orang, sementara 136.261 lainnya luka-luka.

Gempuran tentara zionis Israel terjadi di hampir seluruh penjuru wilayah—dari Jabalya dan Shujaiyeh di utara, Nuseirat dan Bureij di pusat, hingga Rafah dan Khan Yunis di selatan. Militer Israel (IDF) juga mengeluarkan perintah evakuasi mendadak bagi warga di sejumlah lingkungan Khan Yunis, agar berpindah ke arah barat menuju zona pesisir al-Mawasi.

Pesawat tempur Israel dilaporkan menyerang rumah-rumah warga, tenda-tenda pengungsi, sekolah yang dijadikan tempat perlindungan, serta jalan-jalan utama seperti Jalan Omar al-Mukhtar di Gaza City. Di Sheikh Radwan, sebuah rumah yang menampung tiga keluarga pengungsi dihantam rudal. Di Bureij, tujuh anggota keluarga dilaporkan tewas di dalam tenda mereka.

Anak-Anak Jadi Korban, Fasilitas Rumah Sakit Dirusak dan Dijarah

Laporan dari Al Jazeera menyebut delapan warga sipil tewas akibat serangan udara Israel di sebuah sekolah pengungsian di kamp Shati, sebelah barat Gaza City. Di lingkungan al-Rimal, serangan lain menewaskan lima orang, menurut sumber di Rumah Sakit Baptis.

Foto-foto yang tersebar memperlihatkan jenazah anak-anak digotong dalam upacara pemakaman massal di halaman Rumah Sakit al-Shifa, sementara warga lainnya menggali reruntuhan untuk mencari korban yang terjebak. Rumah sakit-rumah sakit, khususnya al-Shifa, kini beroperasi dalam kondisi darurat. Kekurangan bahan bakar dan suplai medis menyebabkan pasien dalam kondisi kritis tak dapat ditangani secara layak.

Direktur rumah sakit di Gaza memperingatkan bahwa sistem perawatan intensif dan unit cuci darah terancam berhenti total. “Pasukan pendudukan telah menjarah rumah sakit dan panel suryanya,” ungkapnya kepada Al Jazeera. “Tanpa bahan bakar, kami tak bisa menyelamatkan nyawa siapa pun.”

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa kematian pasien akibat krisis bahan bakar kini tak terhindarkan. “Ketika 40.000 orang tinggal di satu kilometer persegi, itu adalah resep pasti bagi munculnya wabah,” ujarnya. “Pendudukan mencegah bahan bakar masuk ke rumah sakit—itu berarti kematian. Kami tak butuh bantuan yang berlumuran darah anak-anak kami.”

Serangan Menyasar Infrastruktur Sipil

Militer Israel menyatakan serangan ditujukan ke infrastruktur militan dan lokasi peluncuran roket. Namun, kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa rumah-rumah warga sipil, tenda pengungsian, bahkan sekolah dan rumah ibadah menjadi sasaran. Di antara korban tewas, banyak adalah perempuan, anak-anak, dan lansia.

Sementara dunia internasional belum mengeluarkan respons resmi atas eskalasi terbaru ini, kemarahan publik meluas di media sosial. Gambar-gambar memilukan tentang anak-anak yang hancur oleh bom dan keluarga yang kehilangan segalanya menyulut kecaman global.

Di tengah kehancuran yang terus memburuk, Gaza tak hanya menghadapi kehampaan politik, tetapi juga kehilangan harapan atas rasa aman paling mendasar: tempat berlindung, makanan, dan nyawa yang bisa diselamatkan.

Tak hanya Gaza, wilayah Lebanon juga kembali menjadi sasaran. Serangan udara Israel dilaporkan menghantam wilayah timur hingga selatan negara itu. Video dan gambar kehancuran ramai tersebar di media sosial dan mengundang kecaman dari berbagai penjuru dunia.

Pembantaian di Tengah Perundingan

Pembantaian dan genosida terjadi di tengah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terbang ke Washington dan tim perunding bergerak ke Doha untuk membahas kemungkinan kesepakatan sandera. Namun, harapan akan gencatan senjata kembali menguap di tengah langit Gaza yang gelap dan berasap.

Putaran pertama perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel di Qatar resmi berakhir tanpa hasil. Dua sumber Palestina yang terlibat dalam proses menyebut kepada Reuters bahwa delegasi Israel datang tanpa mandat yang cukup untuk mengambil keputusan penting—termasuk soal gencatan senjata yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Di tengah ketegangan yang terus mendidih di lapangan, Presiden AS Donald Trump mencoba menebar harapan. Dalam pernyataannya pada Minggu, ia menyebut masih ada “peluang besar” tercapainya kesepakatan dalam minggu ini, yang katanya akan mencakup pembebasan “cukup banyak sandera.” Namun, pernyataan itu belum menjawab rasa cemas yang membayangi warga sipil di Gaza setiap malam.

Sementara itu, kantor media pemerintah Hamas membantah keras tuduhan Departemen Luar Negeri AS yang menyebut kelompok itu bertanggung jawab atas serangan di titik distribusi bantuan pada Sabtu lalu yang melukai dua warga Amerika. Bantahan itu dirilis secara resmi pada Minggu malam.

Situasi Makin Genting di Israel dan Tepi Barat

Dalam perkembangan terpisah, militer Israel mengumumkan rencana menerbitkan 54.000 surat wajib militer untuk mahasiswa seminari Yahudi ultra-Ortodoks. Langkah itu menyusul putusan Mahkamah Agung Israel yang mewajibkan kelompok tersebut mengikuti dinas militer. Tekanan juga datang dari pasukan cadangan yang sudah terlalu lama berjibaku di medan tempur.

Di sisi lain, militer Israel mengklaim telah melancarkan gelombang serangan udara ke kota pelabuhan Hodeida di Yaman dan beberapa wilayah lain yang dikuasai kelompok Houthi.

Kecaman Dunia dan Gelombang Solidaritas

Di panggung internasional, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva kembali menyuarakan sikap keras terhadap Israel. Berbicara dalam KTT BRICS di Rio de Janeiro, Lula mengatakan:

“Kita tidak bisa tetap diam menyaksikan genosida di Gaza, pembantaian warga sipil, dan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.”

Dari Yaman, kelompok Houthi mengklaim telah menyerang Bandara Ben Gurion di Israel—menyebabkan kepanikan massal dan menghentikan aktivitas penerbangan. Namun klaim tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Israel.

Sementara itu, Freedom Flotilla Coalition mengumumkan sedang mempersiapkan misi kemanusiaan baru ke Gaza. Ini merupakan upaya lanjutan setelah salah satu kapal mereka disita Israel di perairan internasional beberapa pekan lalu.

Sumber: Middleeasteye & Aljazeera

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement