Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyelenggarakan debat perdana Pemilihan Presiden 2024 di kantor mereka Jalan Imam Bonjol nomor 29, Jakarta Pusat, Selasa (12/12/2023) malam.
Debat dengan tema pemerintahan, hukum, HAM, pemberantasan korupsi, penguatan demokrasi, peningkatan layanan publik, dan kerukunan warga ini diikuti oleh tiga calon presiden yakni nomor urut 1 Anies Baswedan, nomor urut 2 Prabowo Subianto, dan nomor urut 3 Ganjar Pranowo.
Saat menyampaikan visi misi di acara tersebut Anies R. Baswedan menekankan pentingnya penegakan hukum sebagai landasan utama bernegara untuk mewujudkan keadilan, kebermanfaatan, dan kepastian bagi seluruh warga negara.
Ia dengan tegas menyatakan bahwa negara hukum harus dipegang teguh oleh semua pemegang kekuasaan, tanpa terkecuali.
"Negara hukum, menempatkan hukum sebagai rujukan utama untuk memastikan hadir rasa keadilan, memberikan kebermanfaatan, dan memberikan kepastian kepada semua. Ini harus dipegang teguh oleh pemegang kekuasaan, baik yang di puncak dan seluruh jajaran," ujar Anies di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (13/12/2023) malam.
Anies lalu menyampaikan keprihatinannya tentang aturan yang sering kali ditekuk sesuai dengan kepentingan penguasa yang sedang berkuasa. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa hal ini tidak boleh dibiarkan dan perubahan harus segera dilakukan.
"Kemudian kita menyaksikan betapa pada hari-hari ini tatanan ketika kita menyelenggarakan pemerintahan sering tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum yang kita pegang. Karena itulah kami melihat perubahan ini harus kita kembalikan. Negara ini adalah negara hukum, bukan negara kekuasaan. Dalam negara hukum, kekuasaan diatur oleh hukum. Dalam negara kekuasaan, hukum diatur oleh penguasa. Dan kita tidak menginginkan itu terjadi," tegas Anies.
Kritik Sering Dihadapi dengan Kekerasan
Anies juga menyentuh isu penting mengenai perlindungan terhadap milenial dan generasi Z yang menjadi aktor perubahan. Ia menyoroti bahwa ketika mereka mengungkapkan pendapat dan mengkritik pemerintah, mereka sering dihadapi dengan kekerasan, bahkan hingga penggunaan gas air mata.
"Ketika mereka mengungkapkan pendapat, ketika mereka mengkritik pemerintah, justru mereka sering dihadapi dengan kekerasan. Dihadapi dengan denturan dan bahkan gas air mata. Apakah kondisi ini akan dibiarkan? Tidak, kita harus lakukan perubahan," ujar Anies.
Dalam pidatonya, Anies Baswedan juga menyinggung kasus-kasus dramatis seperti peristiwa kekerasan rumah tangga yang dialami oleh Ibu Mega Suryani Dewi dan tuntutan keadilan atas kasus Harun Al Rasyid.
"Kita menyaksikan pada saat ini ada peristiwa seperti peristiwa Ibu Mega. Ibu Mega Suryani Dewi, seorang ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan rumah tangga. Lapor pada negara tidak diperhatikan dan dia meninggal korban kekerasan. Apakah akan dibiarkan? Tidak, ini harus diubah," tegas Anies.
Pidato Lengkap Anies
Berikut pidato lengkap Anies saat menyampaikan visi misi dalam acara debat perdana calon presiden di Kantor KPU:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam dan salam sejahtera untuk semuanya. Bismillahirrahmanirrahim.
Negara hukum, menempatkan hukum sebagai rujukan utama untuk memastikan hadir rasa keadilan, memberikan kebermanfaatan, dan memberikan kepastian kepada semua. Ini harus dipegang teguh oleh pemegang kekuasaan, baik yang di puncak dan seluruh jajaran.
Tapi apa yang terjadi? Banyak aturan ditekuk sesuai dengan kepentingan yang sedang memegang kekuasaan. Apakah ini akan diteruskan? Tidak. Ini harus diubah, ini harus dikembalikan.
Kemudian kita menyaksikan betapa pada hari-hari ini tatanan ketika kita menyelenggarakan pemerintahan sering tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum yang kita pegang. Karena itulah kami melihat perubahan ini harus kita kembalikan.
Negara ini adalah negara hukum, bukan negara kekuasaan. Dalam negara hukum, kekuasaan diatur oleh hukum. Dalam negara kekuasaan, hukum diatur oleh penguasa. Dan kita tidak menginginkan itu terjadi. Pada saat ini kalau kita lihat hukum itu harusnya tegak begini.
Inilah hukum, dalam kenyataannya dia bengkok, dia tajam ke bawah, dia tumpul ke atas. Dan kondisi ini tidak boleh didiamkan, tidak boleh dibiarkan dan harus berubah. Karena itu kita mendorong perubahan, mengembalikan hukum menjadi tegak kepada semuanya.
Dan bila kita saksikan hari ini ada satu orang milenial bisa menjadi calon wakil presiden. Tetapi ada ribuan milenial generasi Z yang peduli pada anak-anak bangsa, yang peduli pada mereka yang termarjinalkan.
Ketika mereka mengungkapkan pendapat, ketika mereka mengkritik pemerintah, justru mereka sering dihadapi dengan kekerasan. Dihadapi dengan denturan dan bahkan gas air mata. Apakah kondisi ini akan dibiarkan? Tidak, kita harus lakukan perubahan.
Oleh karena itu kami memperhatikan ini sebagai halal yang mendasar. Yang tidak kalah penting, ini kedua nih yang tidak kalah penting. Kita menyaksikan pada saat ini ada peristiwa seperti peristiwa Ibu Mega.
Ibu Mega Suryani Dewi, seorang ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan rumah tangga. Lapor pada negara tidak diperhatikan dan dia meninggal korban kekerasan. Apakah akan dibiarkan? Tidak, ini harus diubah. Dan tidak kalah penting, hadir bersama saya di sini ayahnya Harun Al Rasyid.
Harun Al Rasyid adalah anak yang meninggal. Pendukung Pak Prabowo di Pilpres 2019 yang menuntut keadilan pada saat itu. Protes hasil pemilu, apa yang terjadi? Dia tewas sampai dengan hari ini, tidak ada kejelasan. Apakah ini akan dibiarkan? Tidak, ini harus diubah. Karena itu kami mendedikasikan diri, hadir untuk memberikan komitmen. Bahwa dari puncak sampai ke bawah kami akan tegakkan hukum pada siapa saja.
Kami kembalikan marwah kehidupan bernegara yang menempatkan hukum sebagai tempat yang paling tinggi. Dan ketentuan itu berlaku kepada semua termasuk ketika menyangkut urusan ASN, menyangkut urusan TNI dan Polri. Terima kasih, Assalamualaikum Wr. Wb.
