Joko Anwar akhirnya mengumumkan proyek film terbarunya yang bertajuk "Legenda Kelam Malin Kundang". Kali ini Joko Anwar turut andil bukan sebagai sutradara melainkan sebagai penulis skenario. Tak bekerja sendiri, dalam proses penulisan skenario film ini Joko Anwar dibantu oleh Aline Djayasukmana dan Rafki Hidayat.
Film "Legenda Kelam Malin Kundang" disutradarai oleh Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat yang masing-masing mempersembahkan debut mereka dalam penyutradaraan film panjang.
Rumah produksi yang menggarap film ini adalah Come and See Pictures, yang dipimpin oleh Joko Anwar dan Tia Hasibuan dan dikenal dengan proyek-proyek berkualitas tinggi dan beragam genre.
Film ini dijadwalkan untuk dirilis secara internasional dengan judul "Smothered" dan akan tampil di Marche du Film Cannes 2025, salah satu acara pasar film terbesar di dunia. Ini adalah langkah strategis untuk memperkenalkan film Indonesia di pasar internasional.
Untuk penayangan di bioskop Indonesia, film ini direncanakan tayang pada akhir tahun ini, memberikan harapan bagi penonton lokal untuk segera menikmati kisah yang menarik ini.
Nama Besar sebagai Pemain Utama
Film "Legenda Kelam Malin Kundang" juga mengumumkan kehadiran dua bintang utama, yakni Rio Dewanto dan Faradina Mufti yang dipastikan akan memerankan peran sentral dalam film tersebut.
Pengumuman ini juga menandai reuni antara Rio Dewanto dan sutradara Joko Anwar, setelah sebelumnya keduanya berkolaborasi dalam beberapa film, termasuk "Modus Anomali" dan "Gundala".
Faradina Mufti yang telah berkolaborasi dengan Joko Anwar dalam film "Siksa Kubur", "Sri Asih", dan "Perempuan Tanah Jahanam" pun turut mengambil bagian dalam film ini.
Sinopsis dan Latar Belakang Cerita
Film ini terinspirasi dari salah satu legenda terkenal dari masyarakat Minangkabau. Plotnya berfokus pada seorang seniman lukisan mikro bernama Alif, yang diperankan oleh Rio Dewanto, yang mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya ingatan. Setelah pulih, Alif pulang ke rumah dengan istrinya, Nadine (diperankan oleh Faradina Mufti), dan anak mereka Emir.
Masalah muncul ketika Alif tidak mengenali ibunya, yang datang berkunjung. Ketidakpastian ini menimbulkan konflik yang dalam, sejalan dengan kisah Malin Kundang, di mana seorang anak tidak mengakui ibunya setelah merantau dan meraih kesuksesan.
