Speech delay atau keterlambatan bicara adalah kondisi di mana anak mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa pada usia yang diharapkan.
Keterlambatan ini dapat memengaruhi cara anak mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kata-kata, serta kemampuan memahami komunikasi dari orang lain.
Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda, namun adanya patokan tertentu perlu diperhatikan orang tua untuk memastikan tumbuh kembang yang optimal.
Secara umum, terdapat sejumlah penyebab yang umum ditemui pada anak dengan speech delay, meliputi:
-
Anak yang memiliki masalah pendengaran mungkin kesulitan dalam mendengar suara, yang berdampak pada kemampuan mereka untuk berbicara.
-
Anak yang tidak mendapatkan interaksi verbal yang cukup dari orang tua dan lingkungan sekitar berisiko mengalami keterlambatan dalam berbicara.
-
Kondisi seperti cerebral palsy atau autisme dapat memengaruhi perkembangan bicara dan bahasa.
-
Riwayat keluarga yang mengalami keterlambatan bicara juga dapat berkontribusi pada risiko anak.
Oleh karenanya, penting bagi orang tua mendeteksi tanda-tanda awal dari speech delay. Deteksi dini bisa jadi krusial untuk langkah penanganannya. Apa saja tanda-tanda awal dari speech delay? Berikut penjelasannya.
Tanda-tanda speech delay pada anak
Sejumlah tanda berikut bisa jadi patokan bagi orang tua untuk mendeteksi apakah anak berisiko mengalami speech delay:
1. Kemampuan bicara tak sesuai usia
Mengetahui kemampuan bicara anak sesuai dengan usia mereka sangat penting.
Pada usia 12 bulan, anak diharapkan sudah bisa mengucapkan kata-kata seperti "mama" atau "papa."
Ketika anak berusia 2 tahun, mereka seharusnya dapat mengucapkan sebanyak 50 kata dan merangkai kalimat sederhana.
Apabila anak tidak mampu mencapai kemampuan tersebut, ini bisa menjadi tanda adanya keterlambatan bicara.
2. Kurang bisa merespons secara emosional
Anak dengan speech delay mungkin tidak menunjukkan reaksi emosional yang sesuai dalam interaksi sosial.
Misalnya, mereka bisa kesulitan merasakan dan mengekspresikan kebahagiaan, kesedihan, atau ketakutan.
Perilaku ini juga dapat mencakup kurangnya kontak mata dengan orang lain atau cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Hal ini perlu dicermati oleh orang tua untuk mendapatkan bantuan yang tepat.
3. Sulit mengucapkan kosakata
Anak dengan keterlambatan bicara sering kali menunjukkan kesulitan dalam pengucapan kata, membuat artikulasi mereka terdengar tidak jelas.
Selain itu, mereka mungkin mengalami stagnasi dalam kosakata, tidak mampu menambah jumlah kata yang mereka kuasai seiring berjalannya waktu.
Jika anak lebih sering mengulangi kata-kata yang sama dan tidak mampu memproduksi kata-kata baru, ini juga menjadi tanda yang harus diperhatikan.
Kapan harus membawa anak ke dokter?
Orang tua harus mencari bantuan medis ketika mereka merasa anak tidak memenuhi kriteria perkembangan bicara sesuai dengan usia anak.
Sebagai patokan, anak sebaiknya diperiksa jika:
-
Pada usia 18 bulan, anak tidak menggunakan dua kata yang berbeda.
-
Pada usia 2 tahun, anak tidak mengucapkan setidaknya 25 kata atau tidak mungkin merangkai kalimat dua kata.
-
Pada usia 3 tahun, anak tidak memiliki kosakata sekitar 200 kata atau tidak mampu berbicara dalam kalimat tiga atau empat kata.
Ketika orang tua membawa anak ke dokter, langkah pertama yang biasa dilakukan adalah mengajukan beberapa pertanyaan mengenai perkembangan bicara anak.
Dokter juga biasanya akan memeriksa pendengaran dan kesehatan bucal anak untuk mengevaluasi apakah ada hambatan fisik dalam kemampuan berbicara mereka.
Berdasarkan hasil evaluasi awal, dokter mungkin akan merujuk anak ke spesialis lain seperti ahli terapi bicara dan bahasa atau audiolog.
Perawatan dapat mencakup terapi wicara, latihan fonetik, serta penguatan stimulasi verbal di rumah.
