Siapa Itu Ki Hajar Dewantara? Bapak Pendidikan Nasional

1 Mei 2024 10:05 WIB

Narasi TV

Ki Hadjar Dewantara. Sumber: Wikimedia Commons.

Penulis: Moh. Afaf El Kurniawan

Editor: Margareth Ratih. F

Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, memiliki profil yang luar biasa sebagai seorang wartawan, pendiri partai politik berasas nasionalisme, dan pejuang pendidikan, kebudayaan, serta kemerdekaan.

Hari lahirnya yang jatuh pada tanggal 2 Mei menjadi momen penting sebagai peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Dilahirkan pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat, Ki Hajar Dewantara berasal dari keluarga bangsawan Jawa, sebagai putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu dari Sri Paku Alam III.

Meskipun berasal dari kalangan bangsawan, Ki Hajar Dewantara tidak melupakan perjuangan hak-hak kesetaraan kaum bumiputera, terutama dalam bidang pendidikan.

Pendidikan Ki Hajar Dewantara dimulai di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar Belanda. Namun, kondisi kesehatannya membuatnya tidak dapat naik kelas dan beasiswanya di sekolah kedokteran, STOVIA, dicabut.

Meskipun dikaitkan dengan alasan sakit, ada dugaan bahwa pencabutan beasiswa Ki Hajar Dewantara memiliki muatan politis dari pemerintah Hindia-Belanda.

Pemerintah tidak menyukai sikapnya yang menggugah semangat nasional untuk memberontak dan kritiknya terhadap kebijakan kolonial.

Setelah tidak berhasil menamatkan pendidikan di STOVIA, Ki Hajar Dewantara beralih profesi menjadi jurnalis. Bergabung dengan berbagai organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij, Ki Hajar Dewantara memiliki rekan seperjuangan seperti Dr.Ernest François Eugène Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) dan dr. Cipto Mangunkusumo, dikenal sebagai "Tiga Serangkai". 

Sang bapak pendidikan

Pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, sebuah institusi pendidikan yang menjadi awal dari sistem pendidikan nasional di Indonesia. 

Taman Siswa berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang merata tanpa membedakan status ekonomi, dan hal ini menjadi dasar bagi sistem pendidikan yang kita miliki saat ini.

Ki Hajar Dewantara terkenal dengan prinsip pendidikannya yang dikenal sebagai “Tjeritera” atau “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” Filosofi ini mengandung arti bahwa seorang pendidik harus menjadi contoh yang baik, membangun semangat untuk mencapai kebaikan, dan memberikan bimbingan kepada peserta didik.

Sebagai jurnalis, Ki Hajar Dewantara semakin berani dalam memberikan kritikan, termasuk menentang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Indonesia.

Kritiknya yang pedas terhadap penjajah disampaikan melalui risalah "Als ik eens Nederlander was" (Andai aku seorang Belanda), yang membuat pemerintah Hindia-Belanda marah.

Kritiknya mengakibatkan Ki Hajar Dewantara dan "Tiga Serangkai" diasingkan ke Belanda. Di sana, ia tetap menjadi jurnalis untuk surat kabar dan majalah Belanda, seperti "Het Volk" dan "De Nieuwe Grone Amsterdamer", menyuarakan cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia meski dalam keterbatasan hidupnya.

Keberanian Ki Hajar Dewantara dalam menyuarakan aspirasi dan kritiknya, serta perjuangannya dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan kemerdekaan, menjadikannya sebagai salah satu tokoh pahlawan nasional yang dihormati di Indonesia.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR