Advertisement

Kualitas Udara Jakarta Tempati Peringkat Terburuk Kedua di Dunia

17 June 2026 11:39 WIB

thumbnail-article

Arsip-Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta Sumber: ANTARA.

Penulis: Elok Nuri

Editor: Elok Nuri

Kualitas udara Jakarta tengah dikabarkan sangat memprihatinkan. Berdasarkan data dari situs pemantau kualitas udara IQAir pada pagi ini, Kamis, 17 Juni 2026, Jakarta menjadi salah satu kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia.

Indeks kualitas udara (AQI) kota metropolitan itu berada di angka 175 dengan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2.5 berkonsentrasi 88,5 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi PM 2.5 di Jakarta ini jauh melampaui standar aman yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Posisi pertama ditempati oleh kota Lahore di Pakistan dengan AQI mencapai angka 382. Sementara posisi ketiga diikuti oleh Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, dengan indeks kualitas udara di angka 163. Santiago, Chili menempati posisi keempat dengan indeks kualitas udara di angka 153.

Dalam situasi kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat ini, masyarakat dianjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika aktivitas tidak dapat dihindari, penggunaan masker menjadi tindakan preventif penting guna mengurangi paparan polutan berbahaya.

Selain itu, disarankan pula menutup jendela rumah untuk menghindari masuknya udara tercemar dan menggunakan alat penyaring udara di dalam ruangan.

Sumber Utama Polusi Udara di Jakarta

Sektor transportasi merupakan penyumbang terbesar polusi udara di Jakarta, dengan estimasi mencapai 50 persen dari total emisi gas buang di wilayah kota. Padatnya kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar fosil, menghasilkan gas berbahaya seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, dan partikulat yang berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan emisi yang dihasilkannya, pemerintah provinsi DKI Jakarta telah mengembangkan layanan transportasi publik, seperti bus Transjabodetabek, dengan perluasan rute-rute strategis seperti Blok M-Alam Sutera dan Blok M-PIK 2, bahkan berencana membuka rute baru menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Selain itu, ada target ambisius untuk mengoperasikan 10.000 unit bus listrik Transjakarta pada tahun 2030 guna mengurangi emisi dari sektor transportasi secara signifikan.

Sektor pengelolaan sampah juga menjadi faktor penyumbang emisi di Jakarta. Sampah yang tidak terkelola dengan baik dapat menghasilkan gas metana dan polutan lain yang memperburuk kondisi udara.

Sebagai solusi, Pemerintah Provinsi DKI mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) yang berlokasi di beberapa tempat strategis seperti Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.

Fasilitas ini bertujuan untuk memproses sampah secara efisien dan ramah lingkungan, sehingga mampu menurunkan emisi gas rumah kaca serta bahan pencemar lain yang berasal dari sampah yang menumpuk atau dibakar secara ilegal.

Kondisi cuaca di Jakarta juga berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara. Suhu udara yang terasa lebih gerah disertai tingkat kelembapan tertentu dapat membuat polutan udara lebih terkonsentrasi atau sulit terbawa angin.

Kondisi suhu tinggi dan kelembapan yang tidak normal dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya kabut asap atau smog yang membahayakan kesehatan.

Selain itu, aliran udara yang terbatas di tengah kota akibat keberadaan gedung tinggi dan kondisi geografis juga menyebabkan polutan sulit tersebar dan terperangkap di area urban, sehingga memperparah kualitas udara di Jakarta.

Dampak Paparan Polusi Udara Terhadap Kesehatan

Berikut dampak polusi udara bagi kesehatan yang tidak dapat dianggap remeh.

Gangguan Sistem Pernapasan dan Paru-paru

Paparan partikel halus PM 2.5 dan polutan udara lainnya dapat menimbulkan inflamasi atau peradangan pada saluran pernapasan. Paparan jangka panjang meningkatkan risiko berbagai penyakit paru kronis, seperti bronkitis dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Selain itu, paparan polusi juga dapat memperburuk kondisi alergi dan asma.

Kanker paru-paru, terutama jenis adenokarsinoma, juga menjadi salah satu risiko serius yang meningkat dengan paparan PM 2.5. Risiko ini bahkan berkali lipat bagi perokok aktif yang terpapar polusi udara tinggi secara kronis.

Pengaruh Terhadap Kesehatan Jantung dan Otak

Partikel halus tersebut dapat memasuki aliran darah dan berdampak buruk pada kesehatan kardiovaskular. Polusi udara dapat memicu peradangan sel dan pembentukan bekuan darah yang berkontribusi terhadap penyumbatan pembuluh darah atau oklusi vaskular, sehingga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Dampak pada otak juga sangat serius, di mana partikel polutan bisa menimbulkan inflamasi pada jaringan saraf, merusak sel otak, dan mempercepat proses degenerasi yang bisa memicu gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Selain itu, paparan polusi berhubungan dengan peningkatan frekuensi migrain dan gangguan konsentrasi.

Dampak pada Kulit dan Mata

Paparan polutan udara juga berdampak langsung pada kulit, di mana partikel PM 2.5 dapat masuk melalui pori-pori dan menimbulkan kerusakan fungsi sel. Hal ini dapat memicu ruam, gatal, eksim, bahkan mempercepat proses penuaan dini akibat stres oksidatif.

Mata yang terpapar polutan cenderung mengalami iritasi, peradangan, hingga gangguan fungsi lapisan air mata. Gejala yang umum muncul yaitu mata kering, merah, gatal, konjungtivitis, dan dalam kasus parah dapat mengganggu penglihatan.

Gejala umum lain yang timbul akibat paparan polusi udara antara lain batuk, pilek, bersin, iritasi saluran hidung, dan kesulitan bernapas atau sesak napas. Pada kulit dapat muncul rasa gatal dan ruam merah.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement