Berbagai kekhawatiran muncul imbas pembuangan limbah nuklir Jepang dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima ke Samudera Pasifik. Meskipun menurut PBB tidak akan berdampak signifikan terhadap manusia dan lingkungan, tetap saja banyak pihak mencemaskannya.
Kementerian Luar Negeri Jepang juga merilis proses pemurnian air akibat kontaminasi zat radioaktif sebelum dilepas ke laut. Prosesnya mulai dari pemrosesan cairan tahap lanjut, penyimpanan dalam tangki, pengenceran, hingga kemudian dilepaskan ke laut.
Perusahaan Listrik Tokyo Tepco menyebut bahwa air saringan tersebut tidak sepenuhnya bebas radiasi. Masih ada kandungan tritium atau isotop radioaktif hidrogen dan karbon yang tidak mudah dihilangkan dari air.
Para ahli meyakini bahwa zat-zat tersebut tidaklah berbahaya, kecuali jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak. Tak heran jika banyak pihak yang mencemaskan limbah tersebut, terutama negara tetangga seperti China dan Korea Selatan.
Kekhawatiran negara tetangga
Berbagai kekhawatiran yang muncul berasal dari negara tetangga, salah satunya adalah China. Bahkan, Pemerintah China turut mengeluarkan kebijakan berupa larangan konsumsi produk akuatik dari Jepang. China mengkhawatirkan adanya risiko kontaminasi radioaktif melalui makanan dari Jepang.
“Pihak Jepang tidak boleh menyebabkan kerugian sekunder terhadap masyarakat lokal dan masyarakat dunia karena kepentingan egoisnya sendiri,”ujar Kementerian Luar Negeri Jepang dilansir dari Reuters.
Sebaliknya, pihak Jepang justru mengkritik pernyataan China. Menurutnya, klaim China ini tidak berdasar secara ilmiah. Ia meminta agar China mencabut larangan impor akuatik dan berdiskusi mengenai dampak pelepasan secara ilmu pengetahuan.
Pelepasan nuklir ini sudah diajukan oleh Pemerintah Jepang sejak dua tahun lalu. Mereka mendapat lampu hijau dari pengawas nuklir PBB pada Juli 2023. Pembuangan pertama akan berlangsung selama 17 hari dengan membuang limbah sebanyak 7.800 meter kubik.
Selain itu, International Atomic Energy Agency (IAEA) juga menyebut bahwa dampak bagi manusia dan lingkungan dapat diabaikan. Ini berdasarkan hasil analisis independen di lapangan bahwa konsentrasi tritiumnya jauh di bawah batas.
Dampak bagi Indonesia
Menurut Kepala Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Institut Pertanian Bogor Prof Hefni Effendi, Indonesia tidak bisa langsung menolak tindakan Jepang. Pasalnya, Indonesia sudah menyetujui Convention on the Prevention of Marine Pollution.
Meski begitu, Hefni menyarankan agar limbah tersebut tidak dibuang ke laut lantaran dapat menyebabkan transboundary pollution (pencemaran arus laut antar negara). Apalagi limbah nuklir mengandung zat radioaktif yang berumur panjang sehingga peluruhannya membahayakan perairan dunia.
“Biota laut bisa mati. Karena dia (biota laut) kan menelan radiasi yang berumur panjang. Itu toksik semua,”ujar Pakar Nuklir Universitas Gadjah Mada Yudi Utomo, dilansir dari detikEdu.
Sebelumnya, Jepang mengumumkan akan melepas limbah PLTN Fukushima Daiichi pada akhir Agustus. Sejak tsunami tahun 2011 yang merusak PLTN, lebih dari satu juta ton air limbah terkumpul di sana hingga membuatnya kekurangan tangki untuk menampung.
Meski diprotes oleh banyak pihak, Pemerintah Jepang tetap melepas limbah nuklir tersebut. Mereka akan terus melakukan pemantauan saat air dilepaskan. Mereka juga berjanji akan menghentikan pembuangan jika pihaknya mendeteksi ada bahan radioaktif yang sangat tinggi.
