Lagu “Gemuruh Riuh” sempat viral di media sosial, khususnya TikTok, usai dirilis pada awal tahun 2024.
Lagu ini merupakan pembuka dari album Mighfar Suganda berjudul Gemuruh Riuh, sekaligus menjadi satu-satunya lagu berbahasa Indonesia dalam album tersebut.
Hanya dalam waktu beberapa hari sejak dirilis, lagu “Gemuruh Riuh” telah digunakan oleh ratusan orang di TikTok dan didengarkan oleh puluhan ribu orang di Spotify.
Menurut Mighfar, pembuatan lagu “Gemuruh Riuh” berawal dari permintaan seorang selebgram dan seleb TikTok bernama Denok Ayu. Ia meminta Mighfar untuk membuatkannya lagu berdasarkan kisah dan keresahannya.
Mighfar menerima permintaan ini dan menganggapnya tantangan. Sebagai seorang penulis lagu, ia menempatkan dirinya di dalam sepatu orang lain dan bercerita dari sudut pandang orang tersebut.
Jika menilik lirik pembukanya, orang mungkin akan berpikir bahwa “Gemuruh Riuh” adalah lagu tentang patah hati. Namun, apabila ditelisik lebih jauh, jelas bahwasannya lagu ini bercerita tentang konflik keluarga.
Lebih tepatnya, “Gemuruh Riuh” merupakan curhatan kalut dari seseorang yang memiliki hubungan kurang harmonis dengan saudaranya sendiri.
Meski tinggal di bawah satu atap yang sama, ia dan saudaranya punya nasib yang sangat berbeda. Demikian pula perlakuan yang didapatkan oleh keduanya, sungguh bertolak belakang bagaikan dua poros kutub.
Pada akhirnya, hubungan sedarah pun tak lantas membuat keduanya jadi dekat. Malahan, mereka bak dua orang asing yang tak pernah mengenal satu sama lain, seolah mereka tak berasal dari rahim yang sama.
Lirik “Gemuruh Riuh” - Mighfar Suganda
Gemuruh riuh dari tuturmu
Menusuk jantungku
Dalam benakku selalu
Ratusan hari lama namaku
Tak pernah lagi kau sebut
Andai kulihat kilat
Gemuruh seisi rumah
Tanpa kusempat bertanya mengapa?
Telapak tangan tak pernah
Berjabat dengan dirimu
Bola mata tak pernah
Lagi saling menatap
Kita dekat tapi jauh
Kita kenal tapi asing
Rintik hujan menggelitik
Pelan merembes kamarku
Dingin lembab menemani
Ku menangis malam ini
Sedang kamarmu hangat
Perapian dan selimut
Lekat merangkulmu
Sekian lama
Serumah tapi tak searah
Sedarah
Keras tingkahmu tuturmu
Gemuruh riuh dari tuturmu
Menusuk jantungku
Dalam benakku selalu
Ratusan hari lama namaku
Tak pernah lagi kau sebut
Andai kulihat kilat
Gemuruh seisi rumah
Tanpa kusempat bertanya mengapa?
