Setiap tanggal 14 Agustus diperingati Hari Pramuka Indonesia. Perkembangan pramuka di Indonesia telah berlangsung sejak 14 Agustus 1961 dan tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para tokoh di belakangnya.
Pernahkah kamu bertanya-tanya, siapa tokoh yang berjasa menggerakkan organisasi yang memegang peranan penting dalam mewujudkan generasi yang berbudi luhur dan tangguh yang kita kenal sekarang ini?
Jika dunia punya Robert Baden-Powell sebagai Bapak Pramuka (Pandu) Sedunia, Indonesia juga memiliki Bapak Pramuka Indonesia yang berasal dari Kesultanan Yogyakarta, ia beliau adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjadi pencetus kata Pramuka yang merupakan singkatan dari Praja Muda Karana. Berikut sejarah Bapak Pramuka Indonesia yang Narasi dihimpun dari berbagai sumber.
Profil Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Mengutip laman Pramukasmantika.or.id, Sri Sultan Hamengkubuwono IX lahir pada tanggal 12 April 1912 di Yogyakarta, dengan nama asli Gusti Raden Mas Dorojatun. Ia merupakan putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah.
Sejak kecil, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menunjukkan bakat luar biasa dalam berbagai aspek, termasuk kepemimpinan dan pendidikan. Keluarganya yang berasal dari kalangan kerajaan memberi pengaruh yang besar terhadap perkembangan karakternya.
Pendidikan awalnya dimulai di Hollands Inlandse School (HIS) di Yogyakarta. Ia melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yang setara dengan SMP, di Semarang. Kemudian, ia melanjutkan ke Algemeene Middelbare School (AMS) di Bandung.
Kemampuan akademisnya membawanya ke Universiteit Leiden di Belanda, di mana ia belajar ilmu sosial dan politik, yang sangat berpengaruh dalam karirnya selanjutnya. Sebelum terjun ke dunia Pramuka, Sri Sultan Hamengkubuwono IX sudah aktif dalam berbagai organisasi pendidikan dan sosial.
Kegiatan-kegiatannya menunjukkan asa dan keinginannya untuk berkontribusi bagi masyarakat. Dalam periode ini, ia mulai mengembangkan visi tentang pentingnya pendidikan kepanduan sebagai sarana untuk menumbuhkan karakter generasi muda Indonesia.
Kontribusinya Pembentukan Gerakan Pramuka
Setelah Indonesia merdeka, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjadi salah satu tokoh penting yang diajak berdialog oleh Presiden Soekarno dalam upaya menyatukan organisasi kepanduan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Saat itu, Soekarno yang menginginkan satu organisasi kepanduan yang dapat bersinergi dengan program pemerintah, seringkali meminta masukan dan saran dari Sultan.
Pada tanggal 9 Maret 1961, Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersama beberapa tokoh pemuda lainnya membentuk Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota panitia ini terdiri dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, dan Achmadi. Melalui kerjasama intensif, mereka merumuskan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang kemudian akan menjadi landasan bagi organisasi tersebut.
Setelah melalui proses yang panjang, pada tanggal 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka secara resmi diluncurkan melalui penetapan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 238.
Pengesahan ini menjadikan Pramuka sebagai organisasi nasional yang merangkul semua gerakan kepanduan di Indonesia, dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai salah satu penggagas utamanya.
Kiprah Sultan Di Kepramukaan
Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka dari tahun 1961 hingga 1974.
Dalam kurun waktu 13 tahun ini, ia memperlihatkan kepemimpinan yang inspiratif dan inovatif. Ia berhasil memegang kendali dalam mengembangkan dan memodernisasi gerakan ini, sehingga dapat menarik perhatian lebih banyak generasi muda.
Salah satu kontribusi paling signifikan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah perkenalan Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka. Tri Satya berisi tiga janji yang harus dipatuhi oleh setiap anggota Pramuka, sedangkan Dasa Dharma terdiri dari sepuluh poin etika dan nilai yang menjadi panduan moral dalam berperilaku.
Selama masa kepemimpinannya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX membawa banyak perubahan dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan penting. Salah satu yang paling dikenang adalah Perkemahan Satya Dharma pada tahun 1964 dan perkemahan pertama Pramuka Nasional pada tahun 1968, yang berfungsi sebagai wadah untuk meningkatkan keterampilan dan kebersamaan para anggota Pramuka.
Tidak hanya itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga mencetuskan nama Pramuka, terinspirasi dari kata Poromuko atau “pasukan terdepan dalam perang”. Istilah Pramuka yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwana IX kemudian diejawantahkan menjadi Praja Muda Karana yang berarti “Jiwa Muda yang Suka Berkarya”.
Penghargaan dan Pengakuan Internasional
Kontribusi Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam dunia Pramuka diakui secara internasional. Pada tahun 1973, ia dianugerahi Bronze Wolf Award oleh World Organization of the Scout Movement (WOSM). Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan tertinggi atas jasa yang telah diberikan dalam pengembangan gerakan kepanduan di seluruh dunia.
Selain itu, pada tahun 1972, beliau juga mendapatkan Silver World Award dari Boy Scouts of America. Penghargaan ini merupakan pengakuan lain yang menegaskan komitmen dan dedikasi Sultan dalam mengembangkan Pramuka di Indonesia dan dunia internasional.
Sultan juga memperoleh sebutan "Pandu Agung". Sebutan ini merujuk kepada perannya sebagai panutan dalam Gerakan Pramuka, yang saling berhubungan dengan pengembangan karakter dan jiwa pemuda untuk berpikiran positif dan berkontribusi bagi bangsa. Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada gerakan kepanduan, tetapi juga memberikan dampak sosial yang luas bagi masyarakat di Indonesia.
