Advertisement

Mikroplastik di Air Hujan Jakarta: Ancaman Tersembunyi dari Langit

23 October 2025 10:19 WIB

thumbnail-article

Warga berteduh dengan payung ketika hujan lebat mengguyur kawasan MH Thamrin dan Bundaran HI Sumber: ANTARA.

Penulis: Elok Nuri

Editor: Elok Nuri

Air hujan yang selama ini kita anggap sebagai air bersih dan segar ternyata menyimpan mikroplastik berbahaya. Temuan ini berdasarkan hasil penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang bertajuk “The Deposition of Atmospheric Microplastics in Jakarta-Indonesia: The Coastal Urban Area”.

Penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2022 ini menunjukkan adanya partikel plastik mikroskopis dalam setiap sampel air hujan yang diambil dari wilayah Ibu Kota. Mikroplastik tersebut berasal dari berbagai aktivitas manusia di lingkungan perkotaan dan menjadi indikator polusi yang semakin mendalam yang tidak hanya mencemari tanah dan laut, tetapi juga atmosfer.

“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” kata Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova melalui keterangan tertulis pada Jumat, 17 Oktober 2025.

Temuan ini memperlihatkan betapa seriusnya masalah polusi plastik di Jakarta, yang kini telah mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan masyarakat.

Menurut peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova, tingginya jumlah mikroplastik dalam air hujan menunjukkan bahwa tidak hanya dampak limbah plastik terlihat di daratan dan lautan, tetapi juga telah mencemari lingkungan yang lebih luas – atmosfer.

Proses yang dikenal dengan istilah "atmospheric microplastic deposition" menunjukkan kompleksitas penyebaran polusi plastik, yang berputar dalam siklus lingkungan yang terus berulang.

Reza juga menjelaskan, mikroplastik ini umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan.

“Siklus plastik tidak berhenti di laut, tapi naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” tutur Reza.

Meski penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan, studi global menunjukkan bahwa paparan mikroplastik dapat menimbulkan dampak kesehatan serius, seperti stres oksidatif, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan. Dari sisi lingkungan, air hujan yang mengandung mikroplastik berpotensi mencemari sumber air permukaan dan laut, yang akhirnya masuk ke rantai makanan.

Bahaya Mengonsumsi Air Hujan

Kesadaran untuk tidak mengonsumsi air hujan secara langsung kini semakin mendesak. Peneliti BRIN mengingatkan bahwa mengonsumsi air hujan tanpa pengolahan yang tepat dapat berisiko bagi kesehatan. Selain mengandung mikroplastik, air hujan juga dapat membawa berbagai polutan lainnya dan mikroba patogen yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Reza menilai, gaya hidup urban modern menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya mikroplastik di atmosfer. Dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa dan kendaraan mencapai 20 juta unit, Jakarta menghasilkan limbah plastik dalam jumlah besar setiap hari.

“Sampah plastik sekali pakai masih banyak, dan pengelolaannya belum ideal. Sebagian dibakar terbuka atau terbawa air hujan ke sungai,” katanya.

Salah satu risiko kesehatan akibat mengonsumsi air hujan yang terkontaminasi adalah peradangan dan iritasi yang bisa terjadi setelah terpapar partikel-partikel berbahaya. Penyebaran polutan dari air hujan yang mengandung mikroplastik sangat mungkin menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih serius jika tidak diatasi. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk melakukan filtrasi dan pengolahan air hujan sebelum digunakan atau dikonsumsi.

Dari perspektif yang lebih luas, dampak polusi udara di Jakarta juga berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat. Polusi ini dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti penyakit pernapasan, alergi, serta gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Dengan demikian, penanganan masalah mikroplastik harus menjadi prioritas dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Langkah Mengatasi Polusi Mikroplastik

Mengatasi masalah polusi mikroplastik memerlukan pendekatan beragam dan kolaborasi lintas sektor. Salah satu langkah awal yang perlu diambil adalah memperbaiki pengelolaan limbah plastik. Ini mencakup pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan peningkatan fasilitas daur ulang, agar limbah plastik tidak terbuang sembarangan atau dibakar.

Edukasi masyarakat juga menjadi salah satu faktor kunci dalam mengurangi polusi mikroplastik. Masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang pentingnya memilah sampah, menggunakan alternatif ramah lingkungan, dan memahami bahaya yang diakibatkan oleh limbah plastik yang tidak dikelola dengan baik. Hal ini dapat membantu menurunkan volume mikroplastik yang terlibat dalam siklus lingkungan dan menjaga kualitas air yang lebih baik.

Selanjutnya, kolaborasi lintas sektor dalam penelitian dan pemantauan kualitas udara dan air hujan harus diperkuat. Memastikan bahwa penelitian dilakukan secara rutin memungkinkan pemangku kebijakan untuk mengambil tindakan cepat dalam menangani masalah mikroplastik.

Dengan langkah-langkah tersebut, Jakarta berharap dapat memperbaiki keadaan lingkungan dan mencegah dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat di masa mendatang.

Secara keseluruhan, mikroplastik di air hujan Jakarta mencerminkan perilaku manusia terhadap lingkungan. Dengan kesadaran dan tindakan yang tepat dari seluruh lapisan masyarakat, dapat diharapkan bahwa kualitas lingkungan akan membaik dan ancaman mikroplastik dapat ditekan.

Menurut Reza, hujan yang kini mengandung partikel plastik adalah refleksi dari perilaku manusia terhadap bumi.

“Langit Jakarta sebenarnya sedang memantulkan perilaku manusia di bawahnya. Plastik yang kita buang sembarangan, asap yang kita biarkan mengepul, sampah yang kita bakar karena malas memilah semuanya kembali pada kita dalam bentuk yang lebih halus, lebih senyap, tapi jauh lebih berbahaya.,” ucap Reza.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement