Advertisement

MUI Canangkan "Jihad Digital", Waspadai Risiko Belajar Agama Melalui AI

24 July 2026 22:11 WIB

thumbnail-article

Wakil Ketua Umum MUI Muhammad Cholil Nafis di sela-sela kegiatan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 di Jakarta, Jumat (24/7/2026). Sumber: ANTARA/Sean Filo Muhamad.

Penulis: Ely Alwiyah

Editor: Ely Alwiyah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencanangkan konsep "jihad digital" sebagai sebuah langkah strategis untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya mempelajari ilmu agama hanya dengan mengandalkan mesin sepeti kecerdasan buatan (AI) tanpa adanya bimbingan dari guru yang jelas.

Wakil Ketua Umum MUI Muhammad Cholil Nafis di sela-sela kegiatan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 di Jakarta, Jumat (24/7), menegaskan penting bagi setiap umat Islam untuk memastikan bahwa ilmu agama yang mereka pelajari memiliki sanad yang jelas, yaitu rantai transmisi keilmuan dari guru ke murid yang menjamin keabsahan dan keotentikan ilmu tersebut.

Cholil menilai teknologi AI maupun media digital boleh saja digunakan sebatas sebagai inspirasi atau alat untuk mencari tahu informasi awal. Namun, hal tersebut tidak bisa dijadikan sandaran mutlak untuk belajar agama.

"Belajar agama itu butuh transmisi keilmuan yang disebut dengan sanad. Ada yang menjamin bahwa itu benar, orisinal, dan valid. Sementara dari media (AI) itu sering kita lihat mungkin sebagian benar, tapi sebagian salah," ujarnya.

Peran Ulama dalam Pembelajaran Agama di Era Digital

Melalui momentum KUII, MUI secara tegas mengingatkan batas-batasan penggunaan teknologi informasi dalam urusan keimanan.

Dalam menghadapi arus digitalisasi yang semakin kuat, ulama tetap memegang peranan sentral sebagai sumber autentik ilmu keislaman. Ulama tidak hanya sebagai perawi ilmu agama tetapi juga sebagai teladan moral dan spiritual yang tidak bisa digantikan oleh mesin atau AI.

"Berguru harus kepada orang, kepada ulama, kepada ustadz yang memang mumpuni dan memang menjadi teladan. Tidak bisa berguru hanya kepada mesin," ujar Cholil Nafis.

Strategi MUI Menghadapi Digitalisasi dalam Dakwah

Menyadari keprihatinan yang sama, Ketua Umum MUI Anwar Iskandar mengakui bahwa digitalisasi tidak dapat dihindari dalam kehidupan umat saat ini.

Anwar menilai pesatnya perkembangan teknologi membawa manfaat yang sangat besar, namun terdapat juga modarat atau bahaya yang mengintainya. Untuk mencegah dampak negatif tersebut, ia mendorong agar umat tidak pasif dan mulai membanjiri ruang-ruang siber dengan pesan-pesan moral.

"Kita ingin agar digitalisasi di negara ini, sebesar-besarnya akan kita isi dengan dakwah untuk membangun bangsa yang sebaik-baiknya," ujar dia.

MUI juga memperkuat kerja sama dengan kalangan akademisi dan institusi pendidikan, seperti Universitas Indonesia (UI), untuk mengembangkan dakwah digital yang lebih terstruktur dan profesional.

"Terutama AI yang menjadi kebutuhan ke depan, akan kita isi dengan dakwah yang bermartabat," tutur Anwar Iskandar.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement