Advertisement

Israel Memperluas Serangan ke Lebanon dan Suriah, dari Mana Mereka Mendapat Pasokan Senjata?

07 October 2024 16:32 WIB

thumbnail-article

Deretan tank perang berbendera Israel. ANTARA/Anadolu/am. .

Penulis:

Editor: Akbar Wijaya

RINGKASAN

Serangan IDF terhadap gudang senjata di Latakia, Suriah, dan fasilitas Hizbullah di Beirut menunjukkan kekuatan persenjataan Israel guna melemahkan pengaruh militer Iran di wilayah tersebut

Serangan Israel terhadap Hamas di Jalur Gaza telah berkembang menjadi operasi militer yang makin luas dan kompleks, dengan target yang tak hanya mencakup Gaza, tetapi juga potensi ancaman dari beberapa front lainnya seperti Lebanon, Suriah, dan keterlibatan langsung maupun tidak langsung dari Iran.

Serangan Terbaru di Suriah:

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyerang sebuah gudang senjata di dekat kota pelabuhan Latakia, Suriah, pada Rabu malam (2/10/2024). Gudang tersebut berada dalam Pangkalan Udara Khmeimim, sebuah pangkalan militer Rusia yang diduga menyimpan senjata untuk Iran.

Serangan ini menandai ketegangan yang semakin kompleks di kawasan tersebut, terutama mengingat pangkalan udara ini berada di bawah kendali Rusia, yang merupakan sekutu strategis Iran dan Suriah.

Media oposisi Suriah melaporkan bahwa serangan Israel ini menargetkan bangunan di dalam pangkalan tersebut. Sementara itu, Sham FM, media pro-pemerintah Suriah, melaporkan bahwa pertahanan udara Suriah berupaya menghadang “target” di atas laut kawasan Latakia. Insiden ini memicu kebakaran di Kota Jableh, yang terletak tepat di selatan Latakia. Rekaman video memperlihatkan cahaya oranye saat rudal Suriah berusaha mencegat serangan udara Israel.

Menurut The Telegraph, sekitar 30 rudal menghantam area dekat pangkalan udara Khmeimim, menimbulkan ledakan besar. Hal ini menunjukkan bahwa Israel secara aktif menargetkan pengiriman senjata Iran di Suriah, termasuk senjata yang berpotensi dikirim ke Hizbullah di Lebanon.

Serangan Intens di Lebanon:

Pada Minggu (6/10/2024), IDF juga melancarkan serangan udara ke Beirut, ibu kota Lebanon, setelah sebelumnya mengeluarkan seruan evakuasi kepada penduduk setempat. Serangan ini menargetkan wilayah selatan Beirut yang dikenal sebagai basis dukungan Hizbullah, termasuk wilayah Saint Therese dan Burj al-Barajneh.

National News Agency (NNA) Lebanon melaporkan adanya empat serangan Israel di Beirut selatan, dengan dua di antaranya memicu ledakan besar disertai semburan api dari asap hitam.

Target Serangan di Beirut:

  • Markas Intelijen dan Gudang Senjata Hizbullah:

Militer Israel menyatakan bahwa serangan di Beirut diarahkan kepada sasaran intelijen dan gudang senjata milik Hizbullah. Terjadi ledakan sekunder setelah serangan, yang oleh militer Israel dianggap sebagai bukti keberadaan persenjataan yang disimpan oleh kelompok tersebut.

  • Serangan yang Berulang dan Peringatan Evakuasi:

Sejak Sabtu (5/10/2024), lebih dari 30 serangan udara menghantam Beirut selatan, membuat wilayah ini menghadapi salah satu serangan terberat dalam beberapa tahun terakhir.

Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, sempat mengeluarkan peringatan mendesak kepada penduduk wilayah Burj al-Barajneh dan Hadath untuk segera meninggalkan daerah tersebut, mengingat akan adanya operasi militer terhadap fasilitas dan kepentingan Hizbullah.

Konflik Lintas Perbatasan Israel-Lebanon:

Ketegangan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon telah berlangsung hampir setiap hari selama setahun terakhir, terutama sejak perang di Gaza semakin memanas. Serangan udara Israel terhadap sasaran Hizbullah di Lebanon sejak 23 September telah menewaskan lebih dari 1.110 orang dan membuat lebih dari 1 juta penduduk mengungsi. Serangan ini menandakan pergeseran taktik Israel dari sekadar bentrokan lintas perbatasan menjadi serangan udara yang lebih agresif.

Dengan eskalasi perang yang makin meluas dari mana Israel memperoleh persenjataan?

Ketergantungan Israel pada Senjata

Meskipun Israel merupakan eksportir senjata besar, militernya sangat bergantung pada pesawat terbang, bom berpengendali, dan rudal impor untuk melakukan serangan udara yang dianggap para ahli sebagai salah satu yang paling intens dan destruktif dalam sejarah modern. Namun belakangan negara-negara Barat menghadapi tekanan untuk menghentikan penjualan senjata ke Israel terkait cara negara tersebut berperang melawan Hamas di Jalur Gaza.

Muncul Seruan Stop Ekspor Senjata ke Israel

Kelompok advokasi dan sejumlah politisi dari negara-negara Barat mendesak penangguhan ekspor senjata ke Israel, menuduh bahwa Israel tidak cukup melindungi warga sipil dan gagal memastikan bantuan kemanusiaan yang cukup sampai ke mereka.

Inggris baru-baru ini menangguhkan sekitar 30 lisensi ekspor untuk peralatan militer yang akan digunakan dalam operasi di Gaza, setelah meninjau kepatuhan Israel terhadap hukum kemanusiaan internasional.

Amerika Serikat

Amerika Serikat (AS) adalah pemasok senjata terbesar bagi Israel, memberikan kontribusi sekitar 69% dari total impor senjata Israel antara 2019-2023 (data SIPRI). AS memberikan bantuan militer tahunan sebesar $3,8 miliar untuk memastikan "keunggulan militer kualitatif" Israel atas negara-negara tetangganya. Sekitar $500 juta dari bantuan tahunan ini dialokasikan untuk program pertahanan rudal seperti Iron Dome, Arrow, dan David's Sling, yang merupakan sistem pertahanan udara utama Israel.

Israel juga menjadi tuan rumah bagi depot senjata besar AS yang didirikan pada 1984 untuk menyimpan persediaan bagi pasukan AS di kawasan regional serta memberikan akses cepat bagi Israel terhadap senjata dalam keadaan darurat. Pada awal tahun 2023, sekitar 300.000 peluru artileri kaliber 155mm dari War Reserve Stockpile Ammunition-Israel dikirim ke Ukraina setelah invasi Rusia. Amunisi yang disimpan di depot ini juga dilaporkan telah digunakan oleh Israel sejak dimulainya perang Gaza.

Bantuan Militer AS:

- Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober, Presiden Joe Biden mengumumkan pengiriman bantuan militer tambahan secara cepat ke Israel.


- SIPRI melaporkan bahwa pada akhir 2023, AS mengirimkan ribuan bom berpemandu dan rudal ke Israel. Volume total impor senjata Israel dari AS tahun itu hampir sama dengan tahun 2022.

- Pada Desember 2023, pemerintahan Biden mengumumkan dua penjualan senjata darurat ke Israel senilai $106 juta untuk 14.000 amunisi tank dan $147 juta untuk komponen peluru artileri kaliber 155mm, setelah menggunakan kewenangan darurat untuk melewati tinjauan kongres.

- Menurut laporan media AS, sejak perang dimulai, lebih dari 100 penjualan militer lainnya telah dilakukan ke Israel tanpa perlu pemberitahuan formal ke Kongres karena nilai transaksi yang rendah. Senjata ini termasuk ribuan amunisi berpemandu presisi, bom diameter kecil, bunker busters, dan senjata ringan.

- Pada Mei 2023, AS menunda pengiriman 1.800 bom berbobot 2.000 pon dan 1.700 bom berbobot 500 pon karena kekhawatiran korban sipil jika bom tersebut digunakan di daerah padat. Pada Juli, pengiriman bom berbobot 500 pon akhirnya disetujui, tetapi bom berbobot 2.000 pon tetap ditahan.

- Pada September 2024, pemerintahan Biden memberi tahu Kongres bahwa penjualan senjata senilai $20 miliar telah disetujui ke Israel. Paket ini terdiri dari 50 jet F-15IA baru, perangkat peningkatan untuk 25 F-15I yang sudah ada, sejumlah truk kargo seberat 8 ton, 30 rudal udara-ke-udara jarak menengah, dan 50.000 peluru mortir kaliber 120mm. Namun, senjata ini baru akan dikirimkan pada 2026.

Bantuan Militer Jerman

Jerman adalah pemasok senjata terbesar kedua bagi Israel, menyumbang 30% dari total impor senjata Israel antara 2019-2023. Pada tahun 2022, Israel menandatangani kesepakatan senilai €3 miliar ($3,3 miliar) dengan Jerman untuk membeli tiga kapal selam diesel kelas Dakar canggih, yang diperkirakan akan dikirimkan mulai 2031. Kapal-kapal selam ini akan menggantikan kapal selam kelas Dolphin buatan Jerman yang saat ini digunakan Angkatan Laut Israel.

Penjualan Senjata Jerman ke Israel

- Pada tahun 2023, nilai penjualan senjata Jerman ke Israel mencapai €326,5 juta ($361 juta), yang merupakan peningkatan 10 kali lipat dibandingkan tahun 2022, dengan sebagian besar lisensi ekspor diberikan setelah serangan 7 Oktober.

- Pemerintah Jerman mengatakan bahwa €306,4 juta dari nilai penjualan tersebut berupa peralatan militer, sementara €20,1 juta sisanya berupa "senjata perang".

- DPA melaporkan bahwa "senjata perang" ini termasuk 3.000 senjata anti-tank portabel dan 500.000 peluru untuk senjata api otomatis atau semi-otomatis, dengan sebagian besar lisensi ekspor mencakup kendaraan darat serta teknologi untuk pengembangan, perakitan, dan perawatan senjata.

Sikap Jerman

Kanselir Olaf Scholz telah menjadi pendukung kuat hak Israel untuk membela diri sepanjang perang. Meskipun nada pernyataan Scholz terhadap tindakan Israel di Gaza telah bergeser dalam beberapa pekan terakhir, dan meskipun ada perdebatan internal di Jerman, penjualan senjata tidak tampak berisiko dihentikan.

Bantuan Militer Italia

Italia merupakan pemasok senjata terbesar ketiga bagi Israel, tetapi hanya menyumbang 0,9% dari total impor senjata Israel (2019-2023). Penjualan senjata Italia ke Israel termasuk helikopter dan artileri angkatan laut.

Ekspor Senjata Italia:

- CAAT (Campaign Against Arms Trade) melaporkan bahwa ekspor dan lisensi barang militer Italia ke Israel bernilai €17 juta ($18,8 juta) pada 2022.

- Pada 2023, penjualan "senjata dan amunisi" Italia ke Israel mencapai €13,7 juta, meskipun ada jaminan dari pemerintah bahwa mereka memblokir ekspor berdasarkan undang-undang yang melarang penjualan senjata ke negara yang sedang berperang atau melanggar hak asasi manusia.

- Menteri Pertahanan Guido Crosetto menyatakan bahwa Italia menghormati kontrak yang ada setelah memastikan bahwa mereka tidak terkait dengan material yang dapat digunakan terhadap warga sipil.

Bantuan Militer Inggris

Inggris memiliki peran lebih kecil dalam memperkuat persenjataan Israel. Ekspor senjata Inggris pada 2022 mencapai £42 juta ($55 juta), dan angka tersebut menurun menjadi £18,2 juta pada 2023.

Sikap Inggris

- Dari 7 Oktober 2023 hingga 31 Mei 2024, Inggris mengeluarkan 42 lisensi ekspor untuk barang-barang militer yang mencakup komponen untuk pesawat militer, kendaraan, dan kapal perang.

- CAAT menyatakan bahwa sejak 2008, Inggris telah memberikan lisensi ekspor senjata ke Israel senilai £576 juta, banyak di antaranya untuk komponen pesawat tempur buatan AS yang digunakan oleh Israel.

- Pada September 2024, Menteri Luar Negeri David Lammy mengumumkan penangguhan sekitar 30 lisensi ekspor untuk senjata yang digunakan dalam operasi militer Israel di Gaza, mengutip “risiko jelas” bahwa ekspor ini dapat digunakan untuk melanggar hukum kemanusiaan internasional.

- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam keputusan Inggris ini sebagai "memalukan" dan "keliru," serta memperingatkan bahwa larangan senjata tersebut akan memberi dorongan kepada Hamas.

Industri Pertahanan Israel

Israel juga telah membangun industri pertahanannya sendiri dengan bantuan AS dan saat ini menjadi eksportir senjata terbesar kesembilan di dunia. Fokus utamanya pada produk-produk teknologi canggih, seperti sistem pertahanan udara dan peralatan elektronik. Antara 2019 dan 2023, Israel memegang 2,3% pangsa penjualan senjata global, dengan India (37%), Filipina (12%), dan AS (8,7%) sebagai pelanggan utama.

Ekspor Pertahanan Israel

- Pada 2023, nilai ekspor pertahanan Israel mencapai lebih dari $13 miliar, dengan 36% di antaranya berupa sistem pertahanan udara, diikuti oleh sistem radar dan perang elektronik (11%), peralatan penembakan dan peluncuran (11%), serta drone dan avionik (9%).

- Pada September 2023, Jerman menyetujui kesepakatan senilai $3,5 miliar untuk membeli sistem pertahanan rudal Arrow 3 dari Israel. Sistem ini berfungsi untuk mencegat rudal balistik jarak jauh, dan menjadi kesepakatan pertahanan terbesar yang pernah dicapai Israel.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement