Selama satu dekade lebih, industri K-Pop menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Tak hanya mendominasi Asia, K-Pop berhasil menembus pasar global dan menjadi elemen baru dalam industri musik internasional.
Sejumlah lagu K-Pop telah berhasil menduduki tangga lagu dunia. Pada tahun 2020, BTS berhasil menduduki puncak tangga lagu Amerika Serikat, Billboard Hot 100 dengan “Dynamite”. Selain itu, pada tahun 2023, Blackpink sukses menjadi bintang utama dalam acara musik bergengsi, Coachella.
Beberapa artis K-Pop lainnya juga sukses menempati tangga lagu dan album dunia. Namun, tren K-Pop mulai menunjukkan perlambatan pada tahun 2024.
Penurunan Penjualan Album Fisik Hingga Stagnasi Pendapatan Ekspor
Berdasarkan data akhir tahun Circle Chart yang dikutip dari Allkpop, penjualan album fisik mengalami penurunan sebesar 19,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
SEVENTEEN misalnya, yang menempati posisi teratas dengan penjualan 8,9 juta kopi albums pada tahun 2024, namun angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan penjualan mereka pada tahun 2023 yang mencapai 16 juta kopi.
Penjualan album K-Pop yang berhasil menyentuh angka 100 juta untuk pertama kalinya di tahun 2023 lenyap hanya dalam waktu satu tahun. Menurut Circle Chart, total penjualan album K-Pop dari Januari hingga Desember 2024 adalah sebesar 98,9 juta, menandai penurunan sebesar 17,7% dari tahun 2023 yang mencapai 120,2 juta.
Perlambatan tren K-Pop tidak hanya terlihat dari adanya penurunan album secara domestik, namun juga secara global yang berdampak pada stagnasi pendapatan ekspor. Menurut layanan Bea Cukai Korea yang dikutip dari Business Korea, pendapatan ekspor album pada tahun 2024 hanya meningkat 0,55% dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan statistik perdagangan ekspor-impor dari Layanan Bea Cukai Korea, terdapat tiga negara yang menyumbang pendapatan ekspor terbesar, yaitu: Jepang (130,3 miliar won), Amerika Serikat (87,5 miliar won), dan China (86,8 miliar won).
Dari ketiga negara tersebut, ekspor ke Jepang mengalami penurunan sebesar 24,7%, sementara ekspor ke China meningkat sebesar 76,4%.
Apa Penyebabnya?
Dilansir dari The Chosun Daily, para ahli industri menyebut bahwa absennya grup-grup papan atas K-Pop— BTS dan Blackpink menjadi salah satu faktor penurunan tren K-Pop.
Adanya perselisihan antara mantan CEO Ador, Min Hee-Jin dengan HYBE juga dinilai menjadi salah satu penyebab penurunan penjualan album.
“Perselisihan antara HYBE dan ADOR serta idola K-Pop yang menyebabkan masalah membawa perasaan lelah kepada publik”, dalam sebuah laporan dari Badan Konten Kreatif Korea.
Di sisi lain, pendapat berbeda diutarakan oleh kritikus musik Kim Yoon-Ha. Ia merasa skeptis bahwa terdapat hubungan antara konflik tersebut dengan penurunan penjualan album.
Namun demikian, Kim Yoon-Ha menyatakan bahwa publisitas negatif pasti akan membawa sisi buruk terhadap industri.
“Hal ini dapat menjadi faktor negatif yang dapat mempengaruhi permintaan K-Pop dalam jangka panjang”, ujar Kim sebagaimana yang diwartakan dalam Korea JoongAng Daily.
Industri K-Pop Optimis Akan Bangkit
Kembalinya bintang K-pop—BTS dan Blackpink dinilai akan memulihkan tren K-Pop. BTS akan melanjutkan aktivitas grup setelah semua anggota menyelesaikan wajib militer pada bulan Juni. Sementara itu, Blackpink diperkirakan akan mengerjakan lagu baru, serta mengadakan tur global pada paruh kedua tahun ini.
Perlu dicatat, bahwa industri K-Pop kedepannya juga akan kedatangan bintang-bintang baru. YG Entertainment baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk mendebutkan boy group dan girl group baru. Hal ini tentu akan menandai warna baru di industri K-Pop.
Mari kita tunggu wajah baru K-Pop!
