Nama Daniel Baskara Putra melejit di kancah musik saat membawa musiknya di bawah bendera Hindia. Pria 28 tahun ini sekarang kembali mengibarkan dua bendera bandnya dengan nama Feast dan Lomba Sihir. Terlibat dalam kedua band tersebut, lalu bagaimana Baskara menempatkan dirinya sebagai musisi solo Hindia dan bagian dari band Feast serta Lomba Sihir? Mari simak ulasan berikut.
Feast: Band dengan seruan sosial dan politik
Feast dibentuk pada tahun 2013 ketika para anggotanya yang masih mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia memutuskan untuk berkarya dalam dunia musik. Mereka terdiri dari Baskara Putra sebagai vokalis, Adnan Satyanugraha, Dicky Renanda, Fadli Fikriawan, dan Adrianus Aristo Haryo atau yang akrab dipanggil Bodat. Sejak awal, Feast menunjukkan komitmen yang kuat untuk menyuarakan isu-isu sosial dan politik melalui musik mereka. Lagu pertama mereka, “Camkan” meluncur pada tahun 2014 dan merupakan kritik tajam mengenai kebebasan beragama di Indonesia, menciptakan dampak yang cukup signifikan di kalangan pendengar.
Album perdana mereka, Multiverses, dirilis pada tahun 2017 dan menandai awal perjalanan musik mereka di industri yang semakin ramai. Dalam album ini, Feast mengeksplorasi berbagai genre musik tanpa dibatasi, menawarkan sesuatu yang fresh di tengah dominasi musik pop dan EDM. Lagu-lagu seperti “Peradaban” menjadi salah satu anthem bagi gerakan demonstrasi dan gerakan sosial di Indonesia, menunjukkan betapa besar pengaruh musik mereka dalam konteks sosial.
Dengan setiap rilisan, mulai dari Abdi Lara Insani hingga album terbaru mereka, Feast tidak hanya menunjukkan kemampuannya dalam beradaptasi, tetapi juga meningkatkan kualitas produksi musik mereka. Lagu-lagu seperti “Berita Kehilangan” dan “Politrik” menjadi bagian penting dari narasi kritik sosial yang mereka usung.
Yang membedakan Feast dari band-band lain adalah konsistensi mereka dalam mengangkat isu sosial ke dalam lirik lagu mereka. Setiap karya yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai platform untuk menyuarakan ketidakpuasan dan memberikan kritik terhadap kondisi sosial-politik saat ini. Hal ini menciptakan hubungan yang kuat dengan pendengar yang merasakan resonansi dari pesan-pesan yang mereka angkat. Lirik-lirik mereka tidak hanya mencerminkan kepedulian mereka, tetapi juga mendorong pendengar untuk berpikir kritis dan terlibat dalam masalah sosial yang ada.
Musik Feast mengusung genre rock dengan prodiuksi yang ciamik. Meskipun terinspirasi oleh berbagai aliran, mereka berhasil menciptakan sound yang unik, kombinasi antara kekuatan gitar, bass, dan drum yang aggressive, sering kali diselingi dengan melodi yang catchy. Pendekatan mereka dalam memadukan lirik kritis dengan aransemen musik yang menarik membuat produk akhir menjadi sangat menarik dan menyentuh.
Lomba Sihir: Musik dengan kisah emosional dan personal
Lomba Sihir merupakan band yang dibentuk oleh Baskara Putra dan beberapa teman lainnya. Beranggotakan Natasha Udu, Rayhan Noor, Enrico Octaviano, dan Tristan Juliano, Lomba Sihir muncul sebagai nafas baru dalam industri musik Indonesia. Meskipun baru, band ini telah mencuri perhatian publik dengan karya-karya yang inovatif dan gaya yang unik.
Genrenya yang bervariasi, mulai dari alternatif hingga pop, memberikan Lomba Sihir keleluasaan dalam berekspresi. Temanya yang mengangkat hubungan cinta dan realitas kehidupan perkotaan membuat mereka mudah dipahami oleh para pendengar. Lagu-lagu mereka, seperti “Hati dan Paru-paru”, mencakup pengalaman personal yang resonan dengan banyak orang, menjadikan karya mereka mudah diakses oleh khalayak luas.
Lomba Sihir telah berhasil membangun komunitas yang solid dengan penggemar mereka, yang dinamai Peserta Lomba Sihir. Hubungan ini dibangun melalui interaksi yang aktif dengan para penggemar, baik melalui media sosial maupun pertunjukan langsung. Para anggota band seringkali melibatkan penggemar dalam setiap proyek yang dibawakan, menciptakan rasa kepemilikan dan keterlibatan yang kuat di antara mereka.
Keterlibatan Hindia dalam Dua Proyek
Baskara Putra, yang lebih dikenal dengan nama panggung Hindia, memiliki peran signifikan dalam kedua band ini. Ia tidak hanya berfungsi sebagai vokalis, tetapi juga sebagai penulis lagu yang membawa pesan kuat dalam setiap karyanya. Melalui Feast, ia membawa suara perlawanan terhadap isu-isu sosial, sementara dalam Lomba Sihir, ia mengeksplorasi tema yang lebih personal dan emosional.
Meskipun terlibat dalam kedua proyek secara bersamaan, Hindia berhasil mengatur waktu dan tetap profesional. Ia menyatakan bahwa bekerja di dalam satu manajemen yang sama membantu dalam membuat jadwal dan meminimalisir stres yang mungkin timbul.
Keterlibatan Hindia dalam kedua band tersebut juga memberikan dampak positif bagi karir solonya dalam payung Hindia. Dengan kehadirannya di Feast dan Lomba Sihir, ia mampu menjangkau audiens yang lebih luas dan membangun reputasi yang kuat sebagai musisi yang kritis dan autentik.
