Advertisement

PM Suriah Setujui Pemindahan Kekuasaan kepada Pemerintahan Pemberontak

10 December 2024 15:14 WIB

thumbnail-article

Pemberontak Suriah berpose memegang bendera Suriah di Masjid Umayyah pada 9 Desember 2024. (Foto: REUTERS/Amr Abdallah) .

Penulis: Rizal Amril

Editor: Rizal Amril

Perdana Menteri Suriah era Bashar al-Assad, Mohammed Ghazi al-Jalali, mengumumkan persetujuannya untuk menyerahkan kekuasaan kepada Pemerintahan Pemberontak, setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad.

Langkah ini menandai akhir dari lebih dari satu dekade konflik bersenjata dan era pemerintahan keras yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun oleh keluarga Assad.

Situasi ini memunculkan harapan baru di kalangan warga Suriah, baik di dalam negeri maupun para pengungsi yang terpaksa meninggalkan negara mereka.

Namun, meskipun ada harapan, banyak yang merasa ragu dan khawatir tentang masa depan negara mereka.

Keberlanjutan keamanan dan stabilitas politik menjadi isu utama yang dipertanyakan masyarakat, yang masih trauma akibat kekerasan yang berkepanjangan.

Melansir Reuters, Di ibu kota Damaskus, meskipun aktivitas mulai pulih dengan kembalinya lalu lintas, toko-toko sebagian besar tetap tutup, menunjukkan ketidakpastian yang masih membayangi.

Tindakan regional pasca kejatuhan Assad

Dalam perkembangan terbaru, Qatar telah membuka saluran komunikasi dengan pemimpin pemberontak, Hayat Tahrir al-Sham (HTS).

Langkah ini menunjukkan upaya negara-negara di kawasan untuk beradaptasi dengan perubahan kekuasaan yang signifikan ini.

Iran dan Rusia juga terlihat berusaha membangun koneksi dengan faksi baru yang kini menguasai Suriah, berupaya untuk mempertahankan pengaruh mereka di kawasan yang kini sedang bergejolak.

Pasca penggulingan Assad, Suriah kini menghadapi isu keamanan, seiring potensi berkembangnya kelompok-kelompok ekstremis di sana.

Belum lama ini, pada Senin (9/12), Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken telah memberikan peringatan tentang potensi kebangkitan ISIS selama masa transisi ini.

"ISIS akan mencoba menggunakan periode ini untuk membangun kembali kemampuannya, untuk menciptakan tempat berlindung yang aman," ujar Blinken, dikutip dari Reuters.

Blinken juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan tetap berkomitmen untuk mencegah kebangkitan kembali kelompok ini di Suriah.

Reaksi internasional terhadap perubahan

Perubahan pemerintahan di Suriah ini berpotensi membuka jalan bagi kembali lebih dari enam juta pengungsi yang terpaksa meninggalkan negara mereka akibat perang.

Namun, banyak negara, termasuk negara-negara Eropa, masih menunggu kejelasan mengenai situasi di Suriah sebelum mengizinkan pemrosesan aplikasi suaka.

Inggris dan Turki telah mengeluarkan pernyataan positif mengenai kejatuhan Assad, dengan Inggris menyebutnya sebagai "humiliasi bagi Rusia dan Iran."

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, optimis bahwa ini akan menciptakan perubahan yang menguntungkan dan meningkatkan kemungkinan kembalinya pengungsi ke tanah air mereka.

Namun, minyak dan bahan pangan yang mahal masih menjadi tantangan besar bagi ekonomi pasca-konflik dan kebutuhan mendesak bagi masyarakat.

Serangan militer dan dampaknya

Setelah jatuhnya Assad, Israel langsung melancarkan serangan udara terhadap berbagai posisi militer di Suriah, menargetkan lokasi-lokasi yang dianggap berbahaya dan strategis.

Israel mengklaim tindakan ini dilakukan untuk mencegah senjata berat jatuh ke tangan kelompok yang berpotensi menimbulkan ancaman bagi keamanan Israel.

Serangan-serangan ini diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Pembebasan penjara yang terjadi pasca kejatuhan Assad memunculkan isu kemanusiaan yang mendalam.

Banyak keluarga yang kembali mencari anggota keluarga mereka yang hilang selama masa pemerintahan Assad.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement