Mengenal Politik Gentong Babi, Praktik dan Sejarahnya

10 Juni 2024 19:06 WIB

Narasi TV

Ilustrasi babi. Sumber: Freepik.

Penulis: Moh. Afaf El Kurniawan

Editor: Margareth Ratih. F

Politik gentong babi, atau yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai pork barrel politics, adalah salah satu praktik yang sering kali dianggap tidak etis dalam dunia politik.

Istilah ini merujuk pada tindakan politisi untuk mengalokasikan dana publik demi tujuan politik tertentu. Meski sering dilakukan, praktik ini kerap tidak disadari oleh masyarakat.

Apa itu politik gentong babi?

Menurut jurnal "Politik Pork Barrel di Indonesia" (2011) oleh Antonius Saragintan dan Syahrul Hidayat, politik gentong babi adalah usaha petahana untuk menggelontorkan dan mengalokasikan sejumlah dana dengan tujuan tertentu, khususnya untuk memastikan terpilih kembali dalam pemilihan umum.

Investopedia menjelaskan bahwa politik gentong babi adalah upaya lembaga legislatif untuk menyisipkan dana ke dalam proyek-proyek lokal yang tidak memiliki dampak besar atau relevansi langsung dengan undang-undang yang lebih luas. Proyek-proyek ini sering kali hanya bertujuan untuk memenangkan dukungan pemilih di wilayah tertentu.

Annie Duke dalam bukunya Quit (2022) juga memberikan pengertian bahwa politik gentong babi adalah penggunaan dan pengalokasian dana publik demi keuntungan politik dengan mengarahkan anggaran pada kebutuhan politik tertentu.

Sejarah istilah gentong babi

Secara historis, istilah gentong babi berasal dari awal tahun 1700-an. Pada masa itu, daging babi yang diasinkan dan diawetkan disimpan dalam gentong kayu yang besar, masing-masing bisa menampung lebih dari 30 galon sebelum pendinginan ditemukan.

Tom Wakeford dan Jasber Singh dalam bukunya Towards Empowered Participation: Stories and Reflections mengungkapkan bahwa di Amerika Serikat, pemilik budak sering memberikan daging babi asin dalam gentong kepada budak mereka sebagai bentuk pembayaran.

Para budak ini akan berebut untuk mendapatkan daging tersebut, yang mencerminkan betapa berharganya barang dalam gentong itu bagi mereka.

Pada tahun 1863, penulis dan sejarawan Edward Everett Hale menerbitkan cerita "The Children of the Public" yang menggambarkan pengeluaran pemerintah untuk rakyat.

Sekitar 10 tahun kemudian, istilah politik gentong babi muncul untuk menggambarkan penggunaan dana publik oleh politisi demi kepentingan kelompok kecil tertentu guna mendapatkan dukungan dalam bentuk suara atau sumbangan kampanye.

Politik gentong babi di era modern

Di era modern, istilah gentong babi sering digunakan untuk menggambarkan pengeluaran boros pada proyek-proyek pekerjaan umum lokal yang nilainya dipertanyakan. Proyek-proyek ini biasanya hanya menguntungkan segelintir orang yang ingin mendapatkan suara pemilih.

Contoh nyata dari konsep gentong babi adalah alokasi dana oleh Kongres Amerika Serikat sebesar $223 juta atau sekitar Rp343 miliar pada tahun 2005 untuk pembangunan jembatan yang menghubungkan dua kota kecil di pedesaan Alaska.

Proyek ini kemudian dikenal sebagai pengeluaran yang boros dan akhirnya dibatalkan demi meningkatkan sistem feri lokal.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR