Semburan lumpur panas yang terjadi di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, sejak tahun 2006 telah membawa perubahan besar bagi daerah tersebut. Kawasan yang sebelumnya ramai dengan aktivitas perdagangan, kini berubah drastis menjadi seperti "kota mati".
Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi penduduk lokal, termasuk pelaku usaha dan penyedia jasa wisata. Kunjungan wisatawan ke wisata Lumpur Lapindo kini sudah sangat menurun drastis.
Perubahan Sosial dan Ekonomi Pasca Lumpur Lapindo
Sejak semburan lumpur Lapindo muncul, banyak pemukiman warga yang terendam dan terpaksa dialihkan ke lokasi lain. Lebih dari sebelas desa di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin turut terdampak secara fisik dengan rumah yang tenggelam dan lahan yang rusak.
Kondisi ini menyebabkan perpindahan penduduk secara massal dan menurunkan konsentrasi populasi di kawasan Porong lama.
Akibatnya, aktivitas ekonomi pun mengalami kemerosotan tajam. Jalan-jalan utama yang semula menjadi pusat perdagangan dan pusat keramaian berubah menjadi lengang karena akses yang lumpuh dan kondisi lingkungan yang tidak bersahabat.
Sepinya Aktivitas Perdagangan
Jalan Raya Porong lama yang dahulu dikenal sebagai pusat keramaian dan pusat belanja masyarakat kini terlihat sepi. Toko-toko, pedagang kaki lima, dan rumah makan yang pernah menyemarakkan tempat ini sebagian besar telah tutup.
Hanya beberapa toko seperti toko sepatu dan toko bahan bangunan yang masih bertahan walaupun pengunjung dan omzet yang didapat jauh menurun.
"Dulu di sepanjang jalan ini ramai sekali. Ratusan toko buka sampai malam melayani pembeli. Sekarang banyak yang tutup karena sudah tidak ada pembeli," ungkap Rio, pemilik toko sepatu dan sandal yang masih membuka kiosnya hingga kini, dikutip dari Detik, Senin (8/6/2026)
Tantangan Berat bagi Pedagang yang Bertahan
Para pedagang yang memilih bertahan menghadapi tantangan berat karena turunnya jumlah pelanggan secara drastis. Keadaan ini memperlihatkan bagaimana bencana lingkungan membawa dampak negatif langsung pada kehidupan ekonomi masyarakat sekitar.
Bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai toko dan pusat bisnis menjadi kosong dan tidak beroperasi. Kerugian finansial yang berkelanjutan memaksa banyak pemilik usaha untuk mengakhiri bisnis mereka.
Penurunan daya beli masyarakat sekitar turut memperburuk situasi ekonomi yang sudah terdampak oleh bencana lumpur.
"Kalau malam dulu ramai sekali, sekarang sepi seperti kota mati. Di sebelah utara sini tinggal toko saya yang masih bertahan," imbuh Rio.
Hilangnya Lahan dan Properti
Tidak hanya usaha dagang, warga sekitar juga kehilangan aset pribadi mereka, berupa rumah dan lahan pertanian yang dulunya menjadi sumber penghidupan utama. Kehilangan lahan ini menyebabkan warga kesulitan mencari penghasilan alternatif dan menurunkan kualitas hidup keluarga mereka.
Selain itu, nilai tanah dan properti menurun drastis sehingga jika pun masyarakat ingin pindah atau menjual aset mereka, harga yang didapat jauh dari harapan.
Perubahan Mata Pencaharian
Akibat bencana lumpur, banyak warga terdampak yang harus beradaptasi dengan mencari mata pencaharian baru. Sebagian dari mereka beralih menjadi pemandu wisata di lokasi lumpur yang kini dijadikan objek wisata alternatif.
Namun, perubahan ini belum tentu menguntungkan secara ekonomis mengingat jumlah pengunjung wisata yang kini menurun drastis.
"Dulu banyak warga korban lumpur yang tidak punya pekerjaan lalu beralih jadi pemandu wisata untuk bertahan hidup. Tapi sekarang penghasilannya sudah sulit diandalkan," ujar Sastro, warga Desa Jatirejo RT 10 RW 1, dikutip dari Detik.
Sepinya Wisata Porong
Salah satu pemandu wisata bernama Ula Muanisa (42) juga merasakan sepinya wisata Porong. Kondisi wisata Lumpur Lapindo saat ini menurutnya sudah jauh berbeda dibanding masa awal semburan. Jumlah wisatawan semakin sedikit dan pendapatan warga yang menggantungkan hidup dari wisata lumpur ikut menurun tajam.
"Kalau dulu ramai sekali. Penghasilan bisa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sehari. Sekarang rata-rata cuma di bawah Rp 50 ribu, bahkan sering tidak dapat sama sekali," ucap Ula.
Menanggapi hal ini, Sastro yang merupakan warga Desa Jatirejo RT 10 RW 1 berharap wisata Lumpur Lapindo bisa kembali dikenal luas sehingga jumlah pengunjung meningkat dan pendapatan warga kembali membaik. Ia memohon kepada pemerintah daerah untuk turut mempromosikan wisata Lumpur Lapindo di Sidoarjo.
"Kami berharap pemerintah daerah ikut mempromosikan pariwisata di Sidoarjo, khususnya wisata Lumpur Lapindo. Supaya wisatawan ramai lagi dan ekonomi warga bisa bangkit kembali," ucapnya.
