Drama Korea When Life Gives You Tangerines ramai diperbincangkan di media sosial karena begitu berbeda dengan drama-drama kebanyakan. Jika drama romansa dari Korea Selatan kebanyakan membahas kehidupan orang-orang kelas atas, drama satu ini malah menggambarkan masa-masa sulit seorang perempuan.
Drakor ini menceritakan tentang kehidupan Oh Ae Sun yang dibesarkan dalam kemiskinan di sudut pantai pulau Jeju. Meski hidup dalam kemiskinan, Ae Sun menjadi gadis yang penuh prinsip yang dipegang teguh dalam hidupnya.
Dalam konteks yang lebih luas, prinsip-prinsip yang ditanamkan oleh Ae Sun dapat dijadikan model bagi perempuan dan masyarakat pada umumnya untuk meraih impian, meskipun dalam keterbatasan dan berbagai tantangan.
Sederetan pelajaran berharga dari When Life Gives You Tangerines mengingatkan semua orang bahwa ketahanan adalah kunci untuk mengubah nasib, sepenuhnya bergantung pada kekuatan diri dan keberanian untuk bermimpi.
1. Prinsip Ketahanan dalam Kehidupan
Hidup dalam keterbatasan bukanlah hal yang mudah, tetapi karakter kuat Oh Ae Sun pada drakor When Life Gives You Tangerines menunjukkan pentingnya ketahanan dan usaha keras dalam mengatasi hambatan.
Ae Sun yang dibesarkan dalam keluarga miskin di pulau Jeju menghadapi tantangan besar, termasuk budaya patriarki yang kental di sekitarnya.
Ibu Ae Sun, Jeon Gwang Rye, berperan penting dalam menanamkan prinsip ketahanan pada anaknya dengan menekankan pentingnya pendidikan. Melalui tekad dan semangat, ia mendidik Ae Sun agar tidak mudah menyerah pada keadaan.
2. Menggapai Impian di Tengah Kesulitan
Ae Sun tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan keluarga. Meskipun tampaknya sulit bagi perempuan di era 1960-an untuk meraih mimpi, ibu Ae Sun mendorongnya untuk berani bermimpi besar. Dia sering menekankan perlunya mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.
Ketika ibunya meninggal, Ae Sun mengambil risiko besar dengan menanam kubis di tanah kosong untuk membiayai sekolahnya. Ini mencerminkan kekuatan dan ketekunannya dalam mencapai impian meskipun dihadapkan pada kesulitan.
Ia bertekad untuk menunjukkan bahwa perempuan dapat memiliki impian dan dapat berjuang demi masa depan yang lebih baik.
3. Berambisi Tanpa Mengorbankan Orang Lain
Dilema antara ambisi pribadi dan tanggung jawab terhadap orang lain merupakan tema kuat dalam perjalanan hidup Ae Sun. Ketika ia harus berkompromi dengan ambisinya untuk melanjutkan pendidikan karena masalah finansial, Ae Sun merasa terpaksa bekerja di pabrik.
Ia rela mengorbankan mimpinya demi kepentingan orang lain, terutama saat ia menyadari bahwa meninggalkan harapan untuk bersama dengan Gwan Sik adalah bagian dari upayanya untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi orang yang dicintainya.
Pengorbanan ini mencerminkan pesan bahwa ambisi memang penting, tetapi tidak boleh menyingkirkan dalil prinsip kemanusiaan dan empati.
Mewarisi Prinsip Hidup kepada Generasi Selanjutnya
Buah dari prinsip hidup Ae Sun terlihat dalam cara ia mendidik anaknya, Yang Geum Myeong. Ia berusaha menanamkan nilai-nilai yang sama agar generasi baru dapat belajar dari usaha dan kesulitan yang telah dilaluinya. Mewariskan prinsip hidupnya kepada anak-anak merupakan salah satu bentuk pengharapan yang paling berarti.
Di tengah tantangan yang ada, pendidikan menjadi alat penting yang membawa harapan baru bagi generasi mendatang. Ae Sun mengajarkan pentingnya ketekunan, keberanian, dan ambisi yang seimbang dengan tanggung jawab terhadap anak-anaknya. Melalui cara ini, dia pun menanamkan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dia juga tak ingin anak-anaknya berakhir seperti dirinya, harus membunuh mimpinya.
Baca Juga:8 Drama-Drama yang Diperankan oleh IU dengan Karakter Ikonik, Salah Satunya Tayang Hari Ini!
