Danantara digadang-gadang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Dalam membentuk struktur lengkap pengurus BPI Danantara, kursi kepengurusan tak hanya diduduki oleh pengurus dari warga negara Indonesia (WNI), tetapi ada juga sejumlah warga negara asing (WNA) yang mengisi posisi sebagai dewan penasihat Danantara.
Nama-nama tokoh asing yang masuk dalam daftar tak hanya tokoh-tokoh yang memiliki keahlian dalam bidang investasi, tetapi juga memahami kondisi perekonomian dan geopolitik global. Hal ini diungkapkan oleh Chief Investmen Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir, ketika mengungkapkan alasan merekrut beberapa tokoh asing sebaga dewan penasehat.
Siapa saja tokoh asing yang diberi kepercayaan menduduki kursi dewan penasehat? Berikut biodata singkat 5 tokoh asing tersebut.
Jeffrey Sachs, Ahli Kebijakan Publik
Jeffrey D. Sachs, seorang ekonom terkemuka asal Amerika Serikat, ditunjuk menjadi anggota Dewan Penasihat Danantara.
Dia adalah profesor di Universitas Columbia dan dikenal sebagai seorang analis kebijakan publik. Sachs adalah Presiden Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebelumnya menjabat sebagai advikat SDG khusus untuk Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Dia juga pernah menjabat sebagai penasihat khusus Sekretaris Jenderal PBB pada tahun 2001 hingga 2018.
Sachs memiliki pandangan kritis terhadap beberapa kebijakan global, termasuk kebijakan Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam pandangannya, beberapa strategi investasi yang diterapkan oleh bankir internasional tidak memadai dan berpotensi merugikan negara-negara berkembang.
Selain itu, pada Juli 2015, selama krisis utang pemerintah Yunani Sachs, Heiner Flassbeck, Thomas Piketty, Dani Rodrik, dan Simon Wren-Lewis menerbitkan surat terbuka yang ditujukan kepada Kanselir Jerman Angela Merkel terkait utang Yunani. Dalam surat tersebut mereka mendesak Merkel untuk meninjau kembali kebijakan penghematan.
Pengalaman dan pendekatan analitisnya dapat menjadi aset berharga bagi Danantara dalam membantu kebijakan investasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
F. Champman Taylor, Analis Investasi Ekuitas
F. Champman Taylor juga menjadi bagian dari Dewan Penasihat Danantara.
Dalam karirinya, dia pernah menjabat sebagai manajer portofolio ekuitas di Capital Group. Pria dengan pengalaman selama 33 tahun di industri investasi ini pernah menjadi direktur riset dan juga analis investasi ekuitas yang meliputi layanan telekomunikasi di Asia.
Sebelum bergabung dengan Capital Group, Taylor memiliki keterlibatan yang signifikan di berbagai perusahaan konsultan di tingkat internasional sebagai konsultan di SRI International dan juga sebagai Strategic Planning Associates. Tugasnya memberikan nasihat kepada perusahaan-perusahaan ASEAN, AS, dan Inggris mengenai strategi bisnis.
Taylor mendapat gelar MBA dalam bidang keuangan dan perencanaan strategis dari Wharton School, University of Pennsylvania, dengan gelar sarjana di bidang fisika dan teologi dari Tulane University.
Thaksin Shinawatra, Mantan Perdana Menteri Thailand
Thaksin Shinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand, juga ditunjuk untuk menduduki jabatan penting dalam Danantara.
Dia merupakan sosok yang dikenal publik setelah menjabat sebagai perdana menteri dari tahun 2001 hingga 2006. Sebelum terjun ke dunia politik, Thaksin memulai karirnya sebagai polisi.
Thaksin juga membangun bisnis di bidang telekomunikasi dengan mendirikan Shin Corporation yang menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Thailand. Bisnis ini diawali dari sebuah dealer komputer kecil pada tahun 1987 yang akhirnya berkembang pesat hingga sekarang.
Pengalaman Thaksin dalam mengelola perusahaan besar dapat memberikan wawasan berharga dalam mendorong investasi yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia.
Lieng Seng Wee, Ahli Manajemen Risiko
Lieng Seng Wee menjabat sebagai Managing Director Risk and Sustainability di Danantara. Sebagai CEO dan Co-Founder Dragonfly, Wee telah menduduki jabatan tersebut sejak tahun 2000. Ia juga memiliki pengalaman luas, termasuk bekerja di Booz Allen dan Bankers Trust di New York.
Wee dikenal sebagai pelopor dalam pengembangan skema Risk-Adjusted Return on Capital (RAROC) dan Value at Risk (VaR) yang kini menjadi standar dalam industri keuangan.
Dengan pendidikan MBA dari Wharton School, University of Pennsylvania pada tahun 1985 dan predikat Valendictorian di National University of SIngapore pada tahun 1982, kontribusinya di Danantara dalam pengelolaan risiko dan keberlanjutan sangat diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi investasi di Indonesia.
Yup Kim, Komite Investasi dan Portofolio
Yup S. Kim ditunjuk sebagai anggota Komite Investasi dan Portofolio Danantara.
Dia adalah Chief Investment Officer di Texas Municipal Retirement System (TMRS) yang mengelola aset senilai US$ 40 miliar (sekitar Rp662 triliun).
Sebelumnya, Kim juga menjabat posisi penting di berbagai dana pensiun besar, termasuk menjadi kepala investasi untuk ekuitas swasta di CalPERS, dana pensiun California yang mengelola aset negara hingga US$90 miliar (sekitar Rp8 kuadriliun).
Selain di dua negara bagian tersebut, Yup Kim juga pernah menjadi manajer portofolio di Alaska Permanent Fund Corporation, sebuah dana kekayaan milik negara yang nilainya mencapai US$80 miliar (sekitar Rp1,3 kuadriliun).
Yup Kim mengenyam pendidikan sarjananya di bidang ekonomi di Universitas Yale. Keterlibatannya di berbagai lembaga akademis menjadikannya sosok yang kredibel dalam pengambilan keputusan investasi.
DIa juga pernah mengepalai forum Milken Institute Rising Allocator, serta menjabat sebagai anggota dewan Korea Finance Society. Dia juga pernah menjadi anggota tetap Council of Foreign Relations, duta investasi global untuk Pemerintah Metropolitan Seoul, hingga menjadi dosen tamu di Harvard Business School, The Wharton School, Universitas Yale, dan banyak tempat lainnya.
