Kabar duka tengah menyelimuti dunia militer dan olahraga Indonesia yang kembali kehilangan salah satu tokoh pentingnya, Senin. 18 Agustus 2025 Mayor Jenderal (Purn) I Gusti Kompyang (IGK) Manila yang aktif di berbagai bidang tutup usia pada 83 tahun.
Kabar ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal Partai NasDem Hermawi Taslim.
"Bersama ini, kami sampaikan Berita Duka. Telah berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Mayor Jenderal (Purn) I Gusti Kompyang (IGK) Manila," kata Hermawi kepada awak media.
Diketahui IGK Manila menghembuskan napas terakhirnya di RS Bunda Menteng, Jakarta, pada pukul 09.00 WIB. Selanjutnya jenazah almarhum dibawa menuju Rumah Sakit Pusat Gatot Soebroto untuk dimandikan. Kemudian, dibawa menuju Aula Akademi Bela Negara (ABN) untuk disemayamkan dan diperkirakan tiba pukul 14.00 WIB.
Upacara pelepasan dan kremasi IGK Manila akan dilakukan pada Rabu, 20 Agustus 2025, pukul 11.00 WIB. Jenazah akan diberangkatkan dari ABN menuju RS Gatot Soebroto untuk prosesi kremasi. Sebelum pemberangkatan, akan dilaksanakan upacara kebesaran di ABN sebagai penghormatan atas jasa dan pengabdian almarhum kepada bangsa dan negara.
Profil IGK Manila
IGK Manila, lahir di Bali pada 8 Juli 1942, merupakan sosok berpengaruh yang berkontribusi besar dalam dua bidang, yaitu militer dan olahraga. Sejak usia muda, ia menunjukkan minat yang besar terhadap disiplin dan kepemimpinan.
Pendidikan pertamanya dimulai di Akademi Militer Nasional, di mana ia menjadi salah satu dari 15 perwira remaja pertama yang lulus dengan kecabangan Polisi Militer. Selama masa studi, ia dikenal sebagai siswa yang berprestasi, menunjukkan dedikasi tinggi terhadap tugas dan tanggung jawabnya.
Karier militer IGK Manila melonjak pesat hingga ia mencapai Kpangkat Mayor Jenderal TNI AD (POM ABRI) Dalam perjalanannya, ia menduduki berbagai posisi strategis yang berkontribusi pada keamanan dan pertahanan negara.
Salah satu jejak penting yang tak terlupakan dalam karier militernya adalah keberhasilannya dalam "Operasi Ganesha 1982". Tidak hanya itu ia juga memiliki pengalaman militer yang tak main-main, mulai dari penumpasan G30S/PKI, Dwikora, PGRS, hingga bergabung dengan Kontingen Garuda VII UNEF di Timur Tengah.
Pada tahun 1967, I Gusti Kompyang Manila juga pernah mengemban tugas penting sebagai petugas keamanan di Wisma Yaso, mengawal Presiden Sukarno saat menyusun naskah Pidato Nawaksara.
Jabatan-jabatan seperti Kapomdam IV/Sriwijaya dan Staf Ahli Pangab memberikan pengalaman berharga bagi IGK Manila, membentuk karakter dan kepemimpinannya yang kuat. Deretan penghargaan pun ia raih, termasuk Satya Lencana GOM VIII, Wira Dharma, Seroja, hingga Bintang Yudha Darma.
Pengabdiannya di Dunia Olahraga
Salah satu peran paling menonjol yang diemban oleh IGK Manila adalah dalam dunia olahraga, khususnya sebagai Bapak Wushu Indonesia. Di awal tahun 1990-an, ia memainkan peran kunci dalam pengembangan cabang olahraga bela diri ini di Indonesia.
Sebagai informasi pada masa orde baru, wushu termasuk kegiatan yang dilarang muncul di ruang publik. Namun perjuangan IGK Manila dan beberapa tokoh wushu lainnya, termasuk dengan melobi Presiden Soeharto untuk dapat membantu pembinaan dan pembiayaan olahraga wushu.
Perannya melesat saat ia berhasil membawa 14 atlet pelatnas wushu menimba ilmu di Shanxi, China, untuk mengembangkan kemampuan mereka. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam membentuk atlet berstandar internasional di Indonesia.
Dedikasinya tidak hanya berhenti di situ, kiprah pria yang setia dengan kumis tebalnya yang paling mencolok bagi publik olahraga tanah air adalah saat ia menjadi manajer timnas Indonesia pada SEA Games 1991.
IGK Manila sukses membawa timnas Indonesia memenangi medali emas SEA Games. Prestasi itu sempat bertahan cukup lama sebelum akhirnya tim Merah-Putih kembali memenangi medali emas SEA Games pada 2023.
Di arena klub, IGK Manila juga menunjukkan kepemimpinannya dengan mengelola klub Bandung Raya. Di bawah arahannya, klub tersebut mampu menjuarai Liga Indonesia pada tahun 1996. Kekuatan kepemimpinan dan kemampuan manajerialnya menjadikannya sosok yang dihormati baik oleh pemain maupun penggemar olahraga.
Bagi publik sepak bola Jakarta, nama IGK Manila juga terukir dengan tinta emas. Ia merupakan manajer Persija sejak 1997 sampai 2005, dan menjadi salah satu sosok penting saat Macan Kemayoran mengakhiri dahaga gelarnya dengan menjadi juara Liga Indonesia pada 2001.
Kepergian IGK Manila pada 18 Agustus 2025 menjadi sebuah kehilangan besar bagi dunia olahraga dan masyarakat Indonesia. Banyak yang merasakan duka mendalam atas kepergiannya, termasuk sahabat, pemain, dan penggemar olahraga yang telah merasakan dampak positif dari kiprah dan dedikasinya.
Kepulangan IGK Manila tidak hanya meninggalkan warisan prestasi di lapangan, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk mengejar impian mereka dengan semangat dan disiplin.
