Advertisement

Sederet Fakta Film Animasi One For All Merah Putih: Tuai Kritikan Publik

11 August 2025 14:24 WIB

thumbnail-article

Film animasi "Merah Putih: One For All" Sumber: YouTube.

Penulis: Elok Nuri

Editor: Elok Nuri

Film animasi "Merah Putih: One For All" belakangan tengah menjadi pembicaraan publik lantaran kulitas yang ditampilkan jauh dari harapan terlebih film yang mengusung tema semangat kemerdekaan ini kabarnya menelan biaya yang cukup fantastis.

Film yang disutradarai dan ditulis oleh Endiarto dan Bintang, serta diproduseri oleh Toto Soegriwo ini, diklaim menghabiskan biaya produksi sebesar Rp6,7 miliar dengan waktu pengerjaan kurang dari satu bulan. Berikut adalah sederet fakta Film animasi Merah Putih: One For All

Kualitas Gerakan yang Kaku

Film animasi "Merah Putih: One For All" menyajikan sejumlah keanehan yang menjadi sorotan publik. Salah satu yang paling mencolok adalah kualitas gerakan yang kaku. Bedasarkan trailer yang dirilis, banyak penonton berkomentar bahwa animasi dalam film ini tampaknya belum selesai.

Karakter yang ditampilkan tidak menunjukkan dimensi yang memadai, dengan gerakan yang terlihat tidak halus dan kurang ekspresif. Hal ini menciptakan kesan bahwa animasi tersebut dikerjakan secara terburu-buru dan kurang perhatian terhadap detail, yang seharusnya menjadi elemen penting dalam sebuah film animasi berkualitas.

Suara Burung yang Salah

Aspek lain yang tidak kalah menarik untuk dibahas adalah penggunaan suara yang tidak tepat. Dalam salah satu adegan, suara burung kakak tua dikritik karena terdengar seperti suara monyet.

Kesalahan semacam ini menimbulkan tanya besar di benak penonton tentang proses produksi dan pengawasan kualitas yang dilakukan oleh tim kreatif. Ini adalah contoh jelas dari kekurangan yang bisa merusak pengalaman penonton dan berpotensi menurunkan kredibilitas film.

Teks Hindi yang Terabaikan

Keanehan lainnya terletak pada penggunaan aset digital yang dianalisis oleh para kritikus. Banyak yang mencatat bahwa terdapat teks dalam bahasa Hindi yang muncul dalam film.

Hal ini menunjukkan kurangnya perhatian terhadap detail saat memilih dan mengedit aset yang digunakan. Aset ini diduga diambil dari toko digital, namun tidak disesuaikan dengan konteks lokal, sehingga membuat film ini terasa asing bagi penonton Indonesia.

Isu Biaya Fantastis

Biaya produksi film "Merah Putih: One For All" juga menjadi topik hangat belakangan ini. Terdapat klaim bahwa biaya produksi mencapai angka fantastis, yakni Rp 6,7 miliar.

Namun, sutradara Endiarto merasa terkejut dan skeptis terhadap angka ini, menyatakan bahwa dia tidak mengerti dari mana rumor tersebut berasal.

"Saya enggak tahu juga itu angka ketemu dari langit atau apa," ujar Endiarto kepada awak media, Senin 11 Agustus 2025.

Perbandingan dengan Animasi Lain

Saat membandingkan dengan film animasi lainnya, banyak penonton merasa bahwa anggaran yang dihabiskan untuk "Merah Putih: One For All" tidak sebanding dengan hasil yang didapat.

Animasi lain seperti "One Piece" atau "Demon Slayer" diketahui memiliki anggaran per episode yang jauh lebih kecil namun menghasilkan animasi dengan kualitas jauh lebih tinggi. Hal ini semakin memicu pertanyaan serius tentang transparansi biaya produksi di dalam proyek ini.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement