Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan kelompok pemberontak pada Minggu (8/12/2024). Dia dan keluarganya lalu melarikan diri ke Rusia, tempat mereka menerima suaka.
Penggulingan Bashar al-Assad tersebut terjadi imbas eskalasi konflik antara pemerintahan al-Assad dengan faksi-faksi pemberontak selama sepekan terakhir.
Dalam waktu sepekan, faksi-faksi oposisi, seperti Hayat Tahrir al-Sham dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), meluncurkan serangan kilat yang sporadis di kota-kota besar Suriah seperti Aleppo, Hama, dan Homs.
Puncaknya, pada Minggu, pasukan pemberontak mengumumkan telah merebut ibu kota Damaskus dan mengambil alih kekuasaan Suriah dari tangan Bashar al-Assad.
Hal ini menandai akhir dari kekuasaan Bashar al-Assad, yang telah memerintah Suriah selama lebih dari dua dekade.
Dalam dua dekade kepemimpinan Bashar al-Assad, Suriah menghadapi krisis berkepanjangan akibat perang saudara yang pecah sejak 2011 lalu. Jutaan pengungsi dan ribuan korban jiwa jadi catatan kelam sepanjang perang berlangsung.
Lantas, siapa sebenarnya Bashar al-Assad yang berasal dari trah penguasa di Suriah?
Keluarga Assad dan pengaruh di Suriah
Keluarga Assad merupakan dinasti yang berkuasa di Suriah sejak tahun 1970, ketika Hafez al-Assad, ayah Bashar, meraih kekuasaan melalui kudeta.
Bashar, yang lahir pada 11 September 1965, adalah anak kedua dari Hafez dan Anisa Makhlouf.
Keluarga Assad menganut agama Alawite, sebuah sekte minoritas dalam Islam yang telah berperan besar dalam politik Suriah.
Sekte Alawite, yang hanya sekitar 10 persen dari total populasi Suriah, telah mendominasi posisi kekuasaan sejak diambil alihnya pemerintahan oleh Hafez al-Assad.
Penggunaan militer dan kekuatan untuk menjaga status mereka dalam pemerintahan menjadi ciri khas dari rezim Assad, yang kemudian menjadi warisan yang diteruskan oleh Bashar.
Keluarga Assad memiliki hubungan yang erat dengan Partai Baath, yang telah menjadi kekuatan politik utama di Suriah.
Partai Baath mengusung ideologi sosialisme Arab dan nasionalisme yang membenarkan kekuasaan yang absolut.
Keluarga Assad memanfaatkan posisi mereka dalam partai untuk mengukuhkan kekuasaan mereka dan menyerang lawan-lawan politik dengan cara yang sangat represif.
Bashar jadi presiden setelah ubah konstitusi
Bashar al-Assad memulai pendidikan kedokteran di Universitas Damaskus dan kemudian melanjutkan studi di London.
Ketika kakaknya, Basil, yang sebelumnya dipersiapkan untuk menjadi penerus sang ayah meninggal dunia, Bashar dipanggil kembali ke Suriah.
Untuk memperkuat posisinya dalam militer, dia mengenyam pendidikan di akademi militer dan berhasil mencapai pangkat kolonel.
Setelah kematian Hafez al-Assad pada 2000, Bashar, yang saat itu berusia 34 tahun, dengan cepat ditunjuk sebagai presiden.
Proses transisi ini secara kontroversial dilakukan dengan mengubah konstitusi untuk memungkinkan anaknya menjadi presiden.
Dalam pemilihan di mana dia satu-satunya kandidat, dia berhasil meraih lebih dari 97 persen suara.
Meskipun ada harapan bahwa Bashar akan membawa reformasi dan perubahan positif bagi Suriah kala itu, namun langkah-langkahnya untuk memperbaiki pelanggaran hak asasi manusia mulai meredup segera setelah dia berkuasa.
Masyarakat pun melihat bahwa rezimnya tidak berbeda jauh dengan pemerintahan ayahnya, tetap menanggapi kritik dengan represif.
Tindakan Represif dan Perang Saudara
Selama berkuasa, terdapat sejumlah kebijakan kontroversial yang dikeluarkan Bashar, berikut di antaranya:
1. Respons brutal terhadap protes 2011
Penggunaan kekerasan jadi salah satu ciri khas kekuasaan Bashar. Salah satu yang paling buruk adalah ketika ia menggunakan kekerasan dalam merespons protes publik pada 2011 lalu.
Pada Maret 2011, protes damai dilakukan publik Suriah untuk menuntut reformasi dan demokratisasi pemerintahan. Namun, protes ini justru jadi momen kritis dalam sejarah pemerintahan Assad.
Massa yang menuntut reformasi demokratis justru mendapatkan respons brutal dari pemerintah, yang melibatkan pertumpahan darah dan penangkapan massal terhadap warga.
Reaksi ini memicu kekacauan yang meluas dan melahirkan konflik bersenjata yang berkepanjangan.
2. Penggunaan Senjata Kimia
Selama konflik, rezim Assad dituduh menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri, termasuk serangan gas sarin di Ghouta pada tahun 2013.
Peristiwa penggunaan senjata kimia itu disebut telah menewaskan ribuan warga sipil.
Penggunaan senjata ini bukan hanya menambah daftar pelanggaran hak asasi manusia, tetapi juga menarik perhatian komunitas internasional dan memicu serangkaian sanksi terhadap pemerintah Assad.
3. Aliansi dengan Rusia dan Iran
Pemerintah Assad terus berjuang untuk mempertahankan kekuasaan dengan dukungan kuat dari Rusia dan Iran.
Koalisi ini memainkan peran penting dalam mengubah arah konflik dan membantu rezim Assad mempertahankan banyak wilayah yang dulunya hilang ke tangan pemberontak.
Dukungan militer dan strategis dari Rusia serta kontroversialnya keterlibatan Iran dalam perang telah mengukuhkan kekuasaan Assad, meskipun harga yang dibayar sangat mahal bagi rakyat Suriah, yakni kehilangan anggota keluarga dan terusir dari rumah mereka sendiri.
