Kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) tengah menjadi sorotan dunia usai berhasil tumbankan rezim Presiden Bashar Al-Assad pada Minggu 8 Desember 2024. Mereka berhasil memukul mundur Presiden Bashar Al-Assad dan menduduki Aleppo hingga titik-titik krusial pemerintah.
Berikut adalah profil dan latar belakang kelompok Hayat Tahrir Al-Sham (HTS) yang gulingkan rezim Presiden Bashar Al-Assad.
Sejarah Pembentukan HTS di Suriah
Kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) didirikan sebagai cabang dari Al-Qaeda, dengan tujuan untuk melawan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.
Dahulu, Hayat Tahrir al-Sham bernama Jabhat al-Nusra atau Front al-Nusra. Front al-Nusra didirikan pada 2011 oleh Negara Islam Irak (ISI) di Suriah namun kemudian memisahkan diri dan menyatakan kesetiaan dengan Al Qaeda.
Meskipun memiliki dukungan dari Al-Qaeda, hubungan ini menjadi sumber kontroversi. Jabhat al-Nusra terlibat dalam perseteruan dengan kelompok oposisi lainnya yang lebih moderat dan berupaya untuk membangun reputasi sebagai kekuatan militan yang layak diperhitungkan di Suriah.
Dalam upayanya untuk mendapatkan legitimasi, kelompok ini terus beradaptasi sambil tetap mempertahankan ideologi jihad yang merupakan ciri khas yang menyertainya.
Pada tahun 2016, pemimpin Jabhat al-Nusra, Abu Mohammed al-Jawlani, secara resmi memutuskan hubungan dengan Al-Qaeda. Langkah ini diambil untuk membedakan kelompoknya dari citra organisasi teroris yang lebih ekstrem. Jabhat al-Nusra kemudian dibubarkan dan berganti nama menjadi Hayat Tahrir al-Sham (HTS).
Perubahan ini bertujuan untuk menarik dukungan dari lebih banyak kalangan di dalam Suriah dan mengorganisir berbagai kelompok militan yang beroperasi di wilayah tersebut. HTS berupaya untuk memperkuat pengaruhnya di Suriah, khususnya di provinsi Idlib, di mana mereka menjadikan diri sebagai kekuatan dominan.
Sebagai entitas independen, HTS berupaya merekrut anggota serta mendapatkan dukungan dari masyarakat lokal. Mereka meluncurkan berbagai inisiatif sipil dan sosial guna menciptakan citra yang lebih positif, sekaligus memastikan keberlangsungan operasional mereka di lapangan.
Kepemimpinan dan Strategi HTS
Abu Mohammed al-Jolani memainkan peran penting dalam membentuk wajah HTS. Sejak awal terbentuknya Jabhat al-Nusra, ia menjadi sosok sentral dalam strategi dan operasi kelompok tersebut.
Al-Jolani yang lahir di Damaskus, memiliki latar belakang yang mendalam dalam gerakan jihad, termasuk pengalamannya di Irak selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan Abu Musab al-Zarqawi.
Dalam posisinya, al-Jolani memperkenalkan pendekatan yang lebih moderat. Ia berusaha untuk membedakan HTS dari kelompok radikal lain seperti ISIS dan Al-Qaeda melalui narasi yang tidak hanya berfokus pada kekerasan, tetapi juga mencakup pengelolaan kehidupan sehari-hari masyarakat yang dilanda perang.
Meskipun HTS tetap berlandaskan ideologi jihad, al-Jolani berfokus pada upaya untuk merekrut dukungan luas dari masyarakat Suriah. Ini termasuk menghindari serangan acak terhadap warga sipil dan memilih untuk terlibat dalam tindakan yang lebih.
