Film Pangku tengah menjadi sorotan publik, lantaran film perdana Reza Rahardian sebagai sutradara ini berhasil memenangkan Hong Kong Asia Film (HAF) ke-23 Goes to Cannes, keberhasilan ini tentu menegaskan kemampuan daya saing industri film Indonesia di kancah Internasional.
Tidak han berpaku sebagai pengarah film, Reza Rahardian yang dikenal dengan segunang perannya di industri perfilman Indonesia juga turut berperan sebagai penulis skenario yang berkolaborasi dengan sastrawan Felix K. Nessi.
Selain menjadi film panjang pertama garapan Reza, film ini juga merupakan rilisan pertama rumah produksi Gambar Gerak. Rumah produksi yang didirikan Reza dan rekannya Arya Ibrahim.
Sederet penghargaan film yang mengisahkan tentang kisah seorang ibu yang berjuang menghadapi kerasnya kehidupan ini berhasil meraih White Light Post-Production Award di JAFF Future Project 2024.
Film Pangku dijadwalkan tayang pada 2025. Namun terkait jadwal dan tanggal pastinnya sampai saat ini Narasi belum menerima bocoran. Berikut adalah sinopsis dan daftar pemain film Pangku
Daftar Pemain Film Pangku
-
Claresta Taufan sebagai Sartika
-
Fedi Nuril sebagai Hadi
-
Devano Danendra sebagai Gilang
-
Christine Hakim sebagai Ibu Maya
-
Shakeel Aisy sebagai Bayu
Sinopsis Film Pangku
Film ini terinspirasi dari tradisi kopi pangku di wilayah Pantura yang menampilkan perspektif tentang dinamika sosial dengan pendekatan artistik yang kuat.
Film Pangku mengisahkan perjalanan hidup seorang ibu bernama Sartika. Ia digambarkan sebagai sosok yang tangguh dan pekerja keras, berjuang untuk membesarkan anak laki-lakinya di tengah kerasnya kehidupan di pesisir Pantai Utara. t.
Sartika, tokoh utama dalam film ini, dihadapkan pada banyak krisis kehidupan. Ia harus berjuang keras agar bisa bertahan hidup, menghadapi berbagai tantangan yang menguji ketangguhannya.
Cerita ini berkembang di latar belakang tradisi kopi pangku, sebuah praktik unik yang terdapat di daerah Pantura. Di sini, para pelanggan tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga berinteraksi dengan teman perempuan yang menemani mereka.
Hal ini memberikan gambaran akan kehidupan sosial dan budaya yang jarang diangkat dalam film-film Indonesia sebelumnya.
Dalam proses penceritaan, Reza Rahadian sebagai sutradara berupaya menggali lebih dalam mengenai makna di balik tradisi kopi pangku yang ia temui saat syuting di kawasan tersebut beberapa tahun yang lalu.
Melalui kisah Sartika, film ini berusaha menunjukkan kesulitan yang dihadapi perempuan dalam berjuang untuk kehidupan yang lebih baik dalam menghadapi beragam tekanan sosial dan ekonomi.
