Sinopsis Live Action Avatar: The Last Airbender, Perjalanan Aang Menguasai Elemen Air

27 Februari 2024 19:02 WIB

Narasi TV

Poster series "Avatar: The Last Airbender." Sumber: Netflix.

Penulis: Rusti Dian

Editor: Margareth Ratih. F

19 tahun yang lalu, sang Avatar, penguasa empat elemen kembali muncul untuk mengembalikan keseimbangan dunia setelah Negara Api menyerang. Kini, Netflix merilis versi live action dari serial animasi legendaris bertajuk Avatar: The Last Airbender.

Avatar: The Last Airbender adalah serial Netflix yang rilis pada Kamis (22/2/2024). Serial yang mengangkat tema fantasi ini disajikan dengan menggabungkan anime dengan gaya kartun Amerika.

Season pertama dalam series ini berjudul sama dengan serial animasinya yaitu Book I: Water. Season ini bercerita tentang perjalanan Aang menguasai elemen keduanya yaitu air. Seluruh karakter versi animasi kembali muncul dalam cerita yang 'dipadatkan' ke dalam delapan episode dengan durasi tiap episode kurang lebih 60 menit.

Untuk menghidupkan karakter Aang, Katara, Sokka, Zuko, Paman Iroh dan lainnya, Netflix menunjuk empat sutradara yaitu Michael Goi, Roseanne Liang, Jabbar Raisani, dan Jet Wilkinson. Kreator animasi Avatar: The Last Airbender juga turut serta yaitu Michael diMartino dan Bryan Konietzko.

Adaptasi live action serial Avatar: The Last Airbender sendiri sudah disambut positif sejak Netflix mengumumkan rencana produksi series ini. Pun ketika Netflix merilis teaser serta trailer, Avatar: The Last Airbender selalu menjadi trending dan cukup dinantikan.

Belajar dari kesalahan

Adaptasi Netflix ini adalah kali kedua serial Avatar: The Last Airbender diangkat ke live action. Kali pertama adalah tahun 2010 lalu di mana M. Night Shyamalan mencoba mengangkat kisah Aang ke dalam sebuah film. 

Hasilnya adalah sebuah box office bomb. Tidak hanya gagal mendapatkan keuntungan, tetapi film ini dihajar oleh kritik serta para fans. Mulai dari koreografi para pengendali yang kurang pas, dialog yang tidak menarik, akting yang buruk, karakter yang tiba-tiba berubah watak seperti Sokka yang ceria menjadi seorang remaja super serius dan kaku.

Namun, yang menjadi kesalahan terbesar The Last Airbender adalah whitewashing karakter. Serial animasi yang kental dengan budaya dan karakter khas Asia Timur justru diperankan oleh orang-orang berkulit putih. Padahal keempat negara pengendali memiliki sumber inspirasinya sendiri.

Sebut saja Pengembara Udara yang berasal dari budaya Buddha Tibet. Gaya bertarung Baguazhang yang menjadi ciri khasnya mampu memberikan keterkaitan secara kultural. Sayangnya, aktor yang ditunjuk adalah seorang berkulit putih sehingga menghilangkan nilai kultural tersebut. 

Ditambah pemilihan artis kulit putih untuk Katara dan Sokka yang terinspirasi dari suku Inuit juga menguatkan indikasi whitewashing dalam film tersebut. 

Dengan segala permasalahannya tak heran jika film Avatar: The Last Airbender mendapat nilai 5% Tomatometer dan 30% Audience Score. Meski begitu, versi serial ini tetap menarik untuk ditonton karena melibatkan dan menampilkan budaya-budaya Asia yang menjadi inspirasi latarnya.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR