Advertisement

Sinopsis Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang, Berlenggang ke Shanghai International Film Festival

09 June 2026 19:15 WIB

thumbnail-article

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Sumber: ANTARA.

Penulis: Elok Nuri

Editor: Elok Nuri

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (RBMT) berhasil menembus panggung internasional dengan terpilih masuk dalam kompetisi utama Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026 yang akan digelar pada 12 hingga 21 Juni 2026 di Tiongkok.

Film RBMT, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, masuk dalam tujuh kategori, yaitu Best Feature, Best Director, Best Actor, Best Actress, Best Screenplay, Best Cinematographer, dan Best Outstanding Artistic.

Film Produksi MATTA Cinema Production (MCP) ini juga pernah diluncurkan di ajang Asian Content and Film Market (ACFM) Busan Internasional Film Festival 2025.

Film besutan sutradara asal Yogyakarta, Ismail Basbeth ini mengisahkan tentang perjuangan keluarga Tionghoa menghadapi diskriminasi dan rasisme. Sederet aktor berdarah Tionghoa memerankan film ini diantaranya ada Ferry Salim, Melissa Karim, dan Verdi Solaiman. Ada juga Nicholas Anderson.

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang ini juga menjadi debut bagi Jessy Davita dan Nicholas Anderson dan akademisi Rocky Gerung.

Hal yang tak kalah menarik, film ini diadaptasi dari novel populer berjudul sama karya Wisnu Suryaning Adji yang dirilis pada 2023 lalu. Setelah penayangan di Shanghai International Film Festival, film itu dijadwalkan diputar di bioskop-bioskop di Indonesia pada akhir 2026.

Sinopsis Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenangmengangkat tema rumit dan penuh makna berkaitan dengan sejarah, psikologi, dan politik kehidupan seorang pria keturunan Tionghoa di Indonesia. Tokoh utama yang digambarkan adalah Encek, seorang pria tua yang dibayangi trauma mendalam bukan hanya secara psikologis tetapi juga efek akibat diskriminasi dan tekanan dari identitas etnisnya.

Encek lahir Tahun 1950-an sebagai yatim piatu berlatar keluarga yang miskin. Orang tuanya membuang Encek ke panti asuhan yang menampung anak-anak beragama Islam. Dia tak pernah tahu ayah dan ibunya.

Encek yang beranjak remaja melarikan diri dari panti asuhan menuju pasar di suatu kota. Encek yang buta huruf karena tidak sekolah bekerja sebagai kuli panggul. Disanalah ia bertemu dengan Encim, seorang perempuan anak pedagang beras Tionghoa.

Mereka akhirnya menikah namun tanpa restu orang tua, melalui kisah Encek, penonton diajak menyelami realitas dan tantangan berat yang dihadapi oleh komunitas Tionghoa di Indonesia.

Film ini mengupas tuntas bagaimana trauma generasi yang menghantui sejak masa lalu politik bergolak pun berusaha untuk diputus dengan keberanian mengubah nasib diri dan keluarga.

Ismail Basbeth, sang sutradara, menegaskan bahwa tujuan penceritaan RBMT adalah mengajak penonton untuk memahami dan merasakan pengalaman yang sangat personal sekaligus juga menggambarkan suatu realita sosial yang jarang tereksplorasi dalam perfilman Indonesia.

Cerita ini menjadi jendela bagi publik untuk dapat menyentuh sisi kemanusiaan dan sejarah yang dialami komunitas minoritas, sekaligus menyoroti isu diskriminasi yang masih relevan hingga kini.

"Kami ingin menyentuh dan mengajak penonton agar mampu memahami apa yang terjadi dalam hidup Encek, dalam sebuah cerita tentang trauma generasi yang berhasil diputus oleh seseorang yang berani mengubah nasib diri dan keluarganya," ujar Basbeth.

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement