Mantan personel One Direction, Zayn Malik baru baru ini menggemparkan penggemar saat ia menggunggah potongan lagu rap terbarunya berjudul "Fuchsia Sea." ke Instagram pribadinya pada Sabtu, 5 Juli 2025.
Mengutip siaran People pada Minggu, 6 Juli 2025. Lewat lagu terbarunya tersebut Zayn menyinggung masalah rasisme yang kemungkinan dia hadapi semasa menjadi anggota One Direction.
"Cause I worked hard in a White band, and they still laughed at the Asian (Aku bekerja keras dalam band kulit putih, dan merea masih menertawakan orang Asia)." petikan liriknya yang diungga Zayn Malik.
Tidak hanya itu, di potongan lirik lainnya, Zayn juga menulis, “I was always conscious of every conversation, every connotation, the way you look at me like you know what I’m talking about.” (Aku selalu peka terhadap setiap obrolan, setiap arti tersembunyi, dan cara pandangmu yang seolah tahu maksudku).
Respons penggemar terhadap lirik tersebut beragam; banyak yang menunjukkan dukungan penuh terhadap pengungkapan Zayn, menilai ini sebagai langkah penting dalam menggugah kesadaran tentang rasisme dalam industri musik.
Di media sosial, banyak juga netizen yang mendiskusikan dan mengaitkan lirik tersebut dengan pengalaman pribadi mereka sendiri, menciptakan ruang bagi percakapan yang lebih luas tentang isu diskriminasi.
Satu Dekade Hengkang Dari One Direction
Tema diskriminasi yang muncul dalam lagu “Fuchsia Sea” selang beberapa bulan ia merayakan 10 tahun hengkangnya ia dari One Direction pada Maret 2015 silam. Ia keluar dari grup tersebut setelah lima tahun bersama Harry Styles, Louis Tomlinson, Niall Horan dan mendiang Liam Payne
Zayn tampil membawakan lagu lama mereka, "Night Changes", dalam konser Stairway to the Sky di Mexico City pada Maret lalu.
Dalam pengumuman mengenai keputusannya meninggalkan One Direction, dia mengungkapkan bahwa dia keluar dari band karena ingin menjadi pria normal berusia 22 tahun yang bisa bersantai dan menikmati waktu pribadi tanpa sorotan.
Saat di One Direction Zyan Malik menjadi satu-satunya personel berdarah Asia dalam grup tersebut. Ia dibesarkan sebagai Muslim oleh ayah asal Pakistan dan ibu asal Inggris.
