Korea Selatan baru saja menyaksikan pencabutan darurat militer yang diumumkan oleh Presiden Yoon Suk Yeol. Keputusan ini diambil setelah Majelis Nasional memberikan suara untuk mengakhiri keadaan darurat tersebut. Tindakan ini diambil sekitar enam jam setelah Yoon mengumumkan pihak oposisi berusaha melumpuhkan fungsi negara melalui kegiatan yang dianggapnya anti-negara.
Konflik ini berawal dari keputusan yang diusung oleh Partai Demokrat yang merupakan oposisi mengajukan rancangan undang-undang anggaran yang diperkecil ke komite anggaran parlemen. Tak sampai situ saja, Partai Demokrat juga mengajukan mozi pamkzulan terhadap auditor negara dan jaksa penuntun umum.
Presiden Yoon mengklaim bahwa kondisi darurat diperlukan untuk melindungi negara dari ancaman komunis, khususnya dari Korea Utara. Pengumuman tersebut ditanggapi dengan skeptisisme oleh banyak pihak, baik di dalam negeri maupun komunitas internasional.
Dalam pidatonya, Presiden Yoon menuduh oposisi berusaha melumpuhkan negara dengan berbagai cara. Dia mengklaim bahwa tindakan ini menjadi ancaman bagi tatanan konstitusi dan keamanan negara. Selama pidato, Yoon menyebut adanya ancaman dari Korea Utara yang berusaha menyusup ke dalam proses politik nasional dan berdampak negatif terhadap stabilitas negara.
Namun, sekitar 6 jam berselang, lebih tepatnya pada pukul 4.30 pagi waktu setempat (2.30 WIB), Kabinet Yoon menyetujui usulan untuk menghentikan penerapan darurat militer tersebut. Tuduhan Kepala Negara Korsel atas usaha oposisi melumpuhkan pemerintahan melalui aktivitas anti-negara ini dianggap tidak berakar.
"Pukul 11 malam tadi, saya mendeklarasikan darurat hukum militer dengan tekad bulat saya untuk menyelamatkan bangsa menghadapi kekuatan anti-negara yang berusaha melumpuhkan fungsi penting negara dan tatanan konstitusional demokrasi bebas," kata Yoon, dikutip dari Antaranews.
“Namun, ada tuntutan dari Majelis Nasional untuk mencabut darurat militer, (saya) telah menarik pasukan yang dikerahkan untuk melaksanakan urusan darurat militer," tambahnya menjelaskan.
Warga Menggelar Protes Setelah Pengumuman Itu
Setelah pengumuman pencabutan darurat militer, ribuan warga Korea Selatan berkumpul di luar gedung Majelis Nasional untuk menggelar protes. Mereka mengekspresikan kekecewaan dan kemarahan terhadap keputusan yang diambil oleh Presiden Yoon. Tuntutan mereka semakin keras, menyerukan agar Yoon Suk Yeol ditangkap karena dianggap melanggar konstitusi.
Warga dari berbagai daerah berbondong-bondong untuk melakukan unjuk rasa di luar Majelis Nasional. Ratusan pengunjuk rasa tersebut meminta polisi membuka gerbang sejak pukul 22:22 waktu setempat usai pengumuman darurat militer. Banyak warga Korsel yang tidak percaya bahwa di zaman sekarang seorang pemimpin negara masih meutuskan untuk menggunkana darurat militer dalam menyelesaikan masalah negara.
Aksi demonstrasi ini menarik perhatian media internasional, dengan banyak outlet meliput perkembangan pasca pencabutan darurat militer. Beberapa pengunjuk rasa mengatakan bahwa tindakan Yoon merupakan penyalahgunaan kekuasaan dan tidak sesuai dengan prinsip demokrasi yang dianut negara tersebut. Dalam suasana yang tegang, kepolisian terlihat menjaga jalur masuk ke gedung parlemen, sementara demonstran berusaha mengekspresikan suara mereka.
Pihak AS Mengekspresikan Kekhawatiran
Pihak Amerika Serikat juga mengekspresikan kekhawatiran mendalam terhadap situasi yang berkembang di Korea Selatan. Mereka menyerukan perlunya penyelesaian secara damai dan konstruktif untuk semua perselisihan politik yang terjadi. Penekanan pada pentingnya penyelesaian damai dikeluarkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri AS, Kurt Campbell, melalui beberapa pernyataan publik.
Dia menekankan bahwa aliansi Korea Selatan-AS tetap kuat, tetapi menekankan harapan agar konflik dapat diselesaikan sesuai dengan aturan hukum dan prinsip demokrasi. Menurutnya, penting untuk menghindari tindakan-tindakan yang dapat menambah ketegangan dan merugikan stabilitas kawasan, terutama di tengah ketegangan yang terus berlangsung dengan Korea Utara yang memiliki arsenal nuklir.
