Advertisement

Suintrah, Film Pendek Terbaik FFI 2024 Akan Tayang di JAFF 2024

04 December 2024 12:00 WIB

thumbnail-article

Poster film "Suintrah" karya Ayesha Alma Almera. (Arsip FFI) .

Penulis: Nuha Khairunnisa

Editor: Nuha Khairunnisa

Suintrah, film pendek yang meraih Piala Citra kategori Film Cerita Pendek Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2024, akan tayang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-19. 

Suintrah akan diputar pada program Light of Asia 2 pada hari terakhir festival, Sabtu, 7 Desember 2024. 

Light of Asia merupakan program spesial yang menampilkan film-film pendek yang masuk ke dalam nominasi Blencong Awards. Film yang masuk ke dalam program ini ditampilkan dalam bentuk kompilasi.

Suintrah akan tayang bersama lima film pendek lainnya yakni Distant (India), Have I Told You Lately (Korea Selatan), Into The Emerald Sea (Jepang), The Nature of Dogs (Hong Kong), dan You Are My Favorite Dad (Thailand).

Mari berkenalan lebih lanjut dengan film Suintrah.

Tayang perdana di Busan International Film Festival 2024

Film Suintrah yang disutradarai oleh Ayesha Alma Almera langsung tayang di kancah internasional untuk pemutaran perdananya, tepatnya di Busan International Film Festival 2024 yang digelar Oktober lalu. 

Tak cuma diputar, Suintrah juga berkompetisi di program Wide Angle bersama sejumlah film pendek internasional lainnya.

Suintrah hadir dengan bantuan pendanaan dan pendampingan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2023. 

Film ini diperankan oleh Freddy Rotterdam, Dinu Imansyah, Alex Suhendra, Landung Simatupang, Maychelina Anis, dan Nizar Azza Faezya Tama.

Sinopsis film Suintrah

Dalam durasi 21 menit, Suintrah bercerita tentang Jor dan anaknya, Nayak, yang pindah ke sebuah desa bernama Suintrah.

Desa itu memiliki aturan turun temurun yang sangat aneh. Di Desa Suintrah, orang tidak boleh berbicara secara lantang. Kecuali tangisan, jeritan, atau yang sejenisnya, tidak boleh ada kata-kata yang terlontar dalam volume normal, apalagi tinggi. 

Mereka yang tidak menaati peraturan ini akan mendapatkan konsekuensi mengerikan, berupa hukuman tak terlihat yang akan membuat mereka lenyap.

Sementara Jor mematuhi aturan ini, Nayak, sang putra, langsung menentangnya. Nayak berpendapat bahwa kebebasan bersuara adalah haknya. Tak pelak, hilanglah Nayak, membuat Jor kalang kabut. 

Demi mencari putranya yang hilang, Jor pun berteriak lantang menyerukan nama Nayak. 

Film ini mengangkat isu represi dan pembungkaman suara yang berangkat dari sebuah aturan. Keputusan Nayak untuk memberontak menggambarkan keberanian dalam menggugat kekuasaan yang seolah tak tersentuh.  

 

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement